Perangkat Jiwa Anak Didik Untuk Belajar dan Komposisinya dalam Strategi Pendidikan

Pola pendidikan pada saat ini amat beragam mulai dari pendidikan barat, pendidikan komunis, pendidikan manusia kapitalis yang menggaungkan pendidikan modern tanpa batasan norma sampai pendidikan Islam yang menekankan pada pendidikan yang diatur dalam ajaran – ajarannya Al – Qur’an dan Al – Hadis yang dituntut untuk menyempurnakan akhlak bukan semata – mata mencari materi dan kepuasan semata. Seharusnya kita mampu menghadirkan pendidikan yang dapat menjadi solusi dalam menghadapi semakin pesatnya perkembangan disegala bidang hingga kita mampu terus eksis dan mampu selalu menjawab tantang setiap zaman dan pondasi yang kuat akan kekuatan ruhani dan jasadyah kita dengan akhlak dan budi pekerti yang baik hingga kita tidak akan terjerembab dalam lingkaran global yang tanpa batas. Pada proses ini pastinya tidak dapat terlepas dari kegiatan belajar, dan tidak hanya terbatas pada ruang formal saja akan tetapi ruang lingkup yang lebih luas. Setiap saat dalam kehidupan dimana pun kita berada secara sadar ataupun tidak sadar langsung ataupun tidak langsung kita sedang belajar, paling tidak belajar untuk terus bertahan hidup dan memahami setiap hal yang terjadi dalam kehidupan ini.
Dalam proses berlajar rmengajar dalam lingkungan formal ataupun informal segala sesuatunya sangat berpengaruh dalam kegiatan belajar tersebut, walaupun porsinya bermacam – macam, coba bandingkan antara proses KBM yang berlangsung di dalam kelas dan yang belajarnya di jalanan atau tempat yang tidak sesuai (Banyak factor) tentunya situasi dan kondisi jiwa peserta didik atau bahkan pendidik akan jauh berbeda. Belajar dalam lingkungan yang brisik, bau dan panas akan sangat mempengaruhi daya tangkap para peserta didik hingga tidak dapat maksimal dalam transformasi ilmu. Dan sebaliknya belajar dalam ruangan ber- AC (paling tidak ada kipas angin agar tidak pengap atupun kepanasan), ruangan yang rapi dan tidak berisik sangat mendukung proses KBM hingga siswa akan mampu menerima ilmu dengan baik. Namun hal ini kembali lagi pada kondisi psikologi setiap manusia (dalam lingkup ini adalah peserta didik) yang berbeda – beda. kondisi anak didik berperan penting dalam proses belajar tidak hanya melibatkan penguasaan suatu kemampuan atau masalah akademik baru saja, tetapi juga perkembangan emosi, interaksi socialnya dan perkembangan kepribadian peserta didik. Dalam kondisi tertentu siswa mampu secara baik menerima pelajaran – pelajaran akan tetapi dalam kondisi jiwa anak didik yang terganggu dengan masalah – masalah dalam dirinya ataupun situasi jasadyah nya yang tidak vit karena kelelahan dan lain – lain, hal ini akan sangat berpengaruh tentunya. Maka dari itu perlu perhatian serius dalam mengatasi situasi dan kondisi dalam proses belajar mengajar agar kegiatan pengembangan diri dan keilmuan dapat secara maksimal tersalurkan dengan baik.
Pengertian pendidikan dapat dibedakan dalam arti luas dan dalam arti sempit. Pendidikan dalam arti sempit dapat berarti bahwa pendidikan yang hanya dibatasi sebagai usaha orang dewasa dalam membimbing anak yang belum dewasa untuk mencapai kedewasaan dan setelah anak tumbuh menjadi deasa, maka pendidikan dianggap telah selesai. Dari pengertian pendidikan dalam arti sempit yang telah diuraikan di atas, dapat digambarkan bahwa pengertian pendidikan secara khusus adalah pendidikan yang berlangsung di lingkungan keluarga. Sedangkan pendidikan dalam arti luas merupakan usaha manusia untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya yang berlangsung sepanjang hayat. Pendidikan dalam arti luas juga dapat dimaknai sebagai suatu proses untuk mengembangkan seluruh aspek kepribadian manusia, yang mencakup pengetahuannya, nilai dan sikapnya, serta ketrampilannya. Pendidian untuk mencapai individu yang lebih baik. Pendidikan bukan sama sekali untuk merusak kepribadian manusia, seperti halnya member bekal pengetahuan maupun ketrampilan kepada generasi muda.
Berikut ini pengertian pendidikan menurut para pakar:
– Menurut Henderson, pendidikan merupakan proses pertumbuhan dan perkembangan sebagai hasil interaksi individu dengan lingkungan social dan lingkungan fisik yang berlangsung sepanjang hayat sejak manusia lahir.
– Menurut GBHN tahun 1973, “ pendidikan pada hakekatnya merupakan suatu usaha yang di dasari untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan manusia yang dilaksanakan di dalam maupun luar sekolah, dan berlangsung seumur hidup.”
– Menurut KBBI (1994:42), pendidikan merupakan proses pengubah sikap dan tingkah laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.
– H.T. Romly Qomaruddin, MA, dalam makalahnya “ Menghadirkan Ruh Guru; Upaya Maksimal Menyentuh Aspek Spiritual Anak” (2010:7) menjelaskan bahwa pada prinsipnya pendidikan merupakan sebuah proses dalam “memanusiakan” manusia atau kembali kepada fitrahNya sebagai makhluk yang mendapatkan tugas memakmurkan bumi dengan kreativitasnya dan menjalankan hukum-hukum Allah dengan berbagai aturanNya.
Dari beberapa pengertian mengenai pendidikan yang telah diuraikan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pendidikan merupakan suatu proses pembelajaran dan pengembangan seluruh aspek kepribadian manusia dan kemampuan manusia serta aspek spiritual manusia untuk kembali kepada firahNya dan pendekatan manusia terhadap Allah, yang telah menciptakannya. Pendidikan ini berlangsung sepanjang hayat, artinya sedari kita lahir, kemudian tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang dewasa hingga sampai akhir hayat. Sebagaimana yang terkandung dalam sabda Nabi ini menunjukkan bahwa secara pedagogi manusia berkembang melalui proses pendidikan.
Berkata Anas, “Bersabda Nabi saw.; “ Anak setelah hari ketujuh dari kelahirannya disembelihkan ‘aqiqah dan diberi nama setelah dicukur rambutnya, setelah usia enam tahun ia dididik untuk berperilaku sopan santun; setelah 9 tahun tempat tidurnya dipisah dari orang tuanya; setelah 13 tahun ia harus dipukul bila tidak menjalankan shalat, setelah berusia 16 tahun ia harus dikawinkan oleh ayahnya, lalu ayahnya berjabatan tangan dengannya seraya mengatakan : “Saya telah mendidik kamu, mengajar dan mengawinkan kamu, saya memohon kepada Tuhan supaya saya dijauhkan dari fitnahmu di dunia dan siksamu di akhirat.”
Hadist ini dapat dijadikan landasan bahwa dalam pembinaan jiwa manusia diperlukan proses kependidikan secara bertahap.

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s