Cinta Melati Sampai Nanti Sampai Mati

Tubuhku seakan membeku sangat sulit untuk digerakan . Aku ingin teriak… aaakrrh…. ! tidak bisa! Mulut ku kelu. Seperti ada yang tertahan ditenggorakkan. Aku tidak bisa menutup mataku! sekuat apapun diriku untuk tidak melihatnya maka semakin tajam ia menatapku. Sinar mata itu hitam, buas, penuh amarah dan kebencian. Aku…melihat sosok dihadapkan ku , menyeramkan. Di sekeliling wanita itu api. Merah membara membakar dirinya tapi aneh, dia terlihat tidak kepanasan ataupun kesakitan. Tubuhku lemas, jantungku terasa sakit dan dada ku sesak sampai sulit untuk bernafas.
Seketika Melati terkapar di lantai, untuk waktu yang cukup lama. Tak ada satu orang pun yang tahu Melati tak sadarkan diri di kamarnya selama berjam – jam, sampai maghrib tiba melati masih menghilang di alam bawah sadarnya. Malam kian menaiki waktu tertinggi. Bulan makin terang dengan bintang gemintang yang tak pernah kesepian. Kesadaran Melati mulai balik kembali. Mata Melati berpedar ke setiap pojok ruangan untuk mencari jawaban ‘aku ada dimana?’ ketika Melati melihat foto – foto diri, keluarga dan sahabatnya di tembok bercat merah muda secepat itu ia menyadari dia ada di kamarnya. Dengan gontai, perlahan Melati bangkit masih dengan sisi – sisa kepala yang pusing dan rasa lemas yang mendekap tubuhnyaa kuat. Melati mulai memaksakan diri untuk kembali mengingat apa yang terjadi pada dirinya hingga ia tergeletak di lantai. Ingatan Melati perlahan terputar kembali pada kejadian beberapa waktu yang lalu sebelum dirinya pingsan. Mata melati langsung terpanah pada sebuah cermin besar dihadapnnya. Dia melihat cermin itu, dan yang memantul adalah bayangan dirinya. Seorang gadis berperawakan sedang dengan tinggi semampai, kulit langsat, wajah putih, hidung bengis dan bulu mata lentik yang ada dihadapannya sekarang. Tiba – tiba bayangan itu muncul kembali dalam pikirannya, melati menangkap suara – suara bergema yang mengatakan bahwa “Aku,…. Dan itu aku….!” Melati menutup rapat – rapat telinganya sampai akhirnya ia tersadar sepenuhnya bahwa apa yang dia lihat tadi adalah apa yang dia lihatnya sekarang bahwa sosok dicermin itu adalah dirinya sendiri. Dengan seksama Melati menyaksikan seraut wajah dicermin. Itu adalah dirinya.
Butiran air mata itu tumpah di wajah Melati yang sendu dan pucat pasi, gurat – gurat kesedihan tergambar jelas disana! Sekuat apapun Melati menahannya, air mata itu malah semakin deras turun dari kedua bola matanya yang seakan tertutupi oleh awan mendung. Menggigit bibir agar suara tangisnya tak pecah. Melati mendekap tangisnya kuat, erat sampai sesak. Melati kembali meluruskan pandangan pada cermin itu… benar! Itu dirinya……
Setiap kali Melati dalam situasi tertekan dan terbakar amarah maka sosok mengerikan dengan pandangan membunuh akan hadir. Hadir dalam bayangan Melati di cermin. Yang berarti bahwa itu adalah dia… Melati Putri, seorang gadis muda keturunan Jawa – Menado yang tinggal bersama kedua orang tuanya disebuah rumah di kawasan pinggir Jakarta.
Lagi – lagi kemarahan dan rasa benci yang dahsyat menguasai dirinya di kejadian beberapa jam yang lalu, saat Melati menyaksikan kembali pertengkaran hebat kedua orang tuanya. Ketika dengan ringannya laki – laki yang Melati akui sebagai ayah memukul wajah wanita yang dipanggilnya ibu. Dalam waktu yang singkat adegan itu berakhir dengan tangisan ibu yang menyayat – nyayat hati Melati dan kepergian laki – laki tua itu dengan meninggalkan bekas memar di sekujur tubuh ibu.
“ Aku menyesal….hikss….hikss….?!’ teriak Ibu dengan gemuruh tangis
“Aku sudah tidak kuat hidup dengannya, atau lebih baik aku mati!…..” Keluhnya, peluh oleh air mata dan perih hati bukan hanya karena luka fisik semata.
Melati mencoba memendung tangis air mata itu walaupun diiringi dengan tangisan Melati yang hampa, memberikan kekuatan terakhir yang ada pada Melati untuk dipersembahkan pada ibu tercinta, walaupun hanya tepisan penolakan yang ia terima,
“Kamu itu anaknya…! Seharusnya aku juga membenci mu! Aku menyesal menjadi bagaian dalam Kehidupan kalian. Aku sungguh menyesal………”
“Tuhan….. ambil saja nyawaku,,,,, Aku tersiksa……Tuhan…”.
Melati jatuh, jatuh ke dalam jurang terdalam yang digali oleh ayahnya sendiri dan dilemparkan ke tepian tebing terjal oleh ibu yang telah bertahun – tahun merawatnya sebagai ibu tiri.
Sungguh, Melati perih,,,,, sakiiiiiiit….. kemudian timbul amarah dan benci dengan mereka…. Dengan keadaan ini….. Keadaan yang seketika akan berubah kembali saat Ibu kembali memafaakan ayah, dengan iringan penyesalan yang dalam dari laki – laki yang sangat dicintai ibu hingga dirinya rela terjatuh, terjatuh dan terjatuh lagi…… Dan semua ini membuat Melati tersiksa……
***

