PENGEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM DI PESANTREN

Pesantren merupakan system pendidikan yang pertama dan tertua di negeri kita tercinta ini. Pesantren sebagai lembaga yang mengiring dakwah Indonesia memiliki presepsi yang plural. Pesantren bisa dipandang sebagai lembaga ritual, lembaga pembinaan moral, lembaga dakwah dan yang paling popular adalah sebagai institusi pendidikan islam [i] Dalam model institusi  pendidikan pesantren terdapat sifat keislaman dan ke-Indonesia-an yang mencerminkan nilai – nilai kebangsaan kita yang apa adanya. Dalam ke Indonesia-an pesantren yang sederhana itulah justru menjadi magnet tersendiri di mata masyarakat dan sampai sekarang pesantren merupakan salah satu pilihan model pendidikan yang diminati oleh rakyat. Sebagai lembaga pendidikan pesantren memiliki nilai strategis dalam pembangunan masyarakat  kearah yang lebih baik dalam pengembangan diri sebagai warga negara dan  pribadi shaleh yang men-shalehkan. Di Indonesia pada masa ini terdapat bentuk, system dan metode pesantren yaitu pesantren salaf yang mencerminkan kesederhanaan secara komprehensif dan kedua pesantren gontor yang mencerminkan ke-modern-an terutama dalam system managemen maupun sarana prasarana. Dalam hal ini, Gontor telah berani menunjukan peradaban yang lebih modern atau maju. Tapi  bukan berarti tidak ada pesantren yang menggabungkan keduanya atau mengkombinasikan mazhab gontor dan salaf sekaligus. Sekarang ini banyak model pesantren yang disajikan sesuai kebutuhan masyarakat. Disisi lain pesantern juga harus mengikuti silabus. Depag atau Depdikbud, mengkolaborasikan kurikulum yang telah ditentukan pemerintah.

Berdasarkan pemerintah Departemen Agama telah mengeluarkan kebijaksanaannya dalam pendidikan, yaitu dengan SK Menag tentang penyelenggaraan pendidikan agama. Maka berdirilah MI, Mts, Madrasah Aliyah dan IAIN dengan tujuan  dapat mencetak ulama-ulama yang dapat menjawab tantangan zaman di era globalisasi ini dan dimasa yang akan datang juga memberi kesempatan kepada warga Indonesia yang mayoritas muslim mendalami ilmu agama. Ijazah pun telah disetarakan dengan pendidikan umum, lulusan madrasah tidak akan mendapatkan kesulitan untuk melanjutkan ke sekolah umum setingkat lebih atas ataupun siswa madrasah dapat berpindah ke sekolah umum yang setingkat sesuai dengan SK bersama tiga menteri (Menag, Mendikbud, Mendagri No. 6 tahun 1975”Agama”, No. 037/U/1975 “P dan K” dan No. 36 tahun 1975 “Dalam Negeri” tanggal 24  maret 1975. Dengan demikian lulusan madrasah disetarakan dengan lulusan sekolah umum negeri dan berlaku untuk madrasah yang ada di dalam lingkungan pondok pesantren maupun di luar pondok.

 Ada yang sangat disayangkan memang dengan omongan sumbang mengenai pesantren diantaranya mutu pengajar dan materinya, hasil yang didapat setelah siswa keluar dari pesantren atau masa depan setelah kelulusan yang dianggap tidak produktif, serba tanggung. Hal ini terbukti masih dominannya lulusan pesantren dalam soal keagamaan., menjadi seorang ulama pun tidak, profesional pun tidak. Keputusan tiga menteri pun dianggap sebuah upaya pengikisan Islam dan keilmuannya melalui jalur pendidikan. Sehingga pada waktunya nanti Indonesia akan mengalami kelangkahan ulama, kita bisa lihat sekarang untuk pengertian ulama saja telah dipersempit menjadi orang yang sekedar tahu atau sedikitnya paham tentang agama. Pahit memang menelan kenyataan bahwa Para orang tua lebih bangga menyekolahkan anak-anaknya di sekolah-sekolah umum. Alasannya sederhana, dari lulusan umum saja sulit mencari pekerjaan  apalagi pesantren, kurang lebihnya begitu anggapan kurang baiknya.

