Optimis Itu Manis

 

       Malam kian larut. Carut marut hari telah menyita diri ini dalam sebuah episode indah rangkain kisah hidup manusia. Bintang gemintang mengumpatku dari balik awan kelam di langit malam. Aku hanya menatap lelah dan enggan berujar. Boleh ku taksir, malam ini akan turun hujan. Hujan yang telah menjadi harapan karena kemarau panjang telah membuat orang – orang mengeluh akan sulitnya mandi sampai kegerahan akibat panas yang menggeliat. Lagi – lagi malam selalu menarik ku pada rangkaian mimpi yang mesti ku gapai! Apa mata ini masih bisa tertutup damai? Kala mimpi masih jauh api dari panggang?

       Di kamar ini tengah tekapar setengah rasa mual, mungkin akibat lapar tapi karena keburu tepar jadi enggan rasanya menyantap makan malam. Biarkan jari jemari ini menari mengikuti irama hati yang kini tengah riang bukan kepalang karena apa? Entahlah. Tanyakan saja pada kue kembang goyang sisa kue lebaran ciri khas suatu daerah terpinggirkan.

          Menit seakan berlarian, mengejar sisa waktu malam ini dengan santai dan  juga tenang. Di ruangan ini, segala peluh dan lelah perlahan musnah.  Sekalipun bukan sebuah tempat yang mewah dengan kelegaan luas atau banyaknya pernak dan pernik menghias, tapi tetap sejahtera berada di dalamnya, nyaman sentosa. Setelah lama – lama berasa di luar, dengan setumpuk aktifitas, segudang rutinitas dan sesibuk tanggung jawab serta kegiatan yang mengikat karena pahitnya hidup terkadang sebatas rutinitas. Akhrinya, Bisa menyelonjorkan kaki. Menenangkan pikiran yang kalut karena sebongkah asa yang belum pecah masih menjadi segumpal batu yang terkadang masih patuh pada nafsu. Setidaknya lebih segar dengan motivasi dari dalam diri. Diri…oh.. diri ini, tak kan ku biarkan mengiba pada takdir karena hidup adalah perjuangan!

         Jam segini? Mustahil membuat waktu berhenti walau semenit! Dinding – dinding biru di kamarku seakan tengah mendelik melihatku tengah asik. Aku bukan tengah menunggu hujan runtuh. Pasrah saja hujan tiada. Sang kuasa berhak menentukan segalanya. Manusia hanya wajib bersyukur bukan kufur lantas tidur dengan mendengkur! Ingin membunuh ngantuk ini! Tapi kalau bukan diri sendiri yang peduli pada jiwa dan raga ini? Akan ku lupakan rasa ngntuk itu!

            Esok adalah hari dimana aku harus lebih baik lagi! “Tiada hari tanpa peningkatan kualitas hidup”. Kalau hidup kita hanya sebatas keadaan pada hari ini sama dengan hari kemarin, maka kita termasuk orang yang rugi. Pastinya yang kita ingin kan adalah keadaan hidup  yang hari ini kualitas hidupnya lebih baik dari hari kemarin maka kita termasuk orang beruntung!

       Kan kusaksikan saat mentari tak sabar menyinari bumi dan mengucap cinta pada semesta. Kan ku lukis indah hari ku dengan cita dan cinta sebagai wujud sembah pada Sang Kuasa. Yang menciptakan makhluk bernama manusia sebagai karyaNya yang sempurna dibandingkan makhluk lainnya.

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s