Ke-esokkan paginya. Matahari kembali memberikan senyum yang dirasa basi bagi Melati. Kokokan ayam yang telat bangun dan gonggongan anjing seakan meledek dan mencerca wajah Melati yang sembab oleh bekas tangisan semalam. Melati tak peduli!… Bahkan semuanya tak berarti.
Melati telah siap. Pergi, kemana angin membawanya. Menyamping sepeda tuanya keluar dari bagasi. Langkah Melati sempat gontai ketika baru melangkah, menerka apa lagi yang akan terjadi selanjutnya? Dikeluarganya, dikehidupan Melati?
“Mel…!!”
Panggilan itu tak langsung membuat Melati menoleh. Suara yang amat ia kenal?
‘Ibu, apa inginmu?’ Tanya Melati dibatinnya yang gerah…
“Mel, sudah ibu duga. Pasti kamu mau mangkir lagi dari sarapan pagi!?” Ibu langsung mendekati Melati yang berdiri di gerbang depan rumah. Posisi Ibu kini ada dihadapan Melati. ‘Apa ini? Melati sungguh tidak habis pikir?dengan cepatnya tangisan kemarin berubah menjadi senyuman di wajah ibu?
“Ibu bawain bekal buat kamu nich, dihabisin yah!” Ibu meyodorkan tepak. Dan Melati bisa menebak apa isi nya; bihun goreng dengan telur setengah matang yang baru ibu masak subuh tadi. Itu adalah makanan kesukaan ibu dan ibu tahu, bahwa aku tidak pernah suka dengan makanan itu?!. Tapi seperti biasanya tidak boleh ada penolakkan. Aku menerimanya, jika tidak demikian maka aku harus kembali melihat tangisan ibu sebab dia selalu menganggap dirinya adalah ibu tiri yang jahat karena tidak dapat membahagiakan diriku. Itulah hal yang tak pernah aku mengrti dari ibu???
Melati masih ingin diam. Diam dalam pandangan melihat wajah ibu yang masih menyungging senyum di bibir merahnya yang ranum. Belum puas Melati menghisap bahagia diwajah ibu, tiba – tiba terdengar teriakan. Sumber suaranya dari halaman samping. ‘Seperti suara ayah?’ Melati dan Ibu segera bergegas. Sesampainya mereka di kebun samping rumah. Aroma amis yang pekat menyerang mereka. Ibu langsung mual – mual.
“Darah…..”
Ayah tengah meratap. Tangannya berumuran darah.
“Apa yang terjadi yach?” Tanya ibu sambil menutup hidungnya rapat dengan tangan.
“Manis bu, Manis dibunuh…?” Jawab ayah lesu mengisyaratkan kekecewaan
“Apa ? dibunuh? Siapa yang tega berbuat begitu yah?, tidak mungkin dia dibunuh,,,,!?” duga ibu. Manis adalah nama seekor kucing anggora kesayangan ayah yang telah 5 tahun dirawat dan dibesarkan oleh ayah sejak manis masih kecil dan dibawa ke rumah ini. Kondisi Manis sekarang mengenaskan. Manis terkapar bermandikan darah. Bulu nya yang berwarna putih berubah menjadi merah kecoklatan. Ironisnya Manis seolah disembeli, lehernya tergorok. Sebagiam tubuhnya tercabik – cabik.
“Darah” Melati tak bisa lepas pandangannya pada si manis. Manis yang telah meninggal. Dibunuh?. Seketika Melati menemukan potongan ingatan yang hampir hilang dari pikirnya. Tidak jelas. Semuanya kabur. Apa ?
Melati merasakan kehausan yang luar biasa, ketika nalurinya mengajak untuk menyalurkan gejolak itu. Setiap kali Melati merasa tertekan hingga amarah menguasai dirinya Melati tidak mampu untuk mengontrol dirinya.. Melati selalu mengatakan bahwa yang paling dia benci di dunia ini adalah dirinya, orang tuanya dan hidupnya. Kehidupan Melati yang telah mati. Melati yang telah mati. Melati yang telah membunuh hidupnya dan mengajak yang lain untuk mati bersamanya. Melati sungguh tidak sanggup melihat manis dalam keadaan mengerikan seperti itu. Melati segera meninggalkan tempat itu, membawa bayang – bayang yang mengerikan dalam pikirnya yang liar.

***
Angin berhembus lembut menerpa tubuh Melati, Membelai rambut hitam Melati yang panjang terurai. Melati dapat merasakan melodi angin yang mondar – mandir menari – nari disekelilingnya. Wangi dedaunan yang tersapu angin mampir dihidung Melati. Segar, juga wangi alam yang akan turun hujan. Batin Melati tentram dan nyaman. Seakan berada di atas awan, mengawang jiwa Melati terbang. Makin tinggi, makin menepi, makin curam. Melati berada ditepian batas balkon dari lantai 5 sebuah bangunan. Melati membentangi tangannya, membuang jauh – jauh resah gelisahnya dan membiarkan angin membawanya jauh. Melati melihat kebawah, tinggi sangat tinggi. Melati memejamkan mata bukan karena rasa takut atas ketinggian itu, yang sebenarnya malah membuat Melati makin syahdu dalam peraduan alamnya. Angin makin kencang. Melati membuka kelopak matanya memandang langit yang suram karena mendung ingin menghujan. Melati makin ketepi, makin meratapi cumbuan alam yang memberi dirinya kedamaian.
‘Tuhan ambil saja aku…” suara Melati berbisik,,
Aku….
Pergi…..
Ingin….
Pergi….
Ingin aku pergi….
Pergi… pergi…. Dan pergi….
Aku ingin…….

Melati tersentak ketika tubuhnya tertahan. Seseorang tiba – tiba mendekap tubuhnya kuat. Melati menoleh kebelakang. Matanya beradu dengan tatapan redup seseorang pria yang masih memeluknya erat. Pria itu menyalurkan berbagai macam kekuatan.. rasanya hangat dan bertambah nyaman jiwa Melati yang kini ikut menari dengan gelombang angin yang bergumam iri pada dedaunan melihat mereka berdekapan dalam irama cinta yang memabukan.
“Rian,” panggil Melati
Rian, nama pemuda itu menyahutnya mesra,
“ya,”
Rian melepas ikatan tubuhnya, bukan menyudahi pelukan itu tapi menuntun Melati untuk turun dari tepian gedung yang dapat membahayakan diri mereka. Melati menurut. Tak melepaskan genggaman tangan Rian.
Rian menarik dekat Melati dan kembali memeluknya, dan mengusapkan tangannya pada mata Melati yang sendu dan layu karena sisa – sisa air mata hingga Melati memejamkan matanya, sehinggga Rian bisa melihat kesedihan dari bunga cintanya ini dengan mata hatinya. Dan pada saat itu melati berucap,
“Aku sangat mencintaimu, Rian,,”
“Aku lebih mencintaimu Melati,,” Jawab Rian dengan jawaban yang lebih mantap.
“Sekiranya aku dapat menggantingkan sedihmu maka aku sangat bahagia Mel, Akan ku hapus air mata mu, lebih cepat dari husapan tangan kau sendiri ketika sudah tak terbendung lagi rasa sakitmu, Jiwa ini sebenarnya menderita melihat jantung hatiku menjadi lemah dan merana resah seperti sekarang ini.”
“Mel, katakanlah apa yang harus aku lakukan, sekiranya benar kau inginkan aku!, jadikan lah aku sesukamu dengan cinta yang kau miliki,”
Sungguh, hanya dengan Rian lah Melati mampu merekah kembali. Rian adalah kekasih Melati yang setia penuh cinta pada Melati. Melati dapat merasakan hal itu walaupun percintaan mereka terbungkus rapat menjadi sebuah penghiantan. Mereka ingin berteriak pada dunia bahwa mereka saling mencinta tapi tak mungkin? Karena Rian telah ada yang memiliki. Seseorang yang juga berarti dihati Melati.