Mengenai ketidakseimbangan perhatian yang diberikan pemerintah kepada pondok pesantren dalam hal pengelolaan yang dibedakan yaitu pendidikan formal di bawah departemen Pendidikan Nasional sedangkan ponpes di bawah Departemen Agama. Dalam hal anggaran jelas, mayoritas anggaran pendidikan larinya ke pendidikan formal. Bukankah ini semakin mengecilkan ponpres sebagai pendidikan  alternative. Akan tetapi nilai lebihnya bahwa pesantren  bisa lebih independent mengembangkan pendidikannya.

Dalam buku “Kapita Selekta Pendidikan Islam karya H. Muzayyid Arifin” Sejak II Pemerintah c.q. Departemen agam dibantu oleh beberapa departemen lain telah menetapkan kebijakan teknis pembinaan pondok pesantren yang menyangkut peningkatan mutu tertuju kepada dua bidang kemampuan, yaitu pertama kemampuan dalam ilmu pengetahuan agama secara teoritis dan praktis. Kedua kemampuan keterampilan dan kejuruan. Usaha peningkatan mutu tersebut dituangkan ke dalam program pendidikan yang tercangkup di dalam lima komponen peningkat, yaitu pertama peningkatan dalam pendidikan dan pengajaran agama dengan system dan metode yang telah ada ditambah dengan metode lain yang lebih efektif. Kedua kepramukaan yang mendidik para santri benar – benar mampu menghayati kenyataan hidup dalam masyarakat sebagai warga Negara Indonesia yang bertanggung jawab terhadap kesejahteraan umat dan bangsa. Ketiga ketiga kesehatan dan olahraga agar para santri benar – benar mampu memahami dan mengamalkan ajaran agama tentang hidup sehat rohaniah dan jasmaniah sesuai dengan ilmu pengetahuan modern. Keempat seni budaya sebagi manifestasi rasa keagamaan yang sehat dan berguna untuk menghaluskan budi serta perasaan sebagai hamba Tuhan, Dengan seni manusia tidak gersang jiwanya dan dengan seni manusia dapat menikmati keindahan hidup beragama. Kelima keterampilan dalam segala bidang pekerjaan yang relevan dengan tugas hidupnya dalam masyarakat. Dengan skill (keterampilan) yang dimilikinya para santri akan mampu bahkan mampu berdakwah dengannya yang hasilnya lebih efektif daripada hanya dengan berkhotbah saja. Dakwah disini action (dakwah bil hal) dalam zaman modern adalah sesuai dengan tuntun masyarakat yang sedang membangun.

Peran pesantren pada saat ini seharusnya mampu berperan penting dalam mendidik dan mecerdaskan masyarakat, anggapan bahwa pondok pesantren hanya sebatas tempat atau sebuah asrama di mana para santri menetap dalam waktu yang telah ditentukan untuk belajar agama yang diberikan oleh seorang kiai, tetapi harus lebih dipahami sebagai suatu lembaga penidikan yang memiliki model pendidikan yang berkarakteristik dengan system administrasi dan pergkembangan pedagogis yang baik serta pengembangan keterampilan para santrinya yang terjamin. Pada era global ini pesantren dianggap kurang mampu menciptakan lulusan – lulusan yang dapat diterima dengan baik di dunia kerja hasilnya sebagian santri setelah lulus dari pesantrennya tidak mampu terserap didunia kerja dan berpenghasilan kurang dari belum lagi, setelah lulus dari pesantren dan kembali terjun kedunia luar sebagian santri dalam jiwanya merasa telah bebas dari segala peraturan dan tata tertib pesantren, hal ini akan membuat mereka akan mudah terpengaruh dengan kondisi yang jauh diluar pesantren yang lebih banyak peraturan dan larangan – larangannya padahal sebenarnya sebagian besar tata tertib itu adalah bagian dari ajaran Islam.

 Oleh karena itu perlu adanya upaya memberi materi Islam secara kaffah, kamil dan mutakamil. Dengan mengkolaborasikan antara pendidikan agama, pengetahuan umum serta keterampilan yang memadai dengan demikian walau dengan segala kesederhanaannya pesantren masih menjadi harapan umat Islam sebagai benteng satu-satunya bagi umat Islam dan kelimiahannya.

           


[i] Pesantren (Dari Tranformasi Metodologi  Menuju Demokrasi Instrusi)  karya Mujamil Qomar; Erlangga, 2006, Jakarta

Iklan

2 pemikiran pada “PENGEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM DI PESANTREN

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s