Antara Persahabatan. Cintakah?

“Aku sahabat yang mencintaimu…..”

Bila aku menganggap cinta datang dari sebuah persahabatan, hubungan yang akrab dan kecocokan jiwa. Apakah itu salah?
Aku sebagai remaja yang wajar memiliki perasaan ini. Mencintai dan berharap untuk dicintai. Kuselami hati ku yang bergejolak tak menentu, perasaan yang sungguh aneh? Tapi aku berfikir keras! membedakan cinta dan rasa kasih sebagai sahabat? Sungguh bukankah itu berbeda?
‘Ade Putri Liliana Rachmah’ itu nama lengkapku, biasanya kedua sahabatku memenggilku
“Putri….!” Panggil Say,
Aku tengah memandang seraut wajah tampan yang tengah asik bergulat dengan bola basket di lapangan sekolah. Say langsung duduk di sebelahku, aku menyadari keberadaanya tapi mata ku tak ingin lepas dari dia. Dia yang selalu menabur senyum di bibirku sekalipun hati ku kini mulai rapuh oleh perasaan yang sulit untukku kendalikan.
“Lagi ngeliatin apaan sich? Serius amat?” Tanya Say kepadaku.
Aku langsung menjawabnya dengan sebuah senyuman dan kembali melemparkan pandangan ku pada dia?. Say mengikuti pandangan ku dan menyaksikannya dengan mata yang tak kalah serius. Fami mulai memasangkan kuda – kuda untuk mulai menembakan bola ke dalam ring dan…….
“Yeeeeh,,,, Fami………!” Teriak Say dengan sangat kencang, Bola basket itu terlepas dari tangan Fami, Semua orang yang ada di lapangan serentak menimpahkan mata mereka kearah kami. Fami sampai tersentak mendengar teriakan Say yang amat histeris padahal Bola belum sempat untuk dilempar?
“Say, belum masuk ?” Kata ku menghentaknya yang masih sempat bersoraak – sorak
“Biarin aja, emang kalu bolanya masuk dong yang boleh teriak-teriak, Udah mendingan kita semagatin lagi tuch si Fami biar gak loyo kaya toge!,”
“Fami…. Ayo….. kamu pasti bisa…! Haha..”
“Yang ada bubar ni latihannya?”
Say memang selalu begitu, hampir jarang aku melihatnya murung? Ia selalu ceria dan membawa bahagia bagi diriku dalam kondisi bagaimanapun juga, dia sahabat yang mampu membuat kesedihan jadi bahagia, kepedihan jadi anugrah dan benci jadi cinta.
Dialah Sayidah Anissa, gadis imut yang gayanya terkadang masih caldis bahkan kadang termat manja, Kami berteman akrab lama sejak kami terlahir kedunia ini dan hampir tertukar sewaktu dirumah sakit. Karena kami lahir di waktu, tempat, dan dokter yang sama tapi pastinya dengan orang tua yang berbeda.
Di ujung sana, Fami tersenyum lebar pada kami sambil melambaikan tangannya dan menggoyangkan telunjukya yang terbalik pada say tanda bahwa Say kembali mengacaukannya,
Aku menyaksikan mata mereka bertemu dan berbinar mesra didepanku atau ini hanya halusinasiku saja? Mereka dua orang yang aku cintai. Say sahabatku dan Dia juga sahabatku. Familio Chandra Farael.

***

Sosoknya bagaikan peran utama dalam sinetron – sinetron remaja. Wajah yang tampan, Salah satu pemain inti dari club basket SMU NUSAKU, selain itu Fami juga ketua OSIS, ketua Karya Ilmiah dan Siswa yang cukup gemilang karena serentet prestasi. Cowok bertubuh tegap itu kini menghampiri meraka, Putri dan Say bangun dan menyambut kedatangannya.
“Pasti haus, nich minuum dulu.!’ Say melempar sebotol minuman kepada Fami
Fami mereguknya tandas. Kehausan yang seketika sirna dengan siraman air segar lagi menyegarkan.
“Thanks,” Ucap Fami setelah selesai
“Giat banget latihannya, emank ada perlombaan lagi?” Tanya Putri
Fami mengambil handuk kecil yang disodorkan Putri dan mengelap keringat di sebagian tubuhnya,
“Akhir semester nanti, ada tanding antar sekolah. Cuma pertandingan persahabatan aja sich tapi tetep harus berlatih biar nanti gak akan bikin malu sekolah,” Jawab Fami yang berdedikasi tinggi terhadap tempat dia bersekolah.
“Put, kebiasaan nich si Say, suka banget bikin geger!” Eluh fami atas kejadian tadi,
“Kacau tuh tadi latihannya, “ lanjutnya
“W udah bilangin dia kok Fam, jangan suka bikin onar tapi ya mau diapain lagi emak udah begitu dari sananya?”
Fami dan Putri berbarengan mentapnya
Say tersenyum selebar – lebarnya merasa nyadar diri atas tindakannya itu,
“Kan biar tambah seru..” belanya
Say kembali menyembunyikan tawanya. Fami seakan tengah diledek oleh Say yang tak berhenti memandangannya dengan kelopak bibir yang merekah senyum.
“Oya, Fam. Nie ada titipaan surat” Putri menyerahkan sebuah amplop berwarna merah muda.
Fami hanya membolak – balikan kertas itu tanpa langsung membukanya,
“Surat apa nich?” Tanya Fami polos
“Lo gak liat fam? Ini surat cinta. Warnanya aja nge-pink” Jawab Say dengan notasi suara yang terdengar tak enak,
“ Kaya tukang pos aja lo Put, mau– maunya dititipin surat begituan?”
“Ya namanya dimintai tolong, apalagi Cuma sampein gituan duang, apasalahnya sich Say.”
“Surat itu dari Susi” Ucap Putri agar ragu. Fami tak merespon
“Ih, apa – apaan tu pake surat – suratan segala?”
“Kok nyolot sich? Kalau cemburu bilang?” Fami mendelik kearah Say,
Say tersenyum kecut membalas tatapan fami yang seakan – akan meledeknya,
“Apa ? PD dasyat dikau?”
“Biarin, daripada terbakar cemburu?haha…”
Say sudah mulai terlihat kesal. Fami langsung membujuk Say
“ Gitu aja ngambek, Nich kalau mau baca suratnya. Udah bisa ditebak apa isi nya kokk.” Kata Fami
“Ih, males banget.”
Fami rasanya puas jika sudah berhasil membuat Say ngambek.
Sudah lama aku melihat cinta yang tersirat dari sinar mata Say,
Aku…. Dan meraka bersahabat…

