Mesjid Sebagai Pusat Pemberdayaan Umat

Pada masa ini telah banyak kita jumpai mesjid sebagai rumah atau tempat ibadah, dari berbagai gaya dan arisitektur demi menunjang kenyaman dan ke-khusu-an dalam beribadah. Hampir di setiap wilayah kecematan terdapat sedikitnya 5 – 7 mesjid artinya hampir setiap 5 – 10 RW memiliki mesjid ini belum termasuk mushola. Mesjid tersebut dibangun bersama untuk kepunyaan bersama, sekalipun ia didirikan secara individual, tetapi ia adalah untuk tujuan kepunyaan kolektif :
Barang siapa yang mendirikan mesjid karena Allah, maka Allah akan membuatkannya rumah di surga (Muslim : 324)
Hal ini menunjukkan bahwa betapa penting posisi sebuah mesjid sebag tempat ibadah, akan tetapi mesjid semestinya tidak hanya memiliki satu fungsi saja sebagai ‘tempat ibadah’ akan tetapi memiliki banyak fungsi lain sebagaimana pada masa Rasulullah, mesjid sebagai pusat perkembangan islam yang tidak hanya menjadi tempat sujud “Sujudlah kepada Tuhan dan beribadahlah!” (QS. Al-‘alaq : 19) akan tetapi memiliki nilai lebih dimana mesjid sebagai tempat muslim berkumpul, melakukan shalat berjamaah di mesjid lima waktu sehari semalam menjadikan mesjid tempat berkumpulnya muslim sekitar mesjid khususnya lima kali sehari, ditambah lagi ketika shalat jumat membuat pula mesjid tempat berkumpul dan bertemunya anggota muslim yang lebih luas.
Pada zaman Rasulullah mesjid menjadi pusat memberi dan menerima addin , selain pada bidang agama, duniapun menurut islam diajarkan, diterangkan dan diberikan petunjuk di mesjid. Mesjid adalah pula tempat mengumumkan hal – hal penting yang menyangkut hidup masyarakat muslim. Suka dan duka dan pristiwa – pristiwa yang langsung berhubungan dengan kesatuan sosial di sekitar mesjid, diumumkan dengan saluran mesjid. Mesid juga menjadi tempat belajar bagi orang – orang yang ingin mendalami addin bahkan Nabi Muhammad menyelesaikan perkara dan pertikaian dalam mesjid, karena mesjid pada masa itu adalah tempat menyidangkan soal – soal hukum dan peradilan, mesjid juga menjadi saksi bagi hampir setiap pernikahan untuk melaksanakan ijab dan qabul nya. Sedangkan pada masa ini, kita dapat melihat dimana mesjid hanya menjadi sebuah tempat yang cukup luas dan megah tapi sepi dari jemaah mungkin pada hari – hari khusus saja mesjid ramai oleh jemaah sedangkan selebihnya mesjid lebih banyak di kunci dan bahkan hampir di seluruh mesjid yang ada di Jakarta tertutup untuk waktu – waktu umum kecuali waktu shalat lima waktu, hal ini dianggap sebagai bentuk penjagaan mesjid agar terhindar dari tangan – tangan jail yang ingin mencuri di mesjid atau bahkan mengotori mesjid. Bukankah kini kita telah kehilangan fungsi – fungsi mesjid yang sesungguhnya, karena banyak orang yang semakin individual yang lebih memilih shalat di rumahnya atau mushola yang dibuat di dalam rumahnya ketimbang di mesjid sekalipun jarak antara rumah dan mesjidnya hanya beberapa langkah.
Ada beberapa hal yang memang dilarang dilakukankan di mesjid karena mesjid adalah tempat suci seperti; Abu Hurairah memberitakan :
Berkata Rasul Allah s.a.w : “Barang siapa mendengar seseorang bertanya – Tanya mencari kehilangannya di mesjid, hendaknyalah ia mengatakan, mudah – mudahan Allah tidak mengembalikannya kepadamu, karena mesjid bukan dibangun untuk itu (Muslim : 346).
Jadi urusan yang dilakukan dalam mesjid tidak boleh kalau hanya menyangkut kepentingan pribadi. Urusan yang boleh berlangsung didalamnya hanyalah urusan yang menyangkut kemakmuran dan kesejahteraan kesatuan sosial muslim sekitar mesjid, kedamaian hidup bersama, kepentingan umat, kepentingan kemanusiaan, dan bersifat prinsip dan pokok – pokoknya. Seperti yang dikatakan tadi bahwa mesjid adalah tempat suci, bersuasana damai dan tenang, dalam masa kegiatan – kegiatan yang berhubungan dengan ibadat, takwa dan perkembangan islam, karena itu mesjid patut dimuliakan, sampai – sampai bersuara keras didalamnya dilarang. Membawa bau busuk pun dilarang ke dalam mesjid. Ibnu Umar memberitahukan bahwa Rasul berkata dalam peperangan khaibar “ “Barangsiapa makan tumbuh – tumbuhan ini (maksudnya bawang putih), maka janganlah datang ke mesjid. (Muslim : 342.) akan tetapi sebaliknya memakai wangi – wangian yang bertujuan untuk merangsang, seperti umumnya yang dilakukan oleh wanita juga dilarang. Zainab istri Abdulullah menceritakan, “kalau wanita hendak ke mesjid, janganlah memakai harum – haruman (Muslim : 271) .
Belum ada kata terlambat untuk kembali memakmurkan mesjid dan menjadikan mesjid sebagai pusat perkembangan islam, mesjid yang telah berdiri sekarang perlu diramaikan, maksud diramaikan disini dengan mengunjunginya; beribadah di dalamnya, memperindah mesjid bukan sebatas penampilan lahiriah akan tetapi kegiatan keislaman didalamnya, menjaga, memelihara, merawat, memanjukan, dan memperkembangkannya. Insya’allah kita dapat kembali menjayakan mesjid sebagai pusat ‘perkembangan islam’.

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s