Awal Cerita “Oryza Putri Rachmah”

“Ooo…………..”.
Teriakan itu seakan memanggil ??

Ku menoleh kebelakang, ku dapati seseorang yang tidak begitu ku harapkan.
“Gak denger y? Make jilbabnya terlalu rapat sich? Ketutup banget dhe kupingnya ? Dari tadi tau dipanggillin !”

…”Ooooh,, Maksudnya manggil siapa?” Tukas ku ketus

“Ya, kamu lah! “

“Ooh, ” Aku semakin gerah kerasa

“Ooo, sinian dikit napa! Ada yang penting nie yang mau diomongin ?”

“Penting buat kamu belum tentu penting buat aku y?!”

“Kok gitu sich?”

“Harus berapa kali sich? Kaya nya udah teramat sangat sering banget dhe
…dikasih peringatan ! ‘jangan pangil O’ !” Kalo masak air, udah mendidih kali.  Amarah sepertinya sudah pantas untuk ku keluarkan pada satu orang ini.

“Udah biasa kan!”

“Ya, jangan dibiasaain!!

“Apa salahnya sich? lagipula nama lo terlalu panjang buat w panggil. Biasanya kan emank semua orang panggil nama, ya. Huruf depan atau huruf belakang nya aja! kaya w contohnya, anak – anak manggil w Var ato Dov, kaya nya jarang banget yang panggil nama lengkap w Dovar?. So, nama lo cukup keren kok di panggil Oo…, karena nama Riza udah kebanyakan!

” Oke, Kita masuk ke intinya,”

“Eh belum ada kesepakatan y , aku  mau ngomong apa gak ?!” Potong Ku,

“Nach itu udah ngomong. Lagipula dari stadi kita udah ngomong tinggal pada intinya aja,,!”

Walaupun kelihatanya gak pernah serius, dan aku akan semakin males nanggapin orang ini yang gak akan pernah bisa diem sebelum diladenin, aku cukup diam.

“Oo…!”

“Jadi begini….., Eh, tapi sebelumnya. Perasaan kerudung yang lo pake semakin lebar & panjang aja? Bisa buat ngumpet tuch!!”

Tuch kan…!! Ngerti kan sekarang ada  yang tidak mengenakan ketika dia ada. Bukan hanya sekedar bulu kuduk merinding! aku tidak pernah mengharapan orang ini hadir atau sekedar numpang lewat dalam kehidupan ku. Ngeselin bin nyebilin.

Pandangan mata nya tak pernah lepas dari wajahku, seolah puas dengan iringan tawa yang amat geli ketika dia berhasil mengangkap kekesalan diraut wajah ku yang tak bisa ku sembunyikan.

Sudah cukup!!! Aku mantapkan diri untuk meninggalkan nya yang masih asik dengan sesuatu yang tidak sama sekali ku anggap lucu !!!. Waktu ku seakan terbuang sia – sia menanggapi Dovar Satria Wiguna.

Semoga aku bisa tetap istiqomah, sebagaimana yang diucapkan oleh sahabat ku,

Dari Abu Amr atau Abu Amrah ra; Sufyan bin Abdullah Atsaqafi r.a. berkata, Aku berkata, Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku dalam Islam satu perkataan yang aku tidak akan menanyakannya kepada seorangpun selain padamu. Rasulullah menjawab, “Katakanlah, saya beriman kemudian istiqamahlah.” (HR. Muslim)

***

Oryza. Putri. Rachmah, Itu bukanlah nama  tiga orang tapi milik satu orang gadis. Oryza Putri Rachmah . Putri, begitu biasa ia dipanggil, sedikit orang memanggilnya Oryza, dan belum ada yang memanggilnya Rachmah. Pabila dipenggal dari setiap kata dari nama Oryza Putri Racmah , barulah dapat dipahami arti dari nama gadis bermata bening ini. Oryza,  dari bahasa Latin yang artinya padi, hanya kutipan dari ‘Oryza’ Sativa L Mengambil dari filosofi padi itu sendiri, bahwasannya sepiring nasi sebelum disantap, dimulai dari proses  yang cukup panjang. Padi tertanam ditempat yang penuh lumpur. Setelah padi menguning dan telah diberi pupuk, para petani mulai memanennya dengan proses  selanjutnya dipukuli kesebuah papan agar bulir – bulir padi rontok, kemudian padi akan dibawa dan dituang disebuah lesung untuk sekali lagi dipukuli oleh alu – alu. Dan dari alur yang melelahkan itu padi telah dipenuhi sesuatu yang berguna dan dibutuhkan banyak orang. Yang pada akhirnya menjadi makanan pokok manusia, khususnya di Indonesia.

            Rachmah adalah nama dari ibunda Putri. Sang ibu sengaja menyematkan namanya kepada buah hati terkasih yang juga merupakan bagian dari doa terindah yang dipersembahkan orang tua kepada anaknya.   Oryza Putri Rachmah. Harapannya, nama tersebut bisa menjadi kekuatan bagi putrinya yang kelak dalam perjalanan hidupnya pasti akan melawati aral – rintangan dalam menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.

Sederhana, dimana setiap orang tua menginginkan anaknya berguna bagi kedua orang tua, agama, dan bangsanya. Sesederhana pikiran ibunda Putri yang menginginkan anaknya laksana padi yang dapat mensejahterakan banyak orang.