Siang itu, mereka habiskan dengan bersandau gurau seperti biasanya. Ya, hanya bertiga. Keakraban yang terjalin diantara mereka selama bertahun – tahun membuat manis yang luar biasa dan sangat sulit untuk tergantikan oleh apapun, akan mereka jaga!.

***

“Surat dari siapa lagi tuch?” Tanya Say kepada Putri.
Semua sudah pada tahu. Fami adalah artis SMU NUSAKU, banyak hal yang dapat dipuji dari nya, bahkan kekurangannya terlihat begitu indah dimata gadis – gadis. Ini surat yang kesekin kalinya untuk Fami dan yang paling sering mengiriminnya sesuatu adalah mantan pacarnya,
“Kan w dah bilang tadi. Susi!” Ya, Susi Almania satu – satu nya mantan Fami di sekolah ini. Sampai Say dan Putri habis fikir, kok mau ya? Fami pacaran sama dia yang gayanya selangit. Mungkin waktu itu Fami lagi di pellet?pikir Say waktu itu.
“Kenapa tiba – tiba jadi jaim gitu gayanya? Maunya apa sich?” Selidik Say. Ada nada – nada kemarahan dari kata – katanya. Gadis bermata bulat tidak dapat menyembunyikan perasaannya,
Andai kau tahu Say, aku pun mempunyai perasaan yang sama seperti yang kau rasakan.
“Put, Liat aja tuch anak. Patut untuk dikasih pelajaran! Karena dia kurang belajar. Dulu mungkin dia bisa nguasai Fami habis – habisan hingga lo inget gak Put, untuk pertama kalinya Fami marah ke kita, dan sampai sekarang w gak bisa terima atas sikapnya itu. Dia yang selingkuh malah kita yang dianggap pembohong sama Fami.”
“Put, lo dengerin w gak sich? Kok lo diem aja?” hentak say
“ Iya w denger, emang lo mau kasih dia pelajaran apa? Kalu dia kurang belajar dia gak mungkin jadi juara umum selama dua tahun berturut – turut. Lagi masih di inget aja kejadian yang dulu? Mungkin dia udah berubah sekarang atau sama aja ya? Karena gayanya masih gak enak?” Pikir Putri ragu,
“Ya, lo liat aja dhe, biar yang beginian jadi urusan w! Besok mukanya akan merah kaya kepiting rebus favorite w! hehe”

***
“Liat Putri gak?” Tanya Fami pada teman sekelas Putri
“Gak sich,”
“Kemana sich tuch anak, pagi – pagi gini udah ngilang?” Fami mulai mencari Putri lagi,
Sampai beberapa lama Fami tidak berhasil menemukannya,
“Pasti tuch anak lupa lagi?” Fami mengambil inisyatif untuk mengambilnya sendiri di tas Putri karena urusannya udah Urgent. Fami ingin mengambil buku catatannya yang dipenjem Putri. Jam pertama ini ada pelajaran Fisika, gak akan selamat dhe si Fami tanpa catatan itu.
“Udah w ambil sendiri aja. Put, w ambil yah?” izin Fami tanpa kehadiran Putri
Fami membuka seleting tas nya, mencari buku bersampul coklat yang bertuliskan namanya, dan dengan cepat ia berhasil menemukannya. Tapi selembar kertas terselip ditumpukan buku itu dan nama Fami terukir disana dengan font yang cukup besar,
Aku punya Fami
Say dan Aku bersamanya…..
‘Aku tak akan menganggap ini sebuah kesalahan karena aku mencintai nya, hanya persahabatan ini akan tetap abadi tanpa cinta yang salah!’
Sejenak fami menyelami kalimat itu. Tidak tampak dari wajahnya yang sedih ataupun senang bahkan ekspresi terkejut, raut mukanya hambar tanpa makna?
Tiba – tiba di depan pintu kelas Putri dan Say datang dengan menebar senyum semeringah,
“Gila, si Susi lo apain?” Tanya Putri,
“Bodo amat, makanya jadi cewek jangan sok ke…pin..teran.”
“W bener ngeliat muka si Susi merah,” kata putri
Fami masih berdiri tegak, menyadari kedatangan dua sahabatnya membuatnya mengambil posisi.
“Fami..!” teriak Say dengan tawa yang tak lepas
“Fam, udah liat madding ? Tanya Say,
“Emangnya ada apa?” Fami bertanya balik
“Liat aja sendiri!” Say tersenyum kecut, menunjukan bibirnya yang kecil.
“Oya, ngapain lo kesini? Kelas lo pindah kemari?” kali ini Putri yang bertanya
“Buku w yang lo pinjem, belum dikembaliin. Balikin donk!”
“Oya lupa, Maaf. “
“Kaaya nenek – nenek aja lo Put, pikun” celetuk Say
“Sebenernya udah w bawa dari kemaren, tapi ga inget trus mau dikasihin. Yaudah w ambil dulu di tas!”
Fami memandang Putri dengan tatapan yang tak biasa. Ada sesuatu yang terungkap, dan itu membuat Fami galau, Gadis klimis yang selalu mendampingnya sebagai sahabat. Memahaminya sedalam – dalamnya, mengerti tanpa diminta. Fami selalu memadangnya dari sisi sseorang sahabat tanpa menyadari perasaannya sebagi seorang gadis yang ternyata mencintainya?.”