***

“Melati. Boleh aku minta sesuatu ?” Suara itu terdengar lemah dan serak.
Melati masih ingin diam. Memadang seraut wajah pucat yang terbujur lemas dihadapannya di atas dipan putih rumah orang – orang sakit.
“Melati, kau adalah sahabat terbaik ku. Aku,,,”
“Tria, apa pun yang kau ingin, apapun yang kau mau, sekalipun aku tidak bisa melakukannya aku akan terus berusaha untuk membuatmu bahagia. Tapi aku mohon kau harus kembali sehat, kau adalah sahabatku satu – satunya. Aku membutuhkanmu.” Perlahan air mata itu meleleh. Cair di mata Tria dan Melati.
Belakangan hari ini jiwa melati hancur berkeping – keping. Sekeping bahagia telah hilang di tengah – tengah keluarga Melati. Sebagian memang telah hilang ditelan derita. Dan sungguh, Melati tak ingin kehilangan Tria sahabatnya sejak kecil, yang selalu membesarkan hati Melati kala resah dan putus asa melandanya.
“Aku….,” Ucap Tri menggantung, seakan kebimbangan masih memberatkannya untuk mengutarakan apa yang Tria inginkan dari Melati. Berat… Dan entah harus darimana tria memulainya?.
“Tria katakanlah! Apa yang kau inginkan,” Melati semakin erat menggenggam tangan Tria. Dan Tria membalas dekapan tangan Melati dengan tangan kirinya yang masih terpasang jarung infuse.
“Maafkan aku Melati,,, Aku pinta padamu untuk menjauhi Rian. Jujur aku sangat cemburu. Kalian terlalu akrab. Kau tidak memiliki hubungan apapunkan dengan Rian?!”
“Maaf, kalau kau sedikit tidak nyaman dengan ucapanku ini! Tapi aku mohon Melati. Jauhi Rian! Aku sangat mencintainya,,,,,,,”
Hati Melati..!!!Sesak. Pada saat itu, melati langsung menggulirkan air mata bening kepedihan. Melati seakan ketakutan dan langsung melepaskan kaitan tangannya yang tergenggam di tangan Tria. Tria mencoba untuk kembali menggapai tangan Melati. Dengan tatapan Nanar Tria memohon kepada Melati. Melati hanya dapat berdesis dalam hati “Inikah persahabatan itu?begitu jahatkah diriku”, sementara denyut jantungnya masih berdegug kencang. Menghancurkan. Karena Dirinya telah menghianati Tria. Melati Tak menjaga hati.
“Melati, aku sangat takut kau merebut Rian dari sisiku, …” Tria membendung tangisnya
“Aku mencintainya, aku tak memiliki waktu banyak untuk merasakan manisnya cinta bersama orang yang aku cintai. Hanya sebentar saja waktu ku tersisa untuk Rian. Dan aku ingin Rian selalu ada disisiku. Aku mohon…! Aku pun sebenarnya tidak enak harus mengatakan hal ini padamu. Aku tak tahu harus bagaimana??”
Melati masih membisu dalam kediaman. Kediaman yang gelap, kediaman yang kosong. Kediaman yang menyakitkan. Penghianatan. Melati yang dengan tega nya menghianati Tria. Akan tetapi dengan egoisnya Melati mengatakan dalam diamnya “Aku pun mencintainya Rian! Dan tak ingin kehilangannya,”

***

Rasa bersalah menggelayuti Melati. Langkah Melati gontai, bahkan rasanya seperti tak menapak lagi di bumi. Pikirannya mengawang entah berlari kemana? Sorot mata yang dipancarkan sama sekali tak bermakna. Hampa. Bahkan Melati kini seperti mayat hidup. Rasa sakit yang telah merasuk telah menguasai dirinya. Semakin Melati ingin membuang jauh rasa itu, semakin ia merasakan sesak yang luar biasa di dada. Melati masih berjalan, melangkahkan kaki sesukanya. Langkah yang tak terarah. Melati hanya mengikuti kemana kaki nya berjalan. Melati merasa sepi. Tak ada satu orang pun disekelilingnya padahal sesungguhnya Melati berjalan di keramaian. Lalu lalang orang sama sekali tak terlihat di mata Melati sampai beberapa kali Melati harus bersinggungan dengan beberapa orang yang tersenggol.
“Punya mata gakk sih Mbak?” protes seorang pria. Melihat wajah dari gadis yang menyenggol nya tersebut pria baya itu langsung berubah. Mengurungkan niatnya untuk menumpahkan kekesalan. Pergi dan merasakan keanehan yang tiba –tiba menerpanya. Wajah gadis itu pucat.
Beberapa hari ini Melati seperti hidup segan matipun jadi salah satu pilihan walaupun kematian belum mau datang menjemputnya. Melati sungguh tak habis pikir mengapa dengan sangat tega dirinya menusuk Tria dari belakang? Melati mengujat dirinya. Mengutuk dirinya yang sangat kejam.? Menjadi pencuri kekasih hati sahabatnya sendiri. Melati sendiri tahu bahwa waktu yang dilalui Tria sangat berarti. Tria sering bilang,
“Mel, kamu masih memiliki masa depan. Kehidupanmu masih panjang. Kau bebas merancang masa depan yang kau inginkan dan sesuai kemampuanmu. Tak seperti diriku yang telah dikawal malaikan maut. Untuk bernafas saja aku masih sering kesulitan. Seharusnya kau lebih mensyukuri hidupmu. Dan tak bersikap loyo!harusnya kau cayoooo!!!. “
Ucapan itu yang kini menghantui Melati.
Tria, kau lebih baik dari diriku. Kau lebih bersemangat menjalini kehidupan. Aku sanggup untuk mempersembahkan apapun untuk mu bahkan nyawaku, tapi sungguh aku tak sanggup jika harus merelakan Rian untuk sedetik saja bersamamu.
Melati risau, hatinya galau. Bukan sekedar bimbang. Cintanya yang berarti hidupnya atau sahabatnya yang artinya nyawa Tria? Karena Tria hanya mampu menjalani hidupnya dengan harapan. perawatan dan obat-obatan untuk memperbaiki fungsi hatinya sampai Tria menemukan orang yang mau mendonorkan jatinya dan itu amatlah sulit.. Tapi sekarang hati Melati yang tersiksa. Dan melati sungguh tak berdaya. Membuang cinta nya yang tak tepat berada.

***
Aku melihat sekuntum Melati mengangkat kepalanya. Menengadah ke langit nan luas. Entah apa yang dipikirkan gadis bermata sendu itu?. Tatapan yang selalu sama. Hampa. Penuh Tanya bagi setiap manusia yang melihatnya. Ach, aku ingin dapat mendekap tubuh mungil itu, menghilangkan gulanda hatinya, membuat bibir itu melengkung menyungging senyum. Sungguh, aku benci dengan keadaan ini. Jiwa ku terkungkung dalam sangkar besi. Merana dalam rindu yang menyakitkan. Hatiku pilu seakan teriris – iris sembilu saat kau hanya diam membisu. Karena itu aku sempat ragu, benar kah kau mencintaiku? Oh,, Melatiku. Kau kembang hati yang sulit ku pahami terlebih lagi untuk mengerti cinta yang kau miliki. Andaikan kau berkata “Ya!” ketika aku berniat membongkar rahasia ini. Kau malah mengacuhkan ku, dan membunuh cintaku pada mu. Dan tak ingin bertemu lagi denganku. Melati aku merindumu dan aku harap kau pun begitu……
***

