Perjuangan, Bekerja, Kuliah dan Melawan Ngantuk !!!

 Mengejar waktu. Jam di dinding menunjukkan pukul 4.30. PAS. Komputer sudah mati, berkas – berkas laporan telah selesai dilaporkan dan tersusun rapi di dalam map masuk binder. Saya berdiri, mencantelkan tas di punggung kanan lalu memasukkan kursi kedalam meja. Mata saya kembali memastikan bahwa semuanya telah beres dan rapih kemudian untuk kesekian kalinya menatap jam, ½ 5 lewat 5. Kerjaan udah kelar! Dan saya berdiri di depan meja bos. Seperti biasa ada rasa canggung untuk menegurnya dalam kesibukan itu. Matanya berfokus pada layar computer, dahinya berkerut seakan tengah menguras otak untuk berfikir keras. Serius. Amat serius. Saya bingung untuk sekedar mengatakan

 “ Saya pulang duluan yach pak. Laporan soft copy yang bapak minta sudah ada di data shearing.”

 Dengan senyum yang kaku bos melirik saya dan malah bertanya,

“ kuliah yach?” Suara itu terdengar berat di telinga saya. Dan saya hanya mampu menganggukan kepala. Tanda mengiyakan.

Butuh waktu 5 menit untuk meminta izin, sebenarnya mudah. Karena Bos cukup mengerti! Dan sudah dapat dipastikan bahwa saya telah menyelesaikan semua pekerjaan kantor ketika izin pulang. Entahlah, yang jelas saya harus kuliah. Sekarang!.

Setiap sabtu, kuliah saya mulai lebih cepat 30 menit dari sebelumnya. 4.30.  yach, waktu segitu saya baru keluar kantor. Alhasil saya berjalan nyaris berlari keluar lorong pintu kantor. Seorang satpam menugur saya,

            “Hati – hati neng!”

Tanpa memperdulikannya, saya terus berlari. Menyebrang jalan raya dan bersegera menuju sepeda motor berwarna hijau.

            “Ayo Pak, go to campus!”

Belum juga saya menaiki motor bapak bertanya,

            “ Kenapa sich kalau hari sabtu buru – buru gitu?”

            “Dosennya killer pak, gak boleh masuk kelas kalau lewat dari jam 5 lewat 5. Aku gak mau belajar di luar kelas lagi.!”

            “Kalau gitu ya, pulang aja.”

Saya maklum bapak suka menyuruh saya pulang dibandingkan kuliah, karena bapak pernah bilang, ‘ Selalu melihat kelelahan yang ditutup – tutupi dari saya’ Bapak tahu pekerjaan saya memeres otak sekaligus tenaga secara fisik. Ditambah lagi semenjak bekerja saya lebih mudah nge droup . Tapi saya salalu bilang juga sama bapak.

            “Aku mau kuliah pak!”

Bapak kemudian meng-gas dan melajukan motornya dengan kecepatan medium.

                                                            ***

 

Suara sepatu saya, sekan membuat gaduh seisi kampus, setiap lorong yang saya lewati satu, dua orang menoleh merasa terusik. Kalau begitu saya hanya bisa nyengir.  Kelas saya tepat di depan tangga lantai 2. Saya masih ngos – ngosan. Pintu kelas terbuka, terlihat Selamet tengah mempresentasikan tugas makalahnya,  sang dosen seolah tak melihat saya. Saya gak mau lihat jam. Tapi saya juga takut gak diterima, mata saya menatap tanjam dan lurus  kearah Pak Masnun.

“Saya mau kuliah pak!” mata saya berkata begitu, ketika Pak Masnun melihat saya.

Alhamdulillah, saya mendapat isyarat diperbolehkannya saya masuk.

Saya langsung mencari posisi tepat dihadapan dosen terhalang 1 bangku kosong di depan saya. Dengan seksama saya mendengarkan pemamparan Selamet dan mengikuti diskusi perkulihan kapita selekta. Tanya jawab berlangsung sangat seru, dengan beberapa kali saya menimpali dan memberikan pertanyaan tentang problematika dunia pendidikan islam, sampai Pak Masnun menyudahi sesi diskusi dan Selamet menutup presentasinya. Saya sempat melihat jam di hanphone saya, 5.30.  Perkuliahan belum selesai, seperti biasa selesai sesi presentasi dari setiap mahasiswa, Pak Masnun menjelaskan topic bahasan yang sebelumnya telah dipresentasikan Selamet Supriyanto,  dengan metode ceramah. Dan….

Beberapa detik kemudian, hati saya menggerutu,

            “ Uuuch,,,,gak kuat, ngantuk!”

Mata saya udah mulai merem melek deh, kepala sudah terasa berat, leher kaya udah di taro batu, mau nya nunduk. Saya berusaha menahan, astagfirullah, gak ketolongan deh ni rasa kantuk. Suara pak Masnun sudah samar – samar terdengar.

            “Ayo, gak boleh tidur!!!” Perintah pada diri saya sendiri. Setidaknya saya dapat melihat dengan jelas pak dosen dan beberapa teman yang terlihat sangat serius mendengar penjelasan dosen. Tapi ngantuknya belum ilang juga. Rasanya mau nangisin diri sendiri. Saya mengambil kipas di dalam tas padahal gak gerah juga, maksudnya supaya ada sedikit gerakkan yang dapat menghilangkan ngantuk. Tapi malah bertambah berat ngantuknya. Yap! Saya memejamkan mata. Gak sempet mimpi. Pak Masnun membangunkan saya! Ampun…. Untuk kesekian kalinya!!!?

            “ Abis ngipas kok malah tidur!” Sindir pak Masnun ditengah – tengah penjelasnnya tentang carut marut dunia pendidikan islam.

Semua orang melihat saya, beberapa diantaranya menyembunyikan tawa, dan tersenyum geli. Saya semakin menunduk dan kali ini bukan ngantuk tapi malu.

 

                                                            ***

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s