***

“Hiks……Hiks…..” Say mengis tersedu – sedu dan membenamkan wajahnya pada bantal guling. Putri membuka pintu kamarnya sambil membawa segelas air untuk menenangkan Say
“Lama banget sich Fami datangnya, telepon sekali lagi dich!” Desak say masih dengan kesedihannya
“Bentar lagi, kalu ditelpon terus malah ngebbuat dia tambah panik dan gak konsen naik motornya?”
“Nich, minum lagi! Gak habis pikir dhe si Dika bisa begitu. Syukurnya gak terjadi apa – apa sama lo Say,”
“Kaya nya dia cinta mati gitu ma w? sampai dia maksa w untuk nerimanya lgi sambil ngancem mau bunuh diri atau kita sama – sama mati? Ya ampun serem bangetttt!. Gak kebayang deh kalu tadi gak ada abang – abang tukang ojek, “
“Syukur dhe, “ Tak henti – hentinya mereka memanjatkan syukur
“Tuh kan, udah hampir setengah jam, tapi Fami belum datang lagi?”
“W takut Put, kalau – kalau si Dika akan lebih nekat ngelakuin itu lagi, “
“W juga khawatir lah, kita harus lebih hati – hati lagi!”
Bersamaan dengan terbukanya pintu . Say dan Putri menoleh kearah kedatangan Fami. Say berlari dan langsung memeluk Fami dengan erat seperti halnya memeluk Putri. Mata Fami menatap Putri seakan – akan bertanya pada Putri
‘Apa yang terjadi’
Putri terdiam tanpa bisa mengucap sepatah katapun
“Fam, w takut. Takut banget, “
“Memenagnya apa yang terjadi? Lo kenapa say?” Tanya Fami yang masih dalam pelukan Say.
Aku tidak dapat menutup mataku
Rasanya dadaku sesak
Perasaan apa ini yang menghujam sakit?

“Kurang ajar si Dika, beraninya dia ngelakui hal ini?” Fami Nampak emosi menceritakan kronologis kejadian yang menimpanya. Putri melihat ada kemarahan yang sangat diwajah Fami. Fami langsung berdiri. Tak akan diam saja atas perlakuan cowok kurang ajar itu.
“Fam, apa yang bakal lo lakuin?” Tanya Putri yang seakan bisa menebak pikiran Fami
“Sebaiknya lo tenang dulu fam, jangan terbawa emosi!” Kata Putri, berusaha meredahkan kemarahan Fami.
“Anak itu, bener – bener keterlaluan. Jangan halangin w Put! Untuk hajar dia habis -habis !”
Tanpa ada lagi yang bisa Putri katakan untuk menghalangi fami. Fami pun pergi begitu saja dengan membawa amarah yang akan ditumpahkan pada matan pacar Say itu.

***

“Liat Fami gak ?”
“Tom, liat Fami gak?Biasanya dia sama loe?” Tanya Putri
“Iya Tom, Lo pasti tau dimana dia? W cariin dari setadi gak ketemu? “ Say menimpali. Yang ditanya malah diam saja.
“Tom,!!!” Hentak Putri dan Say berbarengan,
“Kalian bawel banget sich? Gak liat w lgi sibuk ngerjain PR” ketus Tom merasa sangat terusik,
“Ya ela, w Cuma Tanya! Bukan mau ganggu. Lagi Cuma jawab aja!apa susuahnya sich?”
“Lagi ngerjain apa sich?Cuma nyontek doing aja lo?’
“Mikir juga tau biar gak bego – bego amat! Lagi biasanya dia kan lebih sering jalan sama lo. Kalian itu udah kaya dibendit tau, kemana – mana bertiga, ntar kawin juga bertiga kali yach?”
“Ngaco nich anak?”
“Yaudah Say, salah Tanya kita Tanya yang lain aja?”
“Eh,,, “ tahan Tomi
“Apa?”
“Yaudah w kasih tau dhe Fami dimana, tapi loe juga kasih tau w jawaban soal yang ini yach?” tawar Tomi sambil menunjukan buku tulisnya.
“Lo kan lagi nyontek, kenapa gak liat disitu aja?” Say keheranan
“Ragu w sama jawaban si Ari. Otaknya kan pas – pas an sama kaya w!”
“Kehabisan orang yang mau dicontekin lo?” Putri nyengir
Pagi tadi Putri dan Say mencari Fahmi sampai pada jam istirahat ini, Say dan Putri merasa Fami seakan menghindar dari mereka berdua. Bahkan dari kemaren Meraka tidak melihat kehadiran Fami padahal Fami tetap masuk sekolah. Sejak kejadian kemaren malam Fami tak menunjukan batang hidungnya. Say sangat khawatir terjadi sesuatu pada Fami begitu juga Putri yang tak kalah cemasnya.
Beberapa detik kemudian, setelah Putri dan Say membantu kerjaan rumah si Tomi, akhirnya Putri dan Say mengetahui keberadaan Fami.
“Ini benerkan jawabanya?”
“Iya bawel. Awas lo kalau w gak nemuain Fami disana?” acam Say, Tom hanya cenagar – cengir hingga gigi nya yang ompong terlihat tidak enak dilihat.
“Fami gak akan apa – apakan Put?”
“Gak Say.”
“W yang akan berdosa banget kalu sampe Fami kenapa- napa?”
Say dan Putri berjalan cepat, menelusuri lorong – lorong sekolah berjalan kearah taman belakang.
Dan sesampainnya mereka disana, mata mereka berpedar mencari Fami. Di balik pohon besar itu Fami mengelar badan. Matanya lurus ke langit yang luas tanpa batas. Biru yang damai membuat pikirnya refresh.
Aku punya Fami
Say dan Aku bersamanya…..
‘Aku tak akan menganggap ini sebuah kesalahan karena aku mencintai nya, hanya persahabatan ini akan tetap abadi tanpa cinta yang salah!’
Kata – kata itu selalu terngiang di hati dan pikiran Fami, hingga membuatnya tak tenang.
“Fami !!” teriak Say dan langsung berlari kearah Fami. Putri mengikuti dibelakangnya.
Fami bangun dari posisi nya dan menyambut mereka.
Sesampainya Say dihadapan Fami Say berucap lirih
“Fami,” dari matanya menetes air mata. Say terus memandangi Fami dengan tatapan redup. Melihat fami dengan beberapa luka diwajahnya Say seakan merasa amat bersalah. Karena sifatnya yang kekanak – kanakan mengadukan kejadian itu kepada Fami yang emosian. Fami masih diam tak berani berucap hanya ketika Say menyentuh bibirnya yang memar dan keningnya yang dipasang handsaplas Fami menyengir kesakitan.
Say semakin bercucuran air mata dan suara tangisan keluar dari mulutnya. Say memang masih cengeng malah terkadang dia bisa menangis seperti anak kecil.
“Gak apa – apa Say,!” Fami yang mengerti sifat gadis didepannya ini mulai menenangkan. Menghapus tangis Say dengan senyuman.
“Apa yang terjadi? Wajah lo aja udah kaya gini apalagi yang sakit? Dimana lagi yang sakit Far? Gara – gara w lo kaya gini,”
“haaaakh.. hiks…hiks,,!?”
“Di hati w Say yang ngerasain sakit! Dan w gak mungkin diam aja nyaksiin sahabat w di kuarang ajarin sama orang! Udahlah ini mah gak ada apa – apanya, luka begini duang ma biasa, w masih terlihat ganteng kan?”
Fami berhasil membuat Say tersenyum walaupun kecil.
“Sekarang lo gak perlu takut lagi! W udah memberikan hal yang sepantasnya didepet cowok kurang ajar itu!”
“Tapi Fam, kalu w harus ngeliat muka lo penuh dengan luka seperti ini lebih baik w halangin lo mati – matian semalam,!”
“Udahlah, no problem. “
Putri hanya bisa menatap wajah Fami dengan kecemasan yang sama seperti Say. Menyembunyikan perih di hatinya,