Kebahagian terpancar jelas di wajah Tria walaupun sisa – sisa pucat masih bersemayam disana. Bagi Tria harapan tinggal lah harapan. Tria tak ingin berharap lebih untuk hidup yang lebih lama. Tria hanya punya semangat yang tak akan pernah habis oleh waktu yang begitu cepat berlalu. Tria tak mau mati sebelum berkembang. Sudah 2 minggu ini Tria menginap di rumah sakit. Waktu yang lamaaaa… 2 abad rasanya.
Akhirnya, dengan desakkan dan bujuk rayu Tria. Dokter dan sang mama mengizinkannya pulang hari ini, “Horee..!” Gumam Tria dengan senyum teramat lebar di bibirnya yang tipis. Tapi, dibelahan hatinya yang lain Tria merasa dahaga. Haus akan kehadiran Melati disisinya. Semenjak kejadian itu Melati tak kunjung datang untuk sekedar mampir menjenguknya. Mungkin dirinya teramat kejam untuk Melati. “Sahabat macam apa aku ini?” Tria membatin. Di sisi lain Rian yang sejak tadi anteng duduk manis di kursi. Menunggu Tria yang sedang bersiap, bebenah diri. Rian seolah sedang menangkap resah gadis itu. Tria yang sadar dirinya diperhatikan. Buru – buru menampik rasa bersalah yang menggelayuti hatinya. Tria meraih cermin di meja. Mengaca, dengan seksama melihat dirinya di cermin itu. Dan berujar Tanya,
“Apakah diriku terlihat jahat Ian?”
“Kenapa Tanya begitu Tri?” Rian malah balik bertanya.
“Jawab saja!”
Rian makin mendekat. Mendelikkan mata pada Tria, membuat gadis manis di depannya itu salting.
“Ngeliatinnya begitu banget sich!?”
“mmmch…, Iya Tri!”
“Jahat gitu? Masa???? Ya, ampun!” Tria jadi gemetar. Begitu buruk kah wajahnya? Gak…..!
“Iya Ri, wajahmu pucat banget!!”
“Pucat???!”
“Iya, Cepet sembuh yach! Makan yang banyak, istirahat yang cukup, obatnya diminum!” Rian mengelus kepala Tria lembut. Seketika kehangatan yang dalam merasuk ke hati Tria. Nyaman.
“Rian!”
Tiba – tiba Tria memeluk tubuh Rian. Erat sekali. Pelukan itu tak ingin dilepas oleh Tria.
“Tria, gak mau kehilangan Ian dan Tria lagi kagen banget sama Melati,!”
Mendengar ucapan Tria itu, Rian malah semakin merindu pada Melati. Rian berandai. Andai saja kata itu yang di ucapkan oleh Melati. Mungkin Rian akan terbang ke dalam surga.

***
Kelam mempercepat malam. Langit mulai mengabarkan akan turun hujan. Desis angin berbisik lewat dedaunan dan rerindangan dahan. Senja yang muram. Petir saling berkumandang. Prahara kian menjadi saat Melati menembak pandang pada darah di lantai. Darah yang merah dan kental. Amis yang semerbak mewangi ruangan. Melati terkejut bukan kepalang. “Darah apa ini? Kenapa ada darah? Darah siapa?” hanya Tanya dan bingung di pikir Melati yang terkacaukan oleh keadaan. Melati menjejak. Menapaki ceceran darah yang menuntunnya, melewati ruang tamu menuju dapur. Lantai keramik yang putih berubah jadi merah. Becek oleh darah. Terakhir Melati meninggalkan rumah tidak ada yang aneh? Semuanya Nampak biasa. Tapi sekarang? Oh, Tuhan…. Melati gemetar. Tiba – tiba terdengar rintihan tangis. Suara ibu Melati yang sempat ragu menuju dapur segera bergerak kearah sumber suara itu. Ya. Dapur. Setelah melewati ruang makan.
“IBU…!?” Teriak Melati ketika melihat sang ibu bersimbah darah dan duduk terjongkok tergeletak di pojok ruangan. Melati tak langsung mendekat ketika menyadari di tangan ibu ada sebuah pisau yang telah berlumur darah. Melati melangkah mundur. Di sisi lain, Melati lebih terkejut setelah melihat dipojok kanan dapur dekat kompor gas, ayahnya bermandikan darah dengan keadaan perut terobek sedangkan darah masih keluar dari dalamnya.
Melati sangat tergoncang. Bumi terasa berputar lebih cepat. Yang terjadi? Keadaan ayah seperti si manis yang pada waktu itu mati. Melati semakin tak mengerti? Jiwanya seakan pergi melayang meninggalkan raganya yang hanya diam, untuk sekedar menangis saja tidak.

