Mawar di Malam Ardan

Malam, dipukul di angka 12. Semakin malam, di tempat ini malah bertambah ramai dengan musik yang semakin menggoda dan para DJ yang berlaga makin membakar suasana. Ramai orang menari bersamaan di lantai dansa, berjoget dan bergaya sesukannya yang terpenting happy bebas berekspresi, walaupun sekedar gaya yang jelas oke lah. Gelas – gelas saling bertaruhan siapa yang dahulu tepar dan keliengan dengan minuman yang memabukan dan mencambuk nafsu – nafsu setan. Wanita – wanita itu tanpa malu mengobral tubuhnya dengan harga yang masih bisa dikompromikan. Untuk tarif semalan dengan paket panas atau paket hemat?.
Mata Ardan masih berpedar melihat – lihat tempat yang baru pertama kali dia injak. Menyaksikan para wanita merayu dan laki – laki melempar nakal dan berbisik liar. Satu dua tiga wanita mulai menggodanya penuh nafsu dan obral tarif bahkan ada yang nekat menyodorkan bibir merahnya ke telinga Ardan dan mengucap ‘Gratis untuk satu malam’ Tak di tampikan memang dengan wajah klimis dan tubuh tinggi lagi tegap dan pakaian parlente yang dimiliki Ardan dengan mudah bagi Ardan untuk menerima wanita manapun yang berebut ingin menemaninya. Tapi sorry lah! Ardan tak berminat,!
Keadaan Ardan malam ini malah membuat nya kembali di terpa dilemma tentang apa yang akan dia lakukannya di tempat ini.
“Gimana kalo sama aku aja mas,? Di jamin puas dhe, pasti ketagihan!” bujuk seorang wanita dewasa dengan dandanan total nyaris bertopeng, maksudnya berbedak tebal dan lipstick merah cabai.
“Huhhcn!!!”
Saat itu juga! Ardan mulai mual ingin muntah. Rayuan itu terdengar menjijikan di telinga Ardan, dengan segera Ardan bergegas lari dari kawanan wanita – wanita buas yang berhasrat jalang. Di kamar mandi, Ardan menenangkan dirinya yang lagi – lagi gamang! Namun Ardan tak jera karana terlanjur lelah dan kecewa. Ardan berdiri di depan kaca, meyakinkan kembali dirinya bahwa semua ini adalah jalan yang tepat untuk meluapkan amarahnya yang marah dengan keadaan yang menimpanya.!
Saat Ardan kembali ke tempatnya tadi, para wanita itu telah menghilang dan melega kan hati Ardan yang tak berniat untuk menjamah atau sekedar menanggapinya. Beberapa saat kemudian Ardan disapa dari belakang oleh seorang pria yang langsung mengumbar tawa karena berjumpa dengan Ardan di tempat yang sempat ia katakan hutan larangan! “Ooollah…..Dan… pa kabar?, Bagaimana keadaanmu malam ini? Sudah lumayan lama kita tidak berjumpa y?Aku tak pernah menyangka bertemu denganmu di tepat yang pernah kau kata kan hutan larangan bagi para laki – laki….. liar?!”
“ Akhirnya, ku bilang apa! Laki – laki itu perlu dunianya sendiri tepat mereka bersenang – senang dan bebas sebebas – bebasnya, tanpa aturan – aturan yang cuma bisa bikin otak tegang. Jadi tepat banget bro, kalo kau ke tempat ini! Ayo kita seneng – seneng!” Kata laki – laki gempal ini sambil mendekap erat seorang perempuan disampingnya. Tanpa banyak ucap Ardan yang ternyata tak betah lama – lama di tempat ini dan mulai to the point,
“Bob! Gak perlu basa – basi! W udah transfer 5 juta ke rekening lo tadi siang! W yakin lo udah liat! Sekarang! Mana yang lo janjiin?”
“ Walah – Walahh… rupanya kau sudah tak sabar yach Dan! Tenang lah ! Bagaimana kalau kita pemanasan dulu! Kita minum dulu atau kau mau berjoget?! Pilih lah wanita manapun yang kau suka dan tak usah memperdulikan bayaran nya anggep aja ini bonus dari aku!“
“Bob, apa kurang jelas omongan w tadi! atau w bakalan cari tempat lain ! “ Ardan mulai gerah dengan laki – laki buntel berkepala botak ini!