Andai aku bukan sahabatmu
Mungkin aku akan merasakan keindahan cinta
Namun aku akan tetap bersamanya sebagai sahabat setia…

****
Gadis bermata bening itu malah asik menyendiri, memandangi ke elokan langit nan indah dibalik jendela, suasana yang damai yang memang tengah dibutuhkan olehnya. Menata hati itu sangat sulit,
“Hhhh….” Putri menghela nafas, melepaskannya dengan harapan semua penat dipikirannya hilang. Wajahnya Nampak murung. Realita cinta Putri yang tak bersahabat.
“Putri!!!”
Putri tersentak. Kaget.
“Say, apa gak ada cara lain yang bisa bikin w mati pelan – pelan?!”
“I’am so so sorry, laagian lo! gak mungkin kaget kaya gitu kalo lo gak bengong,”
“Yaudahlah, ke kantin aja yukh. Jadi laper w,” kata Say
Sesampainya di kantin sekolah Say langsung memesan mie ayam dan segelas es the manis. Sedangkan Putri memilih menu siomay kesukaannya.
“Put, !!”
“Putri….!!!”
“Apa Say? Biasa aja dunk manggilnya!”
“Lo liat itu gak sich?”
“Liat apa?” Putri mengikuti pandangan mata Say,
Di seberang lapangan sana Fami beriringan jalan dengan seorang gadis yang sangat familiar dimata Putri dan Say,
“W jadi ragu sama mata w? apa min w tambah?” kata Say
“Itu Susi yah?” Tanya Say tak percaya,
“Iya Say, kok mereka keliatan mesra banget?”
“Fami gak mungkin nerima cinta – cintaan nya si Susi kan? Gila banget apa yang w liat sekarang?”
Putri terdiam dengan tidak melepaskan pandangan matanya ke Fami
“Put, ini gak benerkan ?”
“Iya Say, itu gak bener. Fami gak sebodoh itu?”
Fami terlihat riang di dekat susi yang tak berhenti menyungging senyumnya,
“Fami gak mungkin,”
“W harus Tanya langsung ke dia?” Say mulai berdiri dari duduknya. Putri menahan,
“Say, sebaiknya jangan!”
“Kenapa! W harus ngingetin dia lagi kalo dulu susi sering mainin dia. Mungkin dia lupa?”
“Tapi Say, biarin aja dulu. Fami pasti cerita ke kita tentang semua ini. Lagipula apa yang kita liat mungkin aja gak seburuk apa yang kita banyingin”
“Putri, lo inget surat yang kemarin? itu surat apa?, Fami yang udah jarang lagi bareng sama kita?kalo bukan lagi sibuk sama dia, sama siapa? udah cukup jelas.”
“Say kita gak punya hak untuk ngelarang Fami deket sama cewek manapun?!”
“Kok lo gitu sih? W….”
“w gak bisa ngeliat itu,”
Say langsung lari meninggalkan Putri, ucapan Say terakhir semakin memperjelas perasaan Say pada Fami. Putri pun tak bisa membohongi hatinya yang sakit melihat itu, tapi Putri masih bisa menahannya, walaupun Putri sendiri tidak tahu sampai kapan,

***
Entah dimana posisiku sekarang? Darimana aku mulai ? Dari awal, perasaan ini tak ku anggap sebagai sesuatu yang salah. Wajar saja, bila aku menjatuhkan cinta padanya karena dia adalah laki – laki idamanku, akan tetapi lambat laun perasaan ini malah membuat ku sulit untuk menerima jika dia adalah sahabat ku. Oh Tuhan,
Bayak cerita, diawal persahabat yang indah dengan jalinan persaudaraan yang suci dengan mudah berakhir begitu saja oleh rasa yang bernama cinta. Cinta yang keluar dari naluri seorang laki – laki ataupun perempuan kerana jalinan akrab diantara keduanya hingga hati berpaut melebur menjadi keinginan untuk dapat menyatukan cinta diantara mereka. Hingga pada akhirnya persahabatan itu mati oleh cinta yang tumbuh tidak pada tempatnya. Hal seperti itu yang tidak diinginkan oleh siapapun termasuk Putri. Ironis bila akhirnya berakhir tanpa sesuatu yang tersisa kecuali penyesalan atau bahkan rasa dendam? Akankah cerita persahabatanku berakhir seperti itu? Atau aku sendiri yang harus membunuh perasaan ini?

