Jalan Kaki! Temukan Hikmah yang Berserakan di Jalan…..

Rasanya ingin langsung berada dirumah! tidur paling tidak merebahkan diri tapi sayangnya saya tidak punya pintu kemana saja, mmmh….! Hari ini subhanllah, minggu perjuangan untuk tetap bekerja di kantor dan menyelesaikan setumpuk kerjaan, selesai bekerja masih harus menyehatkan hati dengan mengikuti kajian. Masih tetap full dong semangat saya! On terus bahkan, insya’allah.

Saya mengutip perkataan Om Mario Teguh

“Sampai monyet bertelur!”  Kata saya sewaktu seorang teman melontarkan pertanyaan

“Sampai kapan kita musti sabar?”

Saya jawab gitu malah ketawa dia sampai gigi gerahamnya yang putih terlihat. Saya pun ikut tersenyum, dia lebih paham daripada saya bahwa ‘sabar itu gak ada batasnya’ terlebih lagi setelah ia membaca karya besar Ibnu  Jauzi sabar dan bersyukur.

            Saya membuka handphone 1 miscall, ‘Gak jelas!’ gerutu saya dalam hati. Pukul 8 malam, Alhamdulillah selesai, di kepala saya sudah terbayang – bayang kasur dan guling tersayang, saya lebih cepat melangkahkan kaki dan teringat uang di dompet. Astagfirullah, gak ada uang receh 2 ribu gak lagi – lagi  deh diomelin supir angkot sodorin uang 50 puluhan. Dan emang lagi gak mau beli apa – apa, masa beli permen minta kembalian 45 ribu!  Bisa lebih dasar semprotan tukang warung daripada abang supir angkot. Dan akhirnya…. Saya tersenyum kecut pada diri sendiri, ‘Ini kesempatan untuk….JALAN’ yap! Saya jalan aja.

Sebenarnya ada saja alasan saya memilih untuk jalan, bukan hanya irit atau sayang untuk ngeluari uang tapi berjalan kaki adalah pilihan yang  menyenangkan buat saya, coz banyak hal yang bisa saya dapatkan dengan berjalan kaki contahnya saja ada pemandangan yang membuat diri saya merasa sangat kecil ketika melihat seorang ibu menggendong bayi dan menggandeng kedua anak nya, ditangan kanannya memegang tangan anak perempuan yang terlihat lebih besar dibandingkan bocah laki – laki ditangan kirinya. Wajah mereka terlihat lelah terlebih si ibu yang jauh lebih lusu dibandingkan anak – anaknya, penat seakan membebani perempuan paruh bayah itu. Dengan sabarnya mereka menunggu jeda untuk menyeberang jalan, mobil dan motor masih saja lalu lalang hampir tak memberikan kesempatan untuk mereka menyeberang, Aku melihat sang ibu memandang kedua anaknya dengan mata seolah – olah berkata, ‘sabar y sanyang!’ .

 Di sisi lain mata saya menangkap sebuah gerobak berisikan 2 anak perempuan, yang satu terlihat anteng menyedot air putih dari botol susu yang asik dia pegangi, yang satunya lagi terlelap dalam tidur, saya jadi langsung berfikir ‘bisakah ia lelap tidur dalam gerobak yang terus berjalan seperti itu?’  ternyata dalam jarak yang tidak terlalu jauh ada satu lagi gerobak yang kali ini didorong oleh seorang laki – laki, isinya pun bermacam – macam dominan kardus – kardus dan seorang anak laki – laki yang tengah menyandarkan dagu pada tangannya dengan mata memandang langit malam. Aku pikir, ‘mungkin anak itu tengah menghitung bintang’.

Saya yakin bahwa perempuan sebelumnya yang mendorong gerobak tadi adalah istrinya dan ketiga anak itu adalah anak – anak mereka.

Saya jadi teringat sebuah hadits, Pandanganlah orang lain yang  lebih rendah daripadamu, jangan memandang kepada orang yang lebih tingggi daripadamu, karena yang demikian itu lebih baik, agar kamu jangan memperkecil nikmat karunia Allah yang telah dianugrahkan kepadamu. ( HR. Bukhori Muslim).

Terlebih lagi materi kajian yang saya ikuti tadi tentang ’sabar dan bersyukur’ Saya mesti sabar untuk bisa sampai rumah bukan malah berangan – angan punya alat  doraemon  bukan kah kita jauh lebih beruntung dibandingkan nobita! Kita punya Allah yang lebih tahu kebutuhan kita bukan sebatas keinginan yang mungkin malah akan membuat kita menjadi orang – orang yang kufur nikmat ‘astagfirullah’ . Untuk dunia yang nilainya tak lebih dari sehelai sayap nyamuk ini sekali lagi kita mesti bersabar bertebaran di muka bumi ini untuk mencari nikmat lain yang telah Allah persiapakn bagi hambanya yang terus berikhtiar mencari keberkahan dan menemukan hikmah, emas yang hilang dari umat islam !.

Saya masih terus berjalan, nyari gang tikus dan kebetulan lewat rumah salah satu teman saya waktu SMK yang sudah hampir setahun tidak bersua tapi maaf aja kalau saya agak berat untuk mampir pasalnya dia seorang ikhwan!. Tapi kaki saya tiba – tiba berhenti di depan rumahnya, saya melihat si Sandy yang  dulu sering dibilang mirip Ikhsan Idol yang lebih menggetkan lagi dan membuat mata saya mendelik adalah seorang perempuan yang perawakannya dari belakang sangat – sangat saya kenal, itu!?

“ISMA…” panggil saya

Saya langsung memeluk dan mencium pipi sahabat saya yang sangat jarang saya temui itu,

                “Kangen!” ucapnya, dan sikapnya pun menunjukkan demikian

Setelah asik meluapkan segala rindu, dia menyodorkan surat undangan

                “Subhanallah, mau nikah bu..! Barakallah y”

Dia tersenyum manis sebelum mengatakan,

                “Pas banget sich, w tuch bingung mau ngasih undangan nikan w ke elu! Eeh, emang dasar kita malah ketemu disini!”

                “Rencana Allah bu, minggu depan ini. Wah, insya’allah saya datang buu,”

                “MESTI!” Tukas nya

                “Eh, dari mana? Tumben lewat sini!” kata Sandy yang kaya nya emang daritadi mau ditanya. Hehe

                “Iya.  Gara – gara gak ada ongkos 2 ribu jadi saya mau jalan!” sambil nyengar – nyengir

                “HAH, Jalan? Terakhir lo bilang rumah loe di daerah johar, jalan gitu dari sini?!” Nampak gak peercaya, saya menganggugkan kepala. Sandy malah menggelengkan kepalanya.

                “Gak berubah emang miss Why kita ini!” sergah Isma nyebut – nyebut panggilan sayang mereka ke saya waktu SMK  Miss why! Karena saya kebanyakan nanya – nanya  dengan hal – hal yang saya belum tahu atau belum paham sampai kadang mereka memilih untuk ninggalin saya kalau mereka pada gak bisa jawab!

                “Tapi hikmah tuch di balik uang  2 ribu! Kan gara – gara itu kita bisa kasih undangan langsung ke-orang-nya!” Kata Arif calon suami isma.

Kita semua jadi senyum – senyum.

                “Bener tuch!” saya meng-iya-kan

                “Bener nie mes, lo mau jalan!”

                “IYAH!” ujar saya mantap!

 

               

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s