***

“Apa yang terjadi dok?”
“ Ada apa dengan Melati? Kenapa dia ada ditempat ini??” Tanya Rian bergulat cemas.
“Tenanglah Rian, Tiga hari yang lalu Melati sediri yang datang kepadaku. Dia tidak berbicara apa – apa . Pandangannya kosong dan wajahnya sangat pucat.”
“Melati datang kemari?Untuk apa?” Rian semakin tak mengerti. Melati datang ke tempat ini?rumah sakit jiwa?
Siang ini Rian ditelefon oleh seorang wanita. Rain menangggapi wanita itu karena yang dibahasnya singkat adalah Melati. Rian secepat kilat bergegas kemana wanita yang mengaku seorang dokter itu menyuruhnya ketempat sekarang dia berada. Rumah Sakit Suka Waras
“Ibu Andira adalah salah satu pasienku. Sejak 5 tahun terakhir ini Melati selalu rutin membawa ibunya kesini! Ibu Melati mengalami gangguan jiwa serius”
“Gangguan jiwa dok?”
Yang ditanya mengangguk datar.
“Yang aku ingin sampaikan padamu Rian adalah keadaan Melati.!”
“Kenapa? Melati?Oya, darimana dokter tau tentang diriku?”
“Dengarkan lah dulu. Kau harus tenang..! Melati memang menyembunyikan keadaan diri dan keluarganya dari siapapun bahkan Tria sahabatnya. Melati selalu menceritakan kau pada ku. Bisa dibilang Melati juga sahabatku sekaligus…pasienku.”
Pasien?. Rian semakin bingung. Betapa bodoh dirinya yang mengaku cinta tapi yang Rian tahu dari Melati dan keluarganya hanya sebagian kecil.
Rian diam dalam kepalanya yang mau pecah dirasa.
“Ketika Melati datang, dia hanya diam. Kondisinya memprihatinkan. Tubuhnya gemetar. Dia sangat lemas dan pucat. Setelah beberapa jam Melati tak mau berbica apapun. Tiba – tiba Melati berbicara, Aku sangat kaget mendengarnya tapi aku percaya . ‘Aku telah membunuh kucing kesayangan ayahku dan kini….. Ayah ku dibunuh ibu…’ Aku kira melati sangat serius selain rasa takut yang terpancar jelas diwajahnya, kemudian aku langsung melaporkan kejadian itu pada pihak polisi. Ternyata benar! Kedua orang tuanya telah meninggal dengan keadaan yang mengenaskan! Setelah ibunya membunuh ayah Melati. Ibu Andira bunuh diri.”
“Apa?”
Rian terperangah mendengar penuturan dokter Mila. ??? Ironis, sangat sulit dipercaya. Berkali – kali Rian meyakinkan dirinya bahwa ini bukan mimpi. Ini Nyata!
Ekspresi wajah Rian tegang. Tegang.. dan penuh ketidakpastian. Masih tidak percaya dan belum mau mempercayai semua ini. Pikir Rian langsung terpatri nama Melati. Melati yang kini tengah menderita. Tak ada kata yang ingin dekeluarkan Rian keculai Melati…. Melati…
“Rian,?!” Dokter Mila memanggil Lelaki klimis di depannya ini.
“Kau masih mau mendengar semuanya? Kontrolah dirimu!”
“Teruskan dok, “
“Aku sedang melakukan observasi mendalam terhadap Melati!?” .
“Maksud dokter?”
“Rian, kondisi Melati sangat tergoncang..!?” Dokter Mila menarik nafas sejenak
“ Jujur aku menyesal karena aku tak tahu banyak tentang Melati! Bodohnya diriku ini dok!?” Tak menyangka dokter Mila bisa melihat setetes air mata mengalir lembut di pipi Rian.
“Tidak seperti itu Rian?” Dokter Mila mendelik
Rian hanya mengaguk pasrah dalam penyesalan
“Tapi melati selalu menceritakan dirimu padaku, bisa dikatakan Melati dapat bertahan karena ada dirimu disisinya!” Rian semakin tertunduk lemas.
“Rian kondisi Melati sangat tak setabil. Dia membutuhkanmu, kau bisa membayangkan dengan mata kepalanya sendiri, Melati melihat ayahnya meninggal dengan keadaan yang mengenaskan dan harus menerima kenyataan bahwa ibunyalah yang membunuh. Jujur, aku sangat khawatir padanya,”
“Dokter membuat ku semakin tak mengerti? Tolong dokter katakanan kepadaku dengan jelas semua tentang Melati!Aku mohon!”
Dokter Mila adalah seorang psyikater yang menagani Ibu Melati. Andra Pratama. Selama bertahun – tahun Dokter Mila berusaha menyembuhkan Ibu Andira tapi karena hambatan dari sang suami yang merasa ibu Andira sebagai istrinya tak memiliki masalah apapun, pengobatan dihentikan. Ibu Andira memang pernah dinyatakan sembuh tapi setiap orang yang pernah memiliki riwayat kejiwaan dimungkinkan akan mengalami kembali atau akan kambuh lagi karena beberapa faktor. Dan inilah yang terjadi pada Ibu Andira, tekanan dari sang suami ayah Melati yang selalu menyelingkuhi Ibu Andra dengan terang – terangan membuat Ibu Andira mengalami ketegangan batin. Dan kebergejolakan jiwanya. Ibu Melati memiliki cinta yang tulus pada sang suami dan Melati yang amat dikasihinya, walaupun Melati sendiri bukan anak kandungnya tapi semuanya menjadi berbeda ketika cinta berubah menjadi kekecewaan yang dalam dan menyakitkan. Selama bertahun – tahun bu Andiri berusaha tegar dan masih mau mengasuh Melati dengan cinta kasihnya. Hal ini juga menjadi masalah yang serius, pasalnya melati dirawat oleh seorang ibu yang memiliki gangguan jiwa. Pastinya Kehidupan Melati akan sangat berpengaruh oleh tingkah laku ibunya.
“Tapi aku melihat Ibu Andira baik – baik saja dok! Begitu juga Melati walaupun aku selalu bisa melihat kesedihan dimatanya,?” Tukas Rian mendengar penuturan dokter Mila.
“Seringkali orang yang sakit jiwa, tidak merasa bahwa ia sakit, sebaliknya ia menganggap bahwa dirinya normal saja, bahkan lebih baik, lebih unggul dan lebih penting dari orang lain.”
“Dan Melati,,,,” Dokter Mila menggantung ucapannya?
Rian berusaha sabar menanti perkataan dokter Mila dengan ketegangan yang luar biasa menguasai jiwanya.
“Aku khawatir Melati mengalami hal yang sama dengan ibunya!”
Perkataan Dokter Mila bagaikan angin putting beliung yang mengobrak – abrik hati dan pikiran Rian. Menghujamkan penyesalan yang teramat dalam di hati Rian pada Melati. Rian tak henti – hentinya menghujat dirinya. Ini kah Cintanya untuk melati? Rian tak mampu. Awalnya Rian mengira Melati kuat tapi nyatanya dia salah, Melati rapuh. Rian tak kuasa menahan air mata bersalah pada Melati yang diliputi penderitaan.
Kata – kata terakhir dokter Mila,
“Melati sangat membutuhkanmu Rian,” Nasihat Dokter Mila,
“Aku pun membutuhkan kamu Mel, hanya kamu….”

***

Rian memandang seraut wajah itu dengan cinta dan air mata. Melihat gadis itu dengan syahdu hingga hati dan pikirannya tercurahkan sepenuhnya hanya untuk menangkap setiap riak wajah yang selalu sendu itu. Rian tak berhasil! Ekspresi dari wanita berambut panjang terurai itu terlihat muram, sedih dan putus asa. Hanyut dalam dekapan derita berkepanjangan. Rian semakin hancur melihat kondisi Melati sekarang yang diam tak berdaya, membalas pandangannya saja tidak. Pandangan matanya kosong. Jiwa nya entah lari kemana? Kepedihan yang telah berlarut-larut mengecam Melati, membuat dirinya berada di puncak kesedihan, Melati kehilangan keseimbangan mentalnya secara menyeluruh, Penuh tekanan, ketegangan batin. Melati begitu dingin. tak ada perhatian pada apa yang terjadi di sekitarnya. Tidak terlihat reaksi emosional dirinya pada Rian yang kini ada dihadapannya lelaki yang sangat dikasihinya. Tak ada raut emosi marah, sedih dan takut. Melati bersikap acuh tak acuh. Banyak tenggelam dalam lamunan yang jauh dari kenyataan, sangat sukar bagi Rian untuk masuk kepikiran Melati. Melati lebih suka diam dan menyendiri.
Melati merasa bahwa semua orang bersalah dan meyebabkan penderitaannya termasuk dirinya. sampai – sampai tidak mau makan, minum dan sebagainya. Hanya diam, sehingga Melati harus diinjeksi supaya dirinya tertolong tidak pada keadaan yang lebih parah lagi nantinya. Dokter Mila mengatakan bahwa Melati mengalami Melancholia Orang yang diserang penyakit melancholia selalu mengalami perasaan nasibnya tidak baik dan merasa tidak ada harapan lagi. Dan bagi penderita ini lebih menjauhkan dirinya dari kehidupan sekitar. Ia merasa sendiri, merasa berbuat dosa yang tak mungkin diampuni lagi, kehilangan harapan – harapannya.Dan begitulah Melati sekarang.
Di tengah kekhusuan Rian memamandang Melati, hp nya berdering memanggil – manggil. Sampai 10 miscall dari Tria. Bergetar lagi…. Lagi…Rian tak ingin menjawabnya. Dan secara tiba – tiba Melati melempar pandang pada Rian setelah sekian jam Melati membelakangi Rian. Seulas kesejukan menyentuh hati Rian, mata itu. Mata indah yang selalu menyejukakan hati Rian. Mata penuh cinta,, Melati kemudian melihat hp Rian yang terus berbunyi,
‘‘Kau tahu siapa yang menelefon ini Melati?Adakah aku harus menjawabnya ? Apakah kau ingin aku menjawabnya? “ Tanya Rian. Melati hanya diam. Rian, sungguh kecewa. Melati tanpa jawab. Tapi Rian merasa Melati menyuruhnya mengakat telefon itu, Melati sekan tau itu telfon dari Tria. Mungkin dia juga rindu Tria sahabatnya.
Benar. Melati menginginkan aku mengangkatnya. Terakhir Melati menyuruhku menjaga Tria.
“ Ya, Melati, aku akan menjaga Tria untukmu…!” Ujar Rian. Masih terasa hampa. Rian mengangkat telfon
“Rian, !” Panggil Tria di ujung telfon sana
“Maaf Tria, aku tak tahu kau menelfon.”
“Kau ada dimana Ian?, Aku ingin ke rumah Melati. Kau bisakan menemaniku.,..!?”
Rian bungkam. Ke rumah Melati? Tria belum boleh tahu keadaan melati. Kondisinya masih lemah. Rian khawatir Tria tidak bisa dengan baik menerima berita ini. Pastinya dia akan sangat sedih. Dan itu mengancam jiwanya. Rian segera berkilah,
“Ke rumah Melati? Apa aku belum memberitahumu?”
“Apa?”
“Melati beserta keluarganya sedang pergi ke Hongkong.”
“Hongkong?”
“Ia, aku lupa. Memberitahumu. Ibu Melati harus berobat kesana! Kau tahu kan ibu Melati sakit – sakitan terus, sudah 2 minggu mereka disana! Awalnya Melati sempat melarangku memberitahumu karena takut kau khawatir. Tapi 3 hari yang lalu Melati telfon kondisi ibunya sudah membaik.”
“Melati,?! dia selau saja begitu. Suka pergi gak pamit. Aku kan kangen banget sama dia. Tapi Ian, aku udah mencoba telfon ke nomornya kok gak active ya?”
“Kau maklumi saja lah. Kemarin dia juga telfon pake no yang lain,”
“Tapi kenapa dia gak telfonku yach? Apa dia masih marah dengan soal waktu itu?”
“Marah? Kenapa Tri?”
“Eh, enggak. Biasalah. Yaudah dhe, dah dulu yach. Miss u”
Tut,….tut… Tria menutup telfonnya. Rian sedikit menaruh curiga? Perkataan Tria terakhir agak aneh.