“Sebaik – baiknya manusia diantara kalian adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain” (H.R. Bukhori).

                                                                        ***

Seorang Putri melenggang santai di pelataran jalan. Pepohonan rindang menaunginya dari terpaan langsung sang raja siang. Langkah kaki yang maju tak ragu. Sesekali menengok ke kanan dan kiri, hanya satu – dua sepeda motor melintas.
Jalanan komplek yang terbiasa seperti ini. Sepi.

Matahari berada tepat diatas kepala. Menaiki singgasana tertinggi membuatnya perkasa di tengah siang yang telah membuat banyak manusia dibumi berpeluh keringat, tak terkecuali Putri yang menyusuri sepanjang jalan ini untuk bisa naik angkot di ujung jalan.

Tak ada yang salah dengan bola cahaya itu! Putri mencoba menerobos sinarnya. Entah sekedar iseng atau memang merasa tertantang untuk melihat wujud sebenarnya dari dia yang begitu seolah berkuasa atas siang yang diciptakan Tuhan dengan begitu sempurna. Putri memulai dengan mengedip- ngedipkan kelopak matanya sebagai pemanasan. Mengangkat kepala tinggi – tinggi, lalu mebuka mata! menatapnya. Usahanya cukup maksimal dengan bertahan beberapa detik.

Ooh, Sepertinya Putri memang nekat !

Alhasil pandangannya kabur, Putri menutup matanya cukup lama dengan posisi tetap berdiri. Mencoba membuka matanya pelan – pelan, malah senyum membias dibibir tipisnya, seolah menertawakan dirinya sendiri dengan tingkah nya yang terbilang aneh.

Ketika pengelihatanya telah kembali normal Putri dikagetkan dengan pemandangan yang membuatnya merasa sangat aneh atau ajaib karena ada dua orang di sana yang seolah memandanginya penuh delik?

“Aaakhhhh,,,, ??!”

Putri berteriak..????!!

‘Kenapa bisa ada lubang di tengah jalan kaya gini sich?’ Gerutu Putri! Sudah ada di dalam lobang. Ya, Putri terperosok ke bawah!

“Mbak….!!!? Mbak baik – baik aja kan?”

Putri mengangkat wajahnya. Salah satu dari dua orang itu memastikan.

Bukan sakit yang dirasa Putri atas beberapa goresan luka di tubuhnya. Tetapi MALU !!!

Matahari seakan menertawakannya atas kekalahan Total yang didapat Putri ! Membuat wajah Putri lebih merah dari kepiting rebus,,,

Ooowh,,,, !!!

“Mbak….!!!”

Putri tidak berani mengangkat mukanya kembali.

Kedua laki – laki itu seolah sedang berdiskusi bagaimana membantu seorang gadis yang tengah memerlukan bantuan ini. Tetapi Putri tak lagi berharap ditolong.

Mata Putri memastikan siapa dua orang laki – laki ini,

Mereka ?

“Rian, Ane cari sesuatu dulu !” kata Faiz. Rian meng-iya-kan

“Tunggu dulu yach mbak, temen saya lagi cari sesuatu dulu untuk ngeluarin mbak!

Putri hanya berani menjawab dengan anggukan. Ya, Keluar dari lubang buaya ini dengan segera! Hati Putri berbicara.

Tidak lebih dari beberapa menit Faiz kembali dengan membawa sebatang kayu.

“Pake ini aja Ian! Ane rasa bisa, Insya’allah.” Dengan sigap mereka mencoba menolong dengan memberikan sedikit arahan terlebih dahulu.

“Maaf , pegang ini aja ya mbak !?. “

Rian dan Faiz memegang kayu itu, yang dirasa cukup kuat dan panjang sehingga bisa menjadi alat bantu untuk Putri agar dapat naik dan pelan – pelan keluar dari lubang!

“Ahmdulillah,, “ Ucap Faiz penuh syukur diikuti Rian. Putri hanya bisa mengucap di dalam hati.

“Sepertinya Luka – lukanya banyak mbak! Mbak ngerasa kesakitan banget yach?” tanya Rian yang memperhatikan Putri yang sedari tadi hanya merunduk?

Sedangakan Ikhwan yang satu nya lagi seolah sedang berfikir dan menarik kesimpulan dengan bergumam,

“Putri yach,? “

Akhirnya dia ngenalin aku juga. Tapi kenapa di stuasi seperti ini??!!

“Putri ? Tadi ente panggil dia. Kenal yach?” tanya Rian

“mmh, iya. Ini Putri kan?  ”

“Masa sich?” kata Rian tak percaya

Putri tidak bisa lagi menyebunyikan wajahnya. Hanya ekspresi yang sedatar mungkin yang bisa ia tunjukan kepada kedua orang yang telah baik hati ini memenolongnya.

Gadis mungil ini mencoba berdiri berusaha meyakinkan kedua ikhwan ini dan dirinya bahwa tidak ada luka yang parah. Padahal dibalik balutan baju muslimah nya, dirasa sakit. Hanya goresan tipis melukai wajahnya yang tidak dapat disembunyikan.

TO BE CONTINUE…..

Iklan

Satu pemikiran pada “Awal Cerita “Oryza Putri Rachmah”

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s