Ojek Siluman VS Singa Betina

Saya menggerutu dalam hati,

            “Sebel….sebel…nyebelinnnn….!” Mulut saya terlihat komat – kamit.

Saya melihat Jam yang melingkar ditangan saya menunjukkan pukul 10 malam kurang 15 menit. Masih dijalan?! Ya, saya jalan dari genjing ke kampung rawa, kalau yang belum tau kira – kira sejauh dari Tip – Top Rawamangun sampai UNJ. Kalau belum kebayang juga sekitar dari Plaza Atrium sampai senen. Kali ini bukan mau nya saya jalan kaki, pasalnya saya sudah di drop turun 2 mobil M35, dan 2 kali ditolak mau naik M35. Mungkin karena para tukang angkot sudah mau pulang, jadi gak nerima penumpang. Saya terkesan ngambek dan memutuskan ‘udahlah jalan kaki aja!’ gak niat naik bajai apalagi ojek, akhir bulan bagi karyawan bukan satu – satunya alasan saya memilih lebih sering jalan kaki sich tapi karena saya suka, bisa melihat dan merenungi banyak hal apalagi malam hari. Takut? Enggak juga sudah siap kok kalau harus lari atau mukul orang yang iseng. Hehe, sok jagoan! Ternyata masih ada M35 yang beroprasi tapi saya sudah kepalang BT dan memilih jalan kaki aja! Sepanjang jalan saya asik sendiri. Ya, berusaha menikmati supaya gak kerasa pegelnya. Walaupun sesekali mengelap keringat di kening. Saya pulang malem bukan keluyuran karena malam minggu, tapi setelah usai kuliah habis magrib tadi saya silahturahmi ke rumah saudara, ada hal yang harus diselesaikan malam itu juga. Penting!

Perjalanan dimalam ini bertabur bintang di langit, Sesekali saya menonggakan kepala ke langit.

            “Indah, andai saya dapat memetik bintang itu! Saya akan bawa pulang dan temani tidur saya yang pasti akan lelap karena lelah.”

Tiba – tiba saya dikagetkan dengan suara klakson, suara motor yang berhenti didepan saya terdengar seperti suara bajai bahkan lebih berisik. Saya tersentak,

            “ Abis darimana? Udah malam gini masih di jalan!” Perkataannya seperti seorang bapak yang memarahi anak perempuannya. Ya, saya kenal siapa lelaki ini! Dan saya memilih diam menjawab pertanyaannya.

            “Ayo naik, saya antar sampai rumah!” Kalimatnya itu setengah memaksa dan setengah memerintah.

            “Siapa ente!? Gak mau! Kaki saya masih kuat jalan bahkan sampai Bogor daripada di gonceng ente!”

            “Tapi udah malem, ntar di culik atau diisengan orang gimana?” Katanya seakan menakit – nakuti. Dalam hati saya menjawab ‘saya lebih takut sama anda’  hehe padahal dia teman saya yang baik kok.

            “Insya’allah gak. Lagi pula bentar lagi  nyampe!”

            “Rumahmu kan masih jauh! Nyampe kawi – kawi tempat pengkuburan!”

Makin BT rasanya mendengar dia berkoar,

“Ane lagi semangat jalan nich! Ente minggir dah! Jangan ngalangin Ane jalan. Ane gak mau dibonceng!”

“Yaudah, kalau begitu kamu bawa nich motor!”

“Ngeledek yach? Motornya digendong gitu? Ente kan tahu, ane gak bisa naik motor!”

“Makanya, ayo naik motor!”  Todongnya semakin medesak

“Gak mau! Sekarang pergi dan tinggalin saya!”

Dia diam. Seakan melihat singa mangaung! Tanpa harus saya ulangi lagi gertakan saya, akhirnya diapun melajukan motornya dan meninggalkan saya sendiri.

Saya kembali menggerutu,

            “Dasar Ojek siluman!” Orang itu bukan hanya sekali menawarkan saya untuk mau diboncengnya tapi berkali – kali dan sampai berapa kalipun dia akan saya tolak! Karena bukan muhrim saya. Dan Jalan kaki menjadi pilihan saya.

Iklan

2 pemikiran pada “Ojek Siluman VS Singa Betina

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s