***
Sepanjang perjalanan Tria mengeluh. Tria tak mampu lagi memendam gelisah. Hati nya resah. Taxi yang ditumpangi Tria melaju perlahan, menyusuri jalan, melewati perumahan – perumahan yang tersusun rapi dibarisannya. Tinggal beberapa blok lagi Tria sampai di rumah Melati. Hanya seorang diri. Beberapa hari ini Rian sangat sulit di hubungi. Tria berfikiran positif mungkin Rian sibuk dengan pekerjaannya, sesekali Rian sms menanyakan keadaan Tria dan itu membuat Tria tak mampu untuk curiga ataupun berfikiran negative pada Rian. Cinta Tria untuk Rian selalu diiriingi dengan kepercayaan. Begitupula dengan persahabatan Tria dengan Melati. Tria sangat percaya pada Melati. Melati orang yang jujur, akan tetapi setelah sekian lama menjalin persahabatan dengan Melati, Tria tak mampu sangat dalam masuk dalam kehidupan Melati yang masih tertutupi misteri. Melati … oh Melati….
Tria keluar dari taxi, memenuhi kewajibannya membayar. Mengeluarkan selembar 100 ribuan dan tak kembali sisanya untuk tips. Tria masih belum mau melangkah, dengan seksama Tria memandangi bangunan rumah itu. Dari luar, nampak tak terawat. Rumah Melati rindang dengan pohon jambu di depan rumahnya. Tria ingat beberapa kali Tria dan Melati bermain di dekat pohon itu. Dulu. Tria sangat rindu dengan Melati, hingga tanpa sadar air mata menetes di pipi Tria yang mulai memerah karena sedih tiba –tiba melanda.
“Neng, sedang ngapain disitu?” seorang tua tiba – tiba bertanya. Sedikit mengagetkan Tria saat itu. Tria mengapus air matanya dengan selembar tissue yang digenggamnya sejak tadi.
“Mmmh… Aku Tria nek, mau ketemu Melati, tapi rumahnya terlihat sepi sekali yach? Apa mereka belum pada pulang ?”
“ Mereka memang telah pergi neng. Sudah tidak ada orang lagi dirumah itu? Mungkin rumah itu akan dijual. ”
“Apa dijual?mereka pindah nek?”
“Jadi kamu belum tahu neng?”
“Tahu apa?”
Apa yang aku tak tahu. Ada yang aneh??.
I ***
Tria memeganggi dada nya kuat. Merasa sangat sesak. Jantungnya berdebar kencang. Berpacu cepat. Tria mencoba menarik nafas, Walau pun tak sampai. Kaki Tria terasa lemas, sulit untuk melangkah, beberapa kali Tria hampir terjatuh. Terhuyung – huyung Tria mencoba duduk di bangku itu. Dekat taman.
“Tria kamu harus kuat, demi Melati. Dimana kau? Ada apa denganmu sebenarnya?” Tria makin merasa bersalah pada Melati, dia sempat mencurigai Melati menjalin hubungan dengan Rian. Tria salah. Aku yang salah! Melati tak begitu, dia sahabatku . Mata itu terlanjur basah oleh air mata yang mengalir deras di pipi Tria. Hal ini membuat dirinya droub.
Selama ini Melati selalu ada disaat Tria bahagia ataupun putus asa menjalani hidup ini. Dia penghibur lara bagi Tria, dia penyemangat Tria. Tapi.. betapa tak bergunanya Tria. Disaat Melati mengalami musibah dirinya tak ada malah dengan kejamnya Tria mencurigai Melati. Tria makin merasa bersalah. Berkali – kali Tria mengatur nafasnya. Matanya terpejam untuk menenangkan pikirnya yang kacau. Namun pedih dan sesak tak kunjung hilang. Tria menggigit bibir. Mencoba kembali bertahan.
Tria sungguh syok dengan penuturuan nenek tadi. Dia bercerita banyak. Jadi selama ini Melati diasuh oleh ibunya yang sebenarnya tidak waras. Ibu Andira gila. Sampai akhirnya kedua orang tua Melati meninggal saling membunuh. Betapa malangnya Kehidupan Melati. Sahabat macam apa aku ini ? Aku tidak tahu banyak tentang dia? Melati selalu bahagia di depanku walaupun dia selalu menjalani hidup dengan ‘ogah – ogahan’ tapi dia tak pernah mengeluh. Sekarang dimana Melati? Tidak ada yang tahu? Tria diam dalam lamunannya. Pikirannya kemudian tertancap ke Rian. Bukankah Rian bilang Melati pernah menelfonnya? Tapi kenapa Rian malah bilang ibu Melati sakit? Kenapa dia berbohong?Apa benar Melati berada di Hongkong? Berarti Rian tahu keadaan Melati dan yang terjadi padanya? Ah, aku sakit. Mungkinkah karena mereka mencemaskan keadaanku makanya mereka tak mau cerita? Ya, aku wanita lemah.
“Aku harus kuat. Aku harus bertahan. Aku harus mampu memecahkan misteri Melati.!!”
Saat itu, Tria mencoba bertahan. Tak kan jatuh walaupun rasa sakit mendekap tubuhnya kuat.

***

Hari ini matahari berbinar – binar menerangi pagi. Cahayanya yang remang – remang menyelinap masuk ke kamar seorang gadis. Tria masih terkapar di peraduannya, bukan karena rasa malas tapi karena kondisinya beberapa hari ini semakin nge – droub. Mama Tria dibuat panik. Subuh tadi mama telah menelfon Rian untuk datang ke rumah. Alhasil, Rian datang mengunjungi Tria juga dengan rasa cemas. Dia berharap keadaan Tria akan baik – baik saja.
Rian telah duduk manis di pinggiran kasur. Menunggu Tria bangun dari mimpinya. Memandang wajah pucat di depannya. Mengingatkan dia pada Melati yang juga sama. Tergeletak lemah tak perdaya. Suasana ini begitu hening, hanya Rian berdialog dalam batin,
‘Apakah aku boleh memilih antara dua wanita ini? atau adakah aku mencintai keduanya?”
‘Tidak. Hatiku hanya ada satu. Untuk Melati. Tapi Tria juga membutuhkan ku! Mana yang harus ku pilih? Melati aku berharap kau mampu berharap lagi. Harapanmu masih ada Mel, Juga kau Tria, bersemangatlah! Kau akan tetap hidup!’
Rian gusar. Akan hatinya yang gamang. Dilema yang menyakitkan dirinya sendiri.
‘Maafkan aku Tria,,” Rian mengelus mesra kening Tria. Menggenggam tangan Tria yang dingin. Mendapatkan sentuhan lembut itu, Tria membuka matanya perlahan. Mengumpulkan kekuatan untuk dapat membalas genggaman tangan Rian.
“Kau sudah bangun Tria?” Rian memastikan. Seulas senyum menghiasai bibir pucat itu.
“Kanapa kondisimu nge –droub lagi Tri? Apa kau nakal? Tidak minum obat? Tidak istirahat? Kau tidak menuruti kata –kataku waktu itu? Kau ingin aku membawamu kerumah sakit lagi?”
Tria, malah kembali menunjukan senyumnya. Bahagia Tria bisa berada disisi Rian.
“Teruslah berada di sisiku Ian! Jangan tinggalkan aku,!” Pinta Tria yang langsung memeluk Rian. Rian membalas pelukan hangat itu. Badan Tria rasanya panas. Cukup tinggi. Rian menyudahinya. Rian kembali meletakan Tubuh Tria ke pembaringannya.
“Aku akan menemanimu! Tapi kau harus istirahat Tri, Kalau tidak…”
“Ya, kau akan membawaku ke penjara.”
“Lho kok penjara?”
“Iya. Bagiku rumah sakit adalah penjara.”
Kali ini Rian yang tersenyum manis semanis tebu.
“Rian,” Panggil Tria,
“Mnnmhh,,,”
“Aku sangat merindukan Melati,”
Rian tertegun mendengar ujar Tria,
“Apa Melati tidak menelfonmu lagi Ian?
Rian bungkam. Rasanya berat membohongi Tria lagi.
“Ian…”
“hhh, Tidak Tri, Melati tidak mengabarkan lagi. Mungkin dia sangat sibuk dan ingin memfokuskan diri mengurus ibunya. Pastinya dia juga sangat rindu denganmu. Itu yang terakhir dia bilang pada ku Tri. Sebaiknya kita doakan saja! Dia pasti cepat kembali.”
‘Kenapa kamu bohong Ian?kenapa?’ Apa yang sebenarnya kau sembunyikan?
“Baiknya kau istirahat Tria. Sudah jangan memikirkan hal yang berat – berat lagi. Tidur Yach!”
Rian menyelimuti Tria. Memberi kehangatan dengan menggenggam tangan Tria.
Tria terpejam dalam tidurnya yang pedih atas kebohongan Rian yang sangat sulit Tria terima. Menangis dalam hati dan menepis segala asa yang datang menyerang pikirnya.

***
Pelan – pelan. Dengan mengendap – ngendap Tria berjalan tertatih – tatih. Keluar kamarnya. Tria merasa tubuhnya lemas tapi harus dipaksakan. Tria terus memegangi dadanya dan mengelap keringat di keningnya karena letih melanda padahal Tria baru melangkah. Langkah yang lunglai. Tria memaksa dirinya untuk pergi mencari Melati. Mengikuti kemana Rian pergi. Tria yakin, Rian menyembunyikan sesuatu. Tentang Melati dan Tria ingin bertemu dengan Melati. Tria harus kuat! Melati… dimana kamu?