“Oke … oke, jangan lah begitu kau! Disini kau adalah raja! Aku akan melayani mu dengan baik! Aku telah menyediakan tempat istimewa untuk kau ! di sana lah kau akan bertemu dengan nya!”
Boby yang laganya kaya ikan lele itu, mulai ngeri dengan tatapan mata Ardan yang lebih berbahaya dari samurai. Walaupun Boby dan Ardan tidak begitu dekat sebagai teman malah cendrung saling bersebrangan tapi Boby paham sikap Ardan yang diam tapi menyimpan bisa yang mematikan. Biasanya kan diam – diam mengahanyutkan, nah kalo yang satu ini! Menyeramkan? Sedangkan dengan sikap Ardan yang tiba – tiba mengonteknya, membuat Boby ibarat ketiban buah duren, maksudnya daging buahnya bukan kulitnya! Biar langsung di makan. Coz Boby pecinta duren sejati. Alah gak penting!
“Ardan yang mana yach?” Tanya Boby saat itu, tak disangka tak di nyana seorang laki – laki seperti Ardan dengan sikap idealisnya yang selangit meminta hal itu???
Awalnya Boby mengenal Ardan sebagai laki – laki yang sempurna, sempurna dimata semua orang terlebih lagi di mata hati para wanita, Ardan sosok yang gagah, bersahaja, gayanya parlente tanpa sombong, baik hati budi dan pekertinya tapi sikap Ardan sekarang ini malah makin membuat botak Boby tambah licin karena sama sekali tak mengerti dengan sikap Ardan yang tiba – tiba berubah 180 derajat? Ada apakah gerangan? Ada apa dengan mu..? tapi pertanyaan – pertanyaan itu tak berniat Boby tanyakan pada Ardan, bisa – bisa tambang uangnya hilang! Asal ada untung, seribu Tanya tak jadi masalah dipendam?
Ardan melangkah ragu. Berhenti di depan sebuah kamar hotel bernomer 87. Sempat terbesit di hatinya, ‘Apa yang sedang aku lakukan disini? Haruskah aku melakukannya? Andai Tuhan lebih adil pada ku, jangankan untuk melakukan hal ini? Membayangkannya saja tidak!.
Tapi hidup Ardan kini terluka amat dalam, waktu kini menguasainya! Menepis semua asa yang mendekapnya, walaupun percuma. Mengoyak – ngoyak harapan dan pikir Ardan., seribu kali lagi Ardan meyakinkan dirinya untuk luapkan emosi dan kecewa, hingga pikirnya singkat mendukungnya sebagai Ardan yang baru, yang bebas dan tak terbatas. Tak kunjung redah amarah di hatinya, dengan situasi dan kondisi dirinya sekarang yang hidup tak lagi bersahabat. Bahkan Ardan tak ingin melihat kebelakang lagi tentang diri dan masa lalunya yang indah dan penuh suka cita. Ardan yang sekarang adalah Ardan yang mampu melakukan apa pun. Sesukanya tanpa ada yang mampu membatasinya sekalipun maut telah mengarahkan panah berancun yang tak ada ampun.
Tanpa banyak pikir lagi, Ardan membuka kamar hotel itu secara perlahan dan memasuki lorong antara pintu masuk ke kamar. Ardan pun tak lupa mengunci kembali pintu itu.
Ruangan ini begitu harum dengan aroma wewangian yang memabukkan, dan sebuah tempat tidur biasa ber sprey putih dengan lampu – lampu redup menghangatkan mata, tapi yang sangat beda dari itu adalah kelopak – kelopak mawar yang bertaburan di sana?. Dan dari kembang mawar itu aroma segar tercipta. Ardan memedarkan matanya ke segala arah, mencari seseorang yang akan menghabiskan malam ini dengannya. Mungkin dia sedang di kamar mandi, kata Ardan membatin. Untuk melepas rasa lelahnya, Ardan duduk di pinggir tempat tidur mengambil sebuah kelopak mawar merona yang terbaring di dipan tanpa lentera, menghirup jiwa – jiwa mawar hingga layu membisu. Ardan melompat kaget ketika dari belakang ada yang memeluknya, sentuhan tangan seorang wanita .