***
“Susi Almania!” Panggil seseorang dengan nada bentakan, yang merasa memilki nama itu mengengok kebelakang. Mengernyitkan kening atas sapa yang dirasa kurang enak didengar, tanpa salam ataupun basa – basi Say langsung melontarkan pertanyaan.
“Sebenernya apa mau lo ?”
Susi yang sedang berteduh dipinggir pohon sambil menikmati sebuah buku dan soft drink tidak menghiraukan, malah kembali menenggelamkan keasikannya pada hobinya itu.
“Apa mau lo?” tanyaya lagi
“?” Say menunggu jawaban
Susi hanya tersenyum senis tanpa mau menjawab pertanyaan Say, Susi berdiri dari duduknya. Matanya menatap tajam pada Say dengan pandangan yang tak kalah mengerikan,
“W rasa lo cukup pinter untuk ngejawabnya!”
“…..”
Merasa ketenangannya semakin terusik Susi mencoba berbicara.
“Sayangnya, pertanyaan lo kurang menarik Say. Dan lo tau? W paling benci sama orang yang sebenernya dia udah tau jawaban atas pertanyaannya tapi masih nekat untuk ditanyain?” Ada dua kemungkinan hal itu terjadi. Pertama, orang itu sok pinter atau di bener – bener bodoh! Lo bisa nilai sendiri diri lo yang mana?”
Sayidah meradang, dari wajahnya sudah tampak luapan – luapan emosi yang siap untuk dilemparkan pada gadis yang menurutnya angkuh didepannya ini.
“Oya, terkadang memang sangat sulit mengejar cinta tapi terkadang juga cintalah yang akan mendatangi kita dengann cara yang gak bisa ditebak. Yang jelas cinta itu akan indah pada tempatnya.”
Cewek berkaca mata ini sesekali membenarkan posisi kacamatanya. Dari kata – kata yang ditangkap oleh Say, Susi seolah ingin mengungapkan sesuatu sambil sok – sok mengajariya tentang cinta.
“Kayanya lo yang harus diingetin dhe Say, atau lo yang harusnya belajar dari pengalaman. !” Sayidah seakan dikembalikan pada ingatan masa lalu tepatnya kejadian setahun yang lalu dimana Susi menjadi bagian terpenting dari Fami dan mencoba masuk dalam persahabatan mereka akan tetapi karena penghiantan. susi membuat Fami terpuruk dan hubungannya dengan kedua sahabatnya menjadi kacau. Susi adalah cinta pertama Fami, hingga posisi Susi menjadi bagian terpenting dari Fami lebih dari kedua sahabatnya, tapi dengan mudahnya Susi menduakan fami yang begitu mencintainya. Putri lebih tau, bagaimana Susi menghancurkan hati Fami. Putri yang menjadi saksi melihat adegan Susi bermesraan dengan Rian, salah seorang anggota klub basket yang satu nawungan dengan Fami. Selain meluluh lantakan hati Fami, Susi juga berhasil membuat mereka bertengkar habis – habisan karena awalnya Fami lebih mempercayai Susi ketimbang Putri.
Kini, Say tidak dapat menerima keadatangan Susi kembali dalam hati Fami, dan akan menghancurkan Fami yang kedua kalinya.
“ W tuch udah males banget ngomong sama lo Say, lo itu kadang kekanak – kanakan dan terkadang sok tua dan sok tau! Kalo lo Cuma pengen ngelarang Fami deket sama w! Kenapa gak lo sendiri aja yang ngmong ke dia! Suruh dia ngejauh dari w!”
“Dan w rasa lo akan gagal. Kenapa? Karena w adalah cinta pertama dia. Dan dia gak bisa lepas dari w!”
“Eh, gila. PD banget lo!?” Potong Say, emosinya naik ke ubun – ubun
“Mungkin itu yang nyebabin lo jadi perempuan angkuh yang ngerasa diri lo paling pinter tapi lo mesti inget hal itu gak akan bertahan lama! Semuanya akan berubah jadi seperti yang w mau! W gak akan nyuruh Fami untuk ngejauh dari lo, tapi dia sendiri yang akan ngejauh dari lo!camkan itu,” Say seakan menabuh genderang perang dengan Susi. Mata mereka bertarung sangan sengit, pertarungan akan dimulai kembali! Tentang siapa yang akan menang? Keduanya merasa optimis.