***

Hari ini cerah. Awan saling beriringan. Matahari tak begitu terik memancarkan sinarnya. Kemayu di tahtanya. Seperti Melati yang masih saja diam. Tenggelam dalam batinnya. Hanyut oleh arus kesedihan yang terdalam. Duduk termangu di bangku taman. Pandangan yang entah hilang kemana? Jiwanya yang melayang terbang bersama semilir angin yang membelai anggun menyisir rambutnya. Ayu dengan rambut panjangnya yang tergerai hitam.
Bawalah aku bersama mu Melati… ijinkan aku mengulas kembali senyum indahmu. Sunyum yang dapat membuat burung – burung berkicau merdu. Syahdu. Senyum yang membuat daun berbisik usik. Dan dahan menari riang. Senyum yang memesona dan memikat hatiku……..
Rian, tak tahan dengan kediaman Melati. Memeluk tubuh mungil itu. Mendekapnya seperti biasa. Menghilangkan semua sedih hati gadis yang sangat di cinta dan mencinta nya. Erat. Kuat. Rian tak ingin melepaskan kehangatan ini. Hati Rian merasakan pedih yang luar biasa menguras hatinya. Melati tak membalas pelukan Rian. Melati dingin. Hampa. Dan diam. Tak seperti biasanya. Rian hancur dibuat nya. Rian merintih karena perih.
“Melati adakah pelukan ini tak mengingatkan kau padaku? Kenapa kau hanya diam Mel,? Aku mohon jangan lupakan diriku? Aku mohon kau harus kembali, kembali kesisi ku.”
Rian ingin lebih lama dalam pelukan Melati. Tak ingin lepas. Izinkan aku menghentikan waktu. Biar aku hanya berdua denganmu. Menghabiskan masa dan membunuhnya bila menghalang. Biarkan aku bebas memilikimu. Rian berjanji akan membahagiankan Melati selamanya, dipelukannya. Rian sudah tidak peduli lagi. Tak peduli oleh semua. Hanya cintanya yang kuat dan Melati yang ada dihati dan pikirannya.
“Melati, aku mencintaimu! Buktikan lah kalau kau juga mencintaiku….”
“Buktikanlah….” Rian terisak. Tak mampu menyumbat air matanya yang menetes bening. Rian terhenyak. Tangis Rian sepertinya mampu merebut hati Melati kembali. Hingga jiwanya membalas merengkuh Rian. Membalas pelukan Rian. Lebih kuat. Kuat. Sangat erat. mendekap Rian. Menangis bersamanya. Mencinta dan meluapkan rindu yang kuat menggigit. Rian tersikap, mencoba mempercayai dekapan Melati. Benar ini Melati!
Rian bahagia bukan kepalang. Sudah hampir sebulan Melati tidak menunjukan tanda – tanda kesembuhan, kini Melati mampu merespon Rian. Orang yang sangat mencintainya dan dicintainya. Rian kegirangan – riang. Tak berkedip menatap Melati. Sinar itu kembali,,, Sekali lagi Rian memeluk Melati dan Rian bergegas cepat melaporkan keadaan Melati pada dokter Mila.
“Tunggulah disini Melati. Tetaplah duduk manis! Aku tahu, kau sangat mencintaiku,”
Sebelum Rian pergi menemui dokter Mila, Rian mencium takjim kening Melati. Kemudian berlari, masuk ke dalam lorong lobi rumah sakit Suka Waras. Meninggalkan Melati di bangku taman depan rumah sakit.
Berkat cinta Rian yang begitu tulus pada Melati. Rian mampu menghadirkan sinar mata Melati yang sempat hilang. Pandangan Melati kini lebih berbinar. Sorot mata yang memancarkan cinta. Akan tetapi tiba – tiba sinar itu redup, perlahan kembali menghilang berganti dengan Butiran tangis yang berguling setetes demi setetes di pelupuk mata Melati ketika matanya beradu pandang pada seseorang di sana! Di seberang pagar. Yang memandangnya penuh air mata. Itu Tria. Sahabat terbaiknya.
“Tria,,,” Ucap Melati lirih.
Melati bergerak. Bangun dari duduknya dan melangkah gontai ke arah Tria yang tengah meratap.
Hati Tria merasakan sakit lebih menyakitkan lagi. Hati nya yang tengah terluka. Sangat sakiiiit. Menyaksikan kedua orang yang ia cinta sebagai kekasih dan sahabat. Bercinta. Tria merasakan dunia berhenti berputar. Tria masih mencoba kuat berdiri. Berharap ini hanya mimpi. Berharap Melati masih menjadi sahabat setianya. Berharap Rian akan terus mencintainya. Berharap dan berharap cinta masih ada disini dan kehidupan yang masih mencintainya. Sekalipun itu hanya lah harapan. Tria masih terus berharap. Tria ingin berlari. Melarikan diri dari kenyataan yang menyakitkan. Tria sesak. Jantungnya seakan telah pecah. Hatinya remuk redam. Tria bukan lagi susah bernafas tapi memang tak bernafas lagi. Perlahan Tria tersungkur jatuh ke tanah bersama kesedihan yang pekat.
Melati mencoba kuat. Melawan jiwanya yang masih lelap dalam tidur panjang. Menggerak kan semua syaraf – syaraf di otaknya yang masih sulit diatur. Melati pun merintih. Tertatih – tatih melangkah. Langkah yang berat dengan kondisi tubuh yang sangat lemas. Melati membuang air matanya jauh. Ingin segera berlari menolong Tria di sana!
“Mel, kamu masih memiliki masa depan. Kehidupanmu masih panjang. Kau bebas merancang masa depan yang kau inginkan dan sesuai kemampuanmu. Tak seperti diriku yang telah dikawal malaikan maut. Untuk bernafas saja aku masih sering kesulitan. Seharusnya kau lebih mensyukuri hidupmu. Dan tak bersikap loyo!harusnya kau cayoooo!!!. “
Kata – kata Tria terdengar nyaring di telinga Melati. Melati merasakan kekuatan dari kata – kata
Tria waktu itu. Cayooooo Melati….!!!
“Melati, aku sangat takut kau merebut Rian dari sisiku, …”
Malati masih terus melangkah maju. Tak peduli apapun dihadapanya. Hanya Tria… Hanya Tria di pandangan Melati.
Tria, kau lebih baik dari diriku. Kau lebih bersemangat menjalini kehidupan. Aku sanggup untuk mempersembahkan apapun untuk mu bahkan nyawaku, tapi sungguh aku tak sanggup jika harus merelakan Rian untuk sedetik saja bersamamu.
Rian terkejut! Ketika tak ia dapati Melati di duduknya. Mata dokter Mila bertanya kemana Melati?. Rian tersentak lebih kaget lagi ketika Rian menlihat sebuah Sedan merah melaju kencang ke arah Melati yang tengah berjalan menyebrang jalan.
“Melati…!!!!” Teriak Rian sambil berlari sangat kencang menuju Melati. Tapi Melati tak mendengarnya.
“Melati….!!!” Rian kembali memanggil, Rian masih berlari mengejar Melati. Ke sisi Melati. Dan Mobil Sedan itu berlari mendahului Rian. Rian semakin kuat melangkah. Tinggal sedikit lagi. Beberapa meter lagi.
“Melati… awas..!” Tria juga ikut berucap walaupun dengan suara yang terdengar sangat lemah. Rian melihat Tria terbujur di tanah. Mobil itu lebih cepat daripada Rian! Dan mengahantam tubuh Melati.
“Melati….” Kali ini dokter Mila yang berteriak.
“Melati,,, “ Dan semuanya berteriak.
Rian belum sampai. Melati telah bersimbah darah. Namun tubuhnya masih bergerak. Merangkah ke arah Tria yang juga tergeletak.
“Tria,,,” Melati mengulurkan tangannya. Tria juga! Masih belum mampu meraih tangan Melati. Tangan Tria yang sebelah kanan melepas dari dekapan jantungnya yang serasa tak lagi berdetak.
Rian segera mendekap tubuh melati kepelukannya. Kali ini Rian benar – benar mengeluarkan semua air matanya. Darah. Tubuh Melati berlumuran darah. Merah. Rian tak kuasa. Rian juga merengkuh Tria. Kedua gadis ini di dekapanya sekarang. Tria menagis. Melati juga, terlebih lagi Rian. Melati terlihat sangat kesakitan. Nafasnya tersengal – sengal.
“Melati… bertahanlah… Melati..” perintah Rian dengan linangan air mata
“Mel.., bangun. Ayo… jangan membuatku semakin sedih.” Kata Tria yang payah karena lemah dan rasa sakit di jantungnya.
“Ma……mafaak…an a…..ku.. Tri…..ma….aaf.”
Rian semakin tak kuasa melihat kondisi Melati.
“Melati…” Rian kembali mendekap tubuh Melati. Suara itu terasa menyesakan di telinga Rian. Rasa sakit Melati dan Tria juga dirasakan Rian. Sesak. Menyakitkan melihat orang yang kita cinta tengah menderita. Dokter Mila telah menelfon ambulance tapi belum juga datang!.
Walaupun dengan suara yang tengah menahan rasa sakit. Melati masih berusaha berucap. Mengujar maafnya untuk Tria yang ia sakiti, atas hati nya yang tak terjaga. Atas cintanya pada Rian yang seharusnya terlarang. Tria mencoba kuat dan melupakan rasa sakitnya. Hanya Melati… keselamatan Melati. Tria menggenggam tangan Melati kuat sebagaimana Melati dulu mengganden tangan Tria. Memberikannya kebahagian dan menyembunyikan perihnya kehidupan Melati selama ini.
“Me…laaa…ti..,, bertahanlah. Aku sa….ngat men…yayang..imu…” Tria juga tengah sekarat. Melati meraih tangan Rian mengarahkannya ke dada Melati. Seolah mengatakan ‘Aku sangat – sangat mencintaimu Rian’ Cukup lama dan setelah itu menyatukan tangan Tria dan Rian. Melati lelah…. Sangat lelah…. Sakit sudah pasti ada…. Melati tak kuasa…. Perlahan Matanya menutup mengucap selamat jalan dan meninggalkan cintanya untuk Rian juga Tria.

***

Kala sang pencinta bermain cinta dikobaran api yang memanggang raga….
Asa tetaplah rasa yang mengasah cinta menjadi sebuah kisah abadi yang terukir dalam hati…….
Dalam hembusan nafasku yang redup dan suara hatiku perlahan lenyap.. senyap lalu hilang dalam penderitaan yang dalam…Selubung cinta yang ku ukir tetaplah berirama menjelma menjadi bahagia yang sesat tetaplah lezat…..
Ku persembahakan sebuah jamuan surga untukmu duhai kekasih hatiku…

Melati telah pergi……
Mempersembahkan hatinya untuk Tria….. Agar cinta nya untuk Rian masih bisa tetap hidup….
Dan Rian akan memenuhi janjinya pada Melati untuk menjaga Tria…. Membahagiakan Tria… Dan mencintai tria….

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s