“Maaf, kalo aku mengagetkanmu..,!” Kata wanita itu lembut.
Ardan mengambil posisi berdiri karena bingung mau bersikap, sesaat Ardan mencuri pandang kepada wanita cantik di depannya ini. Bagaikan seorang dara dari khayangan. Wajahnya putih bersinar, walaupun ber make up tapi natural, bibirnya merona dengan warna yang tak menyala bagaikan sekuncup mawar yang siap di hisap madunya. Rambutnya hitam bagai langit malam yang tak berbintang, Tubuhnya indah di balut baju merah delima. Dengan cepat Ardan malah menundukan pandangannya dan berbalik membelakangi wanita yang sedang duduk di tempat tidur itu. Wanita itu pun memperhatikan secara detail laki – laki parlente di hadapannya ini. Tampan, tajir, dan …. Perfeckto!!!. Tapi dia juga heran, kenapa sifat lelaki ini aneh?
“Kenapa kau malah berdiri disitu? Tak bisa kah kau lebih mendekat? Malam kian larut! Apakah kau ingin menghabiskan waktu dengan sia – sia! Kau tahu kan bayaran ku permalam.? Berlama – lama malah akan membuat mu merugi!?
” Kemarilah! Kenapa kau malah menjauh dariku?”
Ardan diam, menyelami hatinya yang ternyata gemetar. Batinnya bergemuruh kencang, membuat suara – suara yang berbisik gamang ke Ardan
“Apakah ini malam pertama bagi mu?” Tanpa malu, wanita ini terus berujar,
Sungguh, keadaan ini malah menjadi sulit bagi Ardan? Sebisa mungkin Ardan tetap tenang walaupun keringat serasa dingin membasahi tubuh Ardan. Di tengah tatapan tajam wanita itu, Ardan mulai berucap, melontarakan pertanyaan,
“Nama kamu siapa?”
“eh, he… kamu lucu yach?”
“Apa yang lucu” Tukas Ardan.
“Ya lucu, biasanya… Laki – laki yang menemaniku tak lama – lama berbasa – basi. Apalagi setelah melihat kecantikan ku ini!?”
“Terus ada yang salah dengan pertanyaan ku?”
“Tidak. Tidak ada yang salah!”
“….”
“Nama ku Mawar!”
“Mawar?”
“Ya, kenapa? Ada yang aneh? Atau kau tak suka mendengarnya. Kalau begitu kau bebas memanggil ku!?
“kenapa harus begitu? Aku tidak bermaksud demikian?!”
“berarti benar kau tidak menyukai namaku?”
“Tidak ada alasan bagi diriku untuk tidak menyukai namamu ? Aku tidak peduli?”
“Lalu kenapa kau menanyakannya?”
“Hanya Tanya?”
“OOOhhh,,,!”
“Ya, cukup.! Mulai basi! Kenapa kau masih diam di situ? Apa aku yang harus mendekatimu?”
“Tidak!!”
“Tetaplah di situ! Duduklah dengan tenang!” Perintah Ardan.
Mawar nama dara jelita itu merasa kebingungan sendiri? Baru pertama kali, ada laki – laki yang menolak pesonanya? Sedangkan Ardan masih sibuk menenangakan hatinya yang berdetak tak beraturan.
Detik mulai berganti menit, sudah sejam lebih mereka hanya diam. Ardan memilih berdiri di depan jendela. Walaupun matanya melihat – lihat keindahan kota malam ini tapi pikirnya lepas, berkeliaran liar di tengah kelam malam yang sepi tanpa bintang gemintang. Mawar tak bisa berbuat apa – apa, Ardan membuat pagar larangan untuk Mawar agar tidak mendekat dari jarak 2 meter lebih.
Mawar pun bertanya – Tanya tentang pria ini?
“Siapa dia? Ada apa dengannya? kenapa aku seolah merasakan kesedihan yang begitu dalam dari sorot mata laki – laki ini?”
Mawar melihat lekat Ardan dengan tatapan cemas dan seribu tanya yang tak terjawab? Dan untuk mengetahui jawabnya Mawar berani kan diri untuk kembali ber ujar,
“mmh…Aku paling tidak suka dengan keadaan ini! Aku merasa sangat di lecehkan!”
Ardan menoleh ke arah Mawar,
“Kau malah mencampakkan aku?. Aku merasa tak berguna dan merasa terhina! Kau telah membayar diriku dengan harga cukup tinggi untuk malam ini!? Tapi kau malah memilih jadi patung!”
“….”
“Maafkan aku, kalau kau merasa terhina?! Aku tak bermaksud demikian?!”
“Terus, apa mau mu ? Apa yang harus ku lakukan sekarang? Kau membuatku nampak sangat bodoh!”
Aradan merasa tak enak? Dia pun bingung apa yang harus di lakukan? Rasanya untuk melakukan hal itu sangat tidak mungkin bagi Ardan?
Tenggorokan Ardan mulai dirasa haus, dan Ardan menuangkan air mineral ke dua gelas yang telah disediakan, Ardan langsung meminum tandas. Dan Walau agak kiku Ardan memberikan satu gelasnya lagi pada Mawar!
Degan seyum semeringah Mawar menerima gelas itu tanpa melepas tatapan tajam matanya.
“Kau hanya memberiku air putih? Ku kira tadi kau sedang menuangkan anggur? Ooh,.. kau sungguh aneh..!” Prostes Mawar kecewa.
“Kalau aku boleh saran! Bisa kah kau menutup agak rapat tubuhmu! Nanti masuk angin lagi, karena AC – nya aku nyalakan full!?”
“Apa kau bilang? Masuk angin? Hah… Aku sungguh – sungguh tak percaya? Ada gitu yach? Laki – laki aneh seperti dirimu yang menghabiskan malam dengan seorang wanita cantik di dalam kamar hotel tapi tak berani melakukannya?”
“Terus apa mau mu sebenarnya? Apakah kau tidak berniat melakukannya denganku? Pasti kau belum pernah melakukannya? Ayolah… Aku akan mengajarimu, kau santai saja! Daripada kau membayarku hanya untuk menjadikanku boneka?!”
“ Mawar!”
‘Dia menyebut namaku, dengan suara yang sangat lembut?’ dan baru pertama kali ada yang memanggil ku begitu selama aku menjadi Mawar malam. Semuanya bengis penuh nafsu tanpa nada – nada ketulusan!
“Tak kan ada apa – apa diantara kita! Aku tak menjadikanmu boneka! Aku hanya….”
“Hanya kenapa Dan?”
Untuk pertama kalinya Ardan berani menatap mata Mawar.
“Aku pria baik – baik”
“Baik – baik?” Delik Mawar
“Sekarang mungkin bukan lagi! Karena aku ada di sini! Berdua dengan kau!?”
Ardan mulai serius, Menghela nafas panjang dan menghembuskannya tandas
“Awalnya, aku merasa menjadi laki – laki yang paling bahagia di dunia ini apalagi, tinggal beberapa langkah lagi aku akan memasuki babak baru dalam kehidupanku! Aku akan membina sebuah keluarga dengan seorang wanita yang tak kalah cantik darimu!”
“Terus? Kenapa kau malah…?” Potong Mawar
“Dengarkan aku saja dulu!. Atau kau boleh tak mendengarkannya! Aku hanya ingin menetralisir hati dan pikiran ku saja saat ini!”
Mawar mengangguk pertanda akan diam dan memilih memperhatikan laki – laki aneh bernama Ardan!
“Ketika di vonis dokter. Dunia ku seolah runtuh. Aku seakan tidak memiliki masa depan lagi! Impianku hancur, harapanku musnah. Dunia ku sama sekali tak indah! Kau tau? Dokter mem-vonis ku apa? Dokter di beberapa rumah sakit menyatakan hal yang sama bahwa diriku…..” Ardan sungguh tak sangup melanjutkannya, batinya menangis. Rasanya sudah tak mungkin lagi membendungnya! Dengan sangat serius Mawar menanti . Dengan kekuatanya yang tersisa, Ardan berucap getir,
“Dokter bilang aku terjangkit HIV!? Menurut ku itu sangat lucu! Karna aku merasa keadaanku baik – baik saja!”
“HAAAHH?…Kau ini benar – benar lelaki yang aneh..!” Mawar terperangah mendengar pengakuan Ardan
“????? Kau bilang kau tadi pria baik?”
“Tolong jangan berfikiran buruk dulu pada ku! Kalo aku serendah itu pasti sudah dari tadi melakukan hal itu padamu!?”
“Terus kenapa kau bisa terjangkit virus mematikan itu?!” Tanya Mawar terbakar penasaran
“Itu karana,,, Jarum suntik”
“kau narkoba?”
“Tidak!!!”
“Kau Homo?”
“Tidak, Aku tidaklah serendah itu.”
. “Ketika aku mendonorkan darah di sebuah klinik kecil untuk menolong seorang saudara yang sedang kritis. Ya dari situlah, ternyata jarum suntiknya tidak seteril. . …”
“kau tidak minta pertanggung jawaban pada klinik tersebut??”
“ Aku sempat melakukannya tapi ternyata klink tersebut pun illegal. Ironis sangat kan?! Penyakit ini telah positif di tubuhku.”
Dengan perasaan yang hancur Ardan menceritakan lagi kejadian menyakitkan itu, Ardan bingung harus mengadukan kepada siapa lagi tentang pristiwa menyakitnya itu? Salah – salah, rahasia ini terbongkar. Bisa – bisa semua orang menjauhnya,
“Aku sungguh tak mengerti dengan maksud Tuhan? Selama hidup ku , aku berusaha untuk patuh padaNya! ??Viruss? penyakit menjijikan.!?”
“Jangan – jangan kau berniat menularkan penyakit itu pada ku?” Curiga mawar tiba – tiba
Ardan tak langsung menjawabnya. Kini gilaran Mawar yang menjauh. Mawar langsung lari ke kamar mandi. Meninggalkan Ardan dengan sebuah pertanyaan yang diamnya Ardan adalah sebuah jawaban.
Ardan tertunduk makin lesu. Ardan menutup mata dan seribu pikiran usiknya masih belum enyah. Ardan kembali merenungi semuanya! Tak banyak yang ia dapatkan kecuali sebuah kenyataan bahwa hidupnya kini di tawan oleh penyakit HIV AIDS
Beberapa menit kemudian, Mawar keluar dari kamar mandi. Ardan melemparkan pandangan pada Mawar yang telah berganti pakaian dengan sebuah jacket dan jeans. Kemudian matanya kembali menyorot lantai.
“A-aku,… ingin keluar dari sini! Tolong ambil kan kunci di laci itu!” Perintah Mawar.
Ardan menurut. Mawar memegang kunci itu dan bersiap keluar tapi melihat wajah sendu itu, Lagi – lagi Mawar tak tega. Sekalipun Ardan berniat menyebar penyakit itu, mungkin sudah dari setadi Ardan melakukannya? Tapi dia malah…diam!
“Aku tak ingin berhutang padamu..! Boby telah memberikanku sekian juta! Tapi aku tak bisa mengembalikannya, karna itu aku akan menemani mu malam ini tapi bukan untuk melayanimu! Aku tak akan membocorkan penyakit itu pada siapapun! Setelah urusan ku dengan mu selesai, aku berjanji akan melupakaan semuannya!”
“Kau tidak takut aku berbuat macam – macam padamu?”
“Kalau kau memang berniat jahat padaku dengan menularkanku penyakit itu, mungkin sekarang ini kau telah berhasil tapi nyatanya kau sendiri tak berani? Kau sendiri yang mengatakan kau pria baik – baik! Kalau kau tak baik! Kau sudah melakukannya!?”
Mawar memberanikan diri duduk di sebelah Ardan di tepi dipan yang terlihat muram. Ardan melirik Mawar sedetik.
“Aku berfikir, yang sepantasnya mendapatkan penyakit ini adalah wanita – wanita sepertimu dan laki – laki mata keranjang, bukan diri ku, yang membayangkan nya saja tak pernah! tadi kau menanyakan apakah aku berniat menularkannya? Ya!? Tapi ternyata aku tak sanggup! Kau lihatkan betapa tak adilnya Tuhan pada ku?Maaf kalau aku haarus berbicara sepahit ini padamu!”
“Tak masalah, mungkin kau benar”
‘ Wanita sepertiku?’ mendengar ucapan Ardan itu membuat Mawar kembali menyadari dirinya yang hina! Kata – katanya begitu menohok di hati Mawar. Mawar kembali berfikir setelah sekian lama melupakan bahwa pekerjaannya ini membuatnya di incar oleh HIV / AIDS . Tapi harus bagaimana lagi? Mawar hanya menjadi sekuntum bunga malam yang tak bertuan.
“Aku kira kau akan pergi seperti Ajeng kekasih ku, setelah mendengar pengakuan ku ini”
“Ajeng, tunanganmu?”
“Ya. Wajarlah bila dia akhirnya pergi di beberapa hari pernikahan kami. Pasti nya dia merasa jijik padaku sekarang!”
“Tapi kau menjelaskannya kan? Penyebab dari penyakitmu ini?. Terus dia pergi begitu saja?”
Ardan hanya dapat mengangguk getir,
Selama 5 tahun profesi ini di jalani oleh Mawar, baru kali ini ada pria yang begitu jujur dan menghargainya dengan nilai yang mahal lebih dari sekedar uang. Mawar yakin bukan Karna penyakit itu saja Ardan tak menyentuhnya tapi memang Mawar yakini Ardan berbeda dengan laki – laki yang selama ini ditemuinya. Mawar terus memandangi Ardan, gurat – gurat kesedihan menyelimuti wajahnya. Tanpa sadar Mawar meneteskan air mata, sungguh ironis. ‘Aku yang melakukan perbuatan hina mengapa lelaki baik ini yang mengidap penyakit mematikan itu? Oh, Tuhan sekirannya penyakit ini menimpa diriku, itu hal yang wajar tapi….
Tiba – tiba pikir Mawar mencekak? Tuhan? Satu kalimat agung yang sangat jarang di lontarkan wanita berumur 23 tahun ini. Rasanya Tuhan Mawar telah hilang? Atau memang Mawar yang menghilangkan Tuhan. Jiwa Mawar memang telah hilang.
“Oh, Tuhan…bila di ukur dosa ku dengan dosa lelaki ini, mungkin sangat jauh berbeda? Timbangan dosa ku akan lebih berat ke neraka’. Di malam – malam Mawar semuanya kelam. Tak satu pun bintang bersinar apalagi Bulan yang sekedar memandang saja tidak. Membuang wajahnya di setiap malam Mawar. Oh,, Tuhan… dipikirkan dengan renungan, diarahkan dengan hati seharusnya aku yang Kau timpa? Tapi…..
Kenapa malam mawar ku ini begini?Malam ini Mawar bagaikan sekepingan pecahan yang bingung?
Ardan bungkam. Mawar ternyata telah tenggelam dalam duka lara Ardan. Membawa nya ke lubang – lubang perenungan dan mengembalikan kesadarannya yang dulu telah di sia – siakan. Madu perawaan Mawar memang telah hilang di telan oleh kumbang – kumbang nakal . tapi jika di pikir – pikir Mawar masih punya kesempatan sebelum akhirnya mawar di jajaki penyakit yang mematikan dan dosa yang tak terhitungkan! Sedangkan Ardan, lelaki yang sangat malang ini semakin menyadari bahwa dirinya tak akan sanggup menjadi laki – laki keranjang. Daripada menjauhkan Tuhan dan mendekati setan! Yang ada dunia nelangsa di akhirat tak kalah sengsara. Ardan berusaha berhati besar! Menjadi seorang lelaki baik itu bukan pilihan tapi keharusan! Penyakit ini mungkin bisa saja menggerogoti tubuh Ardan tapi kalau untuk hatinya! tak akan lagi!tak akan bisa!!. Tidak ada malam yang akan di lalui Ardan oleh seorang pun. Terakhir di malam ini, dimana ada Mawar di malam Ardan.

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s