Disisi lain,

Andai aku bukan sahabatmu
Mungkin aku akan merasakan keindahan cinta
Namun aku akan tetap bersamanya sebagai sahabat setia….
Sahabat. Putri dan Sayidah adalah sahabatku. Teman dikala gundah melanda. Tawa dikala bahagia menyapa. Sahabat yang bijak mengantar jejak – jejak hidup penuh arti. Membuat dunia ku berwarna nan indah, seperti pelangi setelah hujan. Seperti Bahagia Setelah Bahagia. Seperti ribuan bintang yang setia menemani bulan. Seperti langit yang berarakan awan.
Kemudian bagaimana aku harus menanggapi cinta. Cinta mereka yang jujur! Ingin ku sambut dengan sejuta senyuman yang lebih indah dari mentari pagi.
Di pikir cowo kelahiran bulan cinta ini hanya ada dua sahabatnya terlebih lagi Putri yang begitu pandai menyembunyikan rasanya hingga Fami merasa sangat berdosa karena sering tidak bisa menjaga perasaannya.
‘Harus ku apakan perasaan mereka? Harus bagaimana perasaanku?’ besit Fami dalam hatinya. Lamunan Fami kini berkeliling, tapi raganya hanya membeku diam bersender di tembok.
“Seharusnya lo gak ngehindari kita Fam!” Fami terhentak kaget. Ditengah – tengah lamunannya, secara tiba-tiba Putri datang. Seakan bisa menebak pikiran Fami. Putri langsung melontarkan pertanyaan.
Fami belum mau menjawabnya? Atau karena memang sulit untuk dijawab. Putri masih menunggu jawab.
Fami mulai berucap dan berdiri dari duduknya, “ W gak ngehindari kalian kok!”
Tidak merasa puas dengann jawabanya, Putri membalas,
“Gak mungkin ini hanya perasaan w aja?Putri ngerasain hal yang sama. Kalo lo tuch aneh!gak seperti biasanya. Ada apa Fam? Jangan buat kita berfikiran buruk kalo lo seperti ini gara – gara Susi? Karena semenjak”
“Bisa gak sich lo gak bawa – bawa orang lain!” Potong Fami.
“Oke klo emang bukan karena dia. Trus kenapa?”
Putri hanya bisa memandang punggung yang lapang itu. Fami membelakanginya, Fami merasa tak sanggup melihat sahabatnya itu.
“Udahlah Put, saat ini w lagi kacau. Lo dan Say boleh anggap w lagi aneh atau lagi gak jelas!”
“Oya, tolong jangan ganggu hubungan w sama Susi!”

Kenapa tiba – tiba dada w terasa sesak..
Rasa nya mau nangis……
Fami…….
Saat itu Putri tak kuat lama – lama di dekat Fami, karena ia takut air matanya tak terbendung.
***
Hari ini, saat langit cerah dan matahari mengumbar senyum sumeringah. Fami, Say dan Putri berjalan santai menyusuri jalan menuju taman komplek di ujung jalan ini. Hari ini Fami ada latihan dan seperti biasa Say dan Putri tak pernah absen ikut serta dalam latihan apalagi pertandingan. Fami menggenggam dua tangan gadis ini. Say berjalan disamping kiri dan Putri kanan.

Ternyata, antara cinta dan persahabatan itu bedanya tipis. Dalam persahabatan sangat mungkin timbulnya cinta. Bahkan dari 100 kasus, 99 % atau lebih, persahabatan yang terjalin diantara cowo dan cewe dibumbuhi perasaan yang lebih dari rasa care, simpatik ataupun sayang. Sepintar apapun mereka menjaga perasahabatannya tidak ada yang bisa menjamin semuanya akan baik – baik saja, ketika masing – masing dari mereka atau salah satunya merasakan sesuatu yang membuat hati mereka begetar, berdebar, berdenyut kencang saat – saat bersama atau ketika mengingat kebersamaan yang terjalin. Yang pada akhirnya persahabatan akan berubah menjadi beberapa kemungkinan diantaranya bubar atau tetap bersatu dan saling membohongi diri sendiri.
Bagi Say, keduanya bukanlah pilihan! Dari beberapa kemungkinan. Kemungkinan untuk menyatukan cinta itu termasuk kedalamnya dan menjadi pilihan alternative, pasalnya setiap insan yang jatuh kedalam cinta maka dia dituntut untuk dapat bertanggung jawab! Membohongi diri sendiri sama saja membunuh perasaan itu pastinya akan sakit dan menyakitkan.
Dan say menuliskan cerita cinta dan persahabatnnya sendiri, membuat keduanya indah.

***
Putri dan Say berjalan sekencang mungkin bahkan jika memungkinkan mereka berlari menyusuri Lorong – lorong rumah sakit. Pikir mereka cemas, hati mereka berdebar – debar. Mengusir bayangan – bayangan buruk yang menghantui mereka. Bahkan dunia seakan bergoncang keras ketika mereka diberitahu fami kecelakaan. Namun mereka saling menguatkan dan menyakinkan bahwa Fami akan baik – baik saja. Tak henti – hentinya mereka memanjatkan doa pada sang khalik untuk keselamatan Fami.
Mereka berhenti di depan pintu sebuah ruangan mawar ber no. 10. Memastikan kembali bahwa benar di kamar ini Fami di rawat. Hati mereka berdua semakin dag – dig dug, Gemuruh bertabuh kencang di hati meraka. Say, siap – siap membuka pintu. Dengan sangat hati –hati Say membuka nya. Say dan Putri terkaget luar biasa. Apa yang mereka liat?.
Susi berada dekat dengan Fami. Ia duduk disamping Fami. Matanya lekat memandang Fami dengan penuh perhatian. Seperti tidak terjadi apa – apa pada dirinya? Fami masih bisa tersenyum. Say dan Putri masih berada di depan pintu. Tanpa sadar Say meneteskan air mata. Dan tangannya kuat menutup mulutnya agar tangisnya tak pecah. Sedangkan Putri merasa sangat lega dengan keadaan Fami yang terlihat masih baik walaupun terlihat memar di wajahnya dan balutan perban melilit kaki kirinya. Hanya itu yang terlihat parah dan berharap tidak terjadi sesuatu yang lebih. Putri baru tersadar Say menangis. Dan Putri menarik Say keluar dan menutup pintu kembali dengan sangat pelan agar keberadaannya tidak diketahui.
Putri memeluk Say,
“Kan Faminya gak separah yang kita bayangkan say, Alhamdulillah dia baik – baik aja. Seharusnya kita bersyukur dunk!” Tenang Putri
Say diam dalam tangisnya.
“Justru itu Put, w ngerasa lega banget dia baik – baik aja. Tapi… Apa kita bakalan bener – bener kehilangan dia? Di saat seperti ini yang ada disisi nya sekarang adalah Susi bukan kita?”
Putri melepas dekapannya menatap lekat – lekat wajah sahabat didepannya. Mengelap wajahnya yang basah oleh tangisan. Putri pun memiliki kekhawatiran yang sama, kehilangan Fami. Putri mampu untuk menutup rasa sedihnya.
“Put, apa lo gak cemburu ngeliat Fami balikan lagi sama Susi? Apa lo gak marah? Ga sakit?”
Putri terkejut dengan pertanyaan Say. Apa maksudnya? Pikir Putri apa Say tau perasaannya?
“W sakit Put, W benci setiap kali ngeliat Susi deket sama Fami!”
Putri tak berani berucap apa pun. Situasi ini tak tepat untuk mengungkapkan perasaannya, Putri pun sebenarnya menangis dalam diamnya.
Say tersedu sedu dengan tangisnya membuat Putri harus mengajaknya ke tempat lain dan mendiamkannya seperti biasa, bagaikan seorang kakak yang membelai adik kecilnya.

****

Ternyata diluar perikiraan dokter, Fami yang awalnya hanya diperkirakan cukup dirawat 1 sampai 2 hari saja malah telah melewatkan waktu lima hari di rumah sakit. Cedera di kaki Fami yang awalnya hanya perlu sedikit terapi untuk membentuk otot – otot kaki agar kuat dan dapat menopang tubuhnya tapi akibat dia selalu mangkir dari jadwal terapi menyebabkan pemulihan kakinya terganggu.
Untuk kesekian kalinya Putri memilih untuk melihat Fami dari kejauhan dan memastikan keadaanya. Ini adalah kesempatan untuk putri agar dapat menetralisir hati dan pikirannya. Putri tidak dapat dengan leluasa mendekati Fami dengan keadaan hati yang kacau bisa – bisa dia tidak dapat lagi menyembunyikan perasaannya. Putri menyaksikan Fami yang berjalan tertatih – tatih membuat Putri ingin membantunya tapi sekali lagi Putri tak berani. Keinginannya untuk dapat selalu berada didekat Fami hanya bisa dia lakukan sebagai seorang sahabat bukan yang orang yang mencintainya. Beberapa menit sudah Putri mengamati Fami berjalan – jalan santai melatih kakinya di taman rumah sakit dengan menggunakan tongkat di kedua tangan sebagai penopang tubuhnya. Putri menghela nafas kuat – kuat mengeluarkan sesak di dadanya dan ketika tubuhnya telah berbalik langkahnya terhenti?.
“Fami, jangan bersikap seolah lo gak tau semuanya!?”
Putri kembali berbalik ke posisi nya di balik pohon. ‘Itu Say. Ada apa dia datang tiba – tiba dan menodong Fami dengan pertanyaan itu?’ Tanya Putri dalam batinnya,
“W gak ngerti dan gak tau apa yang lo bicarain Say?” Fami malah balik bertanya dan semakin mendekatkan tubuhnya ke arah Say,
“Cukup Fam, w udah lelah dengan semua ini?”
Putri semakin penasaran dan tak mengerti apa maksud ucapan Say? Terlebih lagi melihat Say yang mulai menitikan air mata,
“Fami! Apa pun yang lo tau sekarang,?!”
‘Fami tau?’ besit Putri dalam hatinya
“ itu yang emank terjadi. Lo gak bisa menyangkal semua ini termaksuk perasaan Putri, w dan lo sendiri!?”
Putri terhentak mendengar ucapan Say begitu pun Fami yang tak bisa lagi menghindar.
“Lo tau betapa Putri tulus mencintai lo! Lo tau betapa w….” Kata Say menggantung, karena hati nya tak cukup kuat untuk mengungkapkan semuanya
“W…. yang gak ingin kehilangan lo..!” Ujar Say dengan nada suara tertekan. Semuanya sudah tidak bisa lagi disembunyikan.
Putri pun tak luput dari tangis itu, menedekap erat – erat dadanya dengan tangan karena sakit yang tak tertahankan. Fami diam berusaha menguasai hati dan perasaannya. Perasaan untuk kedua sahabatnya.
“ W harus bagaimana? Ketika w tau ada cinta dalam persahabatan ini, w gak bisa menyalahkan siapa – siapa? “
“Gak ada yang salah dalam persahabatan dan perasaan ini Fam!” potong Say
“W sendiri bingung ! w ngerasa bersalah dan sangat berdosa sama kalian, karena…. Hati w?”
“Kenapa Fam,?” Say dan Fami menoleh bersamaan. Dan mendapati Putri berdiri dihadapan mereka,
“ Jujur, w gak kuat sama semua ini! W berharap semuanya akan tetap baik – baik aja! Tapi ternyata persahabatan ini….”
“Put, w udah gak peduli sama persahabatan kita! “ Tegas Say,
“ Persahabatan kita, telah berubah jadi cinta? Dan hati w bermain di keduanya? Bukan hanya kalian yang sakit tapi w juga. Kenapa kita begitu ceroboh? W yang salah atas perasaan kalian.” Fami tertuduk lesu, tak berani menatap kedua gadis di depannya itu.
Seketika semuanya diam. Diam dalam rasa sakit dan kesedihan. Diam dalam kebingungan dan kepasrahan. Diam dalam rasa bersalah masing – masing.
Sejurus kemudian Putri ber ucap datar, dan berusaha menahan tangisnya agar tak pecah,
“W tau Say begitu mencintai lo Fam, begitupun …..” Putri tertahan
“Fami yang juga mencintai Say,” Mata Putri mengenang air mata tapi dengan cepat ia menghapusnya lagi dan lagi.
“Dan,,, w gak ingin ada diantara kalian, jadi penghalang kalian.”
Fami mentap Putri dalam – dalam. Say tak menyangka Putri bakal mengatakan hal itu, yang pasti sangat sakit untuk di ungkapkan.
“Putri,,,!?” Kata Say dan Fami berbarengan. Putri sendiri merasakan dunia seakan berbalik. Membuatnya seolah sulit berpijak ditanah, bahkan sekedar bernafas. Sekuat tenaga Putri tetap berdiri di antara Say dan Fami.
“Itu gak bener Put, itu gak boleh terjadi,,,, Jangan buat w sejahat itu Put, w tau betapa dalamnya perasaan lo ke Fami dan juga Fami yang sangat mengagumi lo!”
“Akkhhhrhh….” Teriak Fami yang seolah tak tahan dengan keadaan yang sangat menyedihkan ini? Menyaksikan kedua sahabat nya ini berada dalam posisi yang sangat sulit? Bagaimana mungkin Fami bisa menempatkan hatinya?
“ W yang salah, w sangat – sangat bodoh! W yang gak punya perasaan yang ngebuat kalian jadi kaya gini! w.. emang cowok brengsek yang gak ngeti perasaan w sendiri, w yang sangat berdosa sama kalian”, Fami tak henti – hentinya menghujat dirinya yang ngebuat situasi ini begitu kacau seperti hati dan pikirannya yang dipenuhi kedua gadis ini.
‘Karena hati w mendua. Mencintai dua sahabat.’
Untuk kesekian kalinya semuanya kembali diam.

“Fam, w tau pasti siapa lo?! W tau hati dan pikiran lo! Kalau kaya gini jadinya. W gak akan membuat persahabatan ini hancur dan… gak akan negbuat perasaan kalian ataupun w hancur!”
“ Lo gak akan menghindarkan Fam! Dari perasaan lo ataupun keadaan ini!”
Fami dan Putri masih terdiam mendengar ucapan Say yang begiru serius
“Lo gak boleh milih diantara kita! Dan gak akan menyakiti hati w atau Putri bahkan hati lo terhadap kami berdua!”
“Maksud lo Say?” Fami mendelik. Putri tak paham dengan ucapan Say,
“Semuanya udah jelas bahwa diantara kita ada cinta! Dalam persahabatan ini. W cinta sama lo Fam, begitu juga Putri! Dan hati lo gak bisa memilih antara w atau Putri, karena hati lo telah mendua, membaginya antara w dan Putri. Benerkan ucapan w Fam?”
Fami merasa terpojok dengan pertanyaan Say, tapi apa yang diucapkan Say tak bisa di jawab oleh Fami karena Say tau pasti siapa Fami! Say merasa diam nya Fami adalah sebuah jawaban yang menyatakan itu benar!
“Dan w nyatakan sekali lagi! Lo gak punya pilihan! Perasaan kita harus dapat diterima!”
“W pengen kita menjalani ini ber tiga!”
` “Maksud lo bertiga Say? Pacaran?” Tanya Putri tak percaya
Say menjawabnya dengan anggukan yang terlihat mantap. Sedangkan Fami mencoba berfikir logis bahwa ini gila! Apakah cintanya ini sampai membuat semuanya jadi tidak wajar? Apa yang Say bilang tentang hatinya memang benar adanya, tapi apakah semua ini dapat dibenarkan? Pikir Fami bergolak, sifat laki – lakinya menolak. Bukankah ini sama saja melukai mereka berdua?
“ Ini gak mungkin dan w gak mau, Lo kira w sekejam itu sama kalian? Lo kira hal ini gak akan membuat sakit kita semua?” Kata Fami menolak
“Tapi Fam. Kalo gak seperti ini, lo akan membuat kita semua hancur bersama persahabatan ini! Kalo lo memilih Putri lo akan membuat w sakit begitupun kalo lo memilih w. w gak mau Putri terluka. Tapi kalo lo gak memilih kita berdua maka persahabatan ini yang akan over dan lo akan kehilangan w ataupun Say!” Ujaran say seakan penuh ancaman membuat fami semakin gerah dengan keadaan ini. Memang di hati Fami ada dua cinta! Dan Fami tak mau kehilangn mereka berdua. Terus, ‘apakah hal ini tepat? Yang tak akan membuat mereka berdua terluka ataupun diriku yang tak akan sanggup kehilangan mereka?”
“Say, gimana bisa lo bilang gitu? Ini gak etis? Gak pernah terfikir sedikitpun kalo w akan mengambil langkah begitu, ini gila! Bagaimana mungkin kita menjalaninya bertiga?”
“Gimana gak mungkin sich Put? Semua ini bisa aja terjadi! Kita gak tau klo kita gak mencobanya?lagipula kita memang sudah terbiasa bertiga. Bedanya nanti mungkin kita akan lebih terbuka dan jujur pada diri dan perasaan kita masing – masing. Lo harus bisa nerima ini Put, kalo lo gak mau ngebuat semuanya jadi hancur berkeping – keeping!”
“Put, kita sama – sama perempuan jadi w tau apa rasanya jika itu terjadi. Tapi w percaya klo kita gak akan menyakiti satu sama lain! W sayang sama lo Put, sama kalian.”
Fami menyimak kata – kata dua gadis di depannya ini. Dirinya masih menolak untuk ide gila ini! Tapi jujur jika ini bisa membuat mereka berdua tak terluka dan membuat diri ku tidak kehilanagan mereka maka aku berharap kita bisa bersama – ama menjalani ini semua

***
Seminggu sudah hubungan ini berlanjut.Yap, hubungan. Antara Fami, Putri dan Say. Dan ini adalah rahasia mereka. Tidak ada yang tau mereka menjalani hubungan yang tak wajar ini. Semua orang telah terbiasa melihat mereka bertiga. Kemana – mana selalu bertiga udah kaya dibendit, kalo yang satunya gak ada malah semuanya heran dan bertanya?.
Semuanya memang seperti biasa tidak ada yang berbeda. Mereka hanya telah jujur pada diri mereka masing – masing dan mengikat setia untuk selalu bersama.
Putri nyengar – nyengir sendiri di dalam kalas, sesekali menahan tawa dan kemudian ekspresinya berubah jadi kaya orang bingung. Persis orang gila. ‘ Ya, rasanyanya ini ngebuat w gila! Kok bisa?” kok bisa….. pikir Putri dari setadi, Awalnya Putri memang takