Ada Kelabu yang Tertutub

Aku bertanya pada dinding – dinding kamarku, akan jera yang datang mendera. Biar aku merengek – rengek pada hati ku yang sepi untuk tetap terjaga dari suara – suara parau yang membuatku galau. Atau aku harus diam? Mendekap tangisku agar tak ada yang tahu betapa menyedihkannya diriku? Atau memang harus bersembunyi. Lari dari kenangan yang tak dapat terhapuskan. Setiap kata yang tertata tak mampu sirna oleh waktu yang kelabu. Aku berkata berjuta kali pada segumpal darah yang tengah tertusuk duri akan sebuah kisah indah yang akan bersemi kembali, dan aku serasa tengah membohongi diriku akan sedih yang tak berujung.
Dalam linglung, diriku bingung, setiap langkah membuatku gerah, setiap pikir membuat ku ragu, sungguh gugup diriku. Biarkan aku lupa tapi rasa ini membuat ku selalu ingat! Pernah ada janji tapi teringkari. Pernah suka tapi berakhir duka. Pernah ada mimpi dan kini nyata semuanya musnah. Pada siapa asa ini pernah termiliki? Dan kini gugur bagai daun kering yang teomabang ambing! Aku berteriak tanpa kata! Mungin karena teramat lelah. Terseok – seok aku mencoba berdiri kemudian berjalan walau aku masih berada dibelakang bayangan itu hingga membuat langkahku terbata – bata lalu terjatuh dan terjatuh lagi sampai luka berdarah – darah. Aku ingin musnah!!! Karena rasa ini tak mau pergi!!!
Pernah suatu kali aku berfikir menjadi pantai yang setiap menghitung buih dilautan, sekalipun ombak hanya datang lalu pergi. Singgahi saja pantaiku walaupun sekali – kali agar sepi ini, tidak selalu datang mederu. Pasir putih itu pun berbisik, mengusik diriku dengan lagu – lagu angin yang mendayu – dayu membuatku makin runtuh. Sungguh, diriku hanya mampu melagu bahwa rasa ini menancap dalam sampai kebumi hati. Enyah saja! Aku teramat geram. Apa aku harus memohon agar kau tak berlaga dan bergaya tak ada apa – apa? Bukankah itu lebih menyakitkan?! Atau kau lupa bahwa aku wanita! Aku berteriak lagi bahwa dulu pernah aku titipkan selaksa cinta dan aku peringatkan jangan sakiti atau aku akan mati! Kau tak peduli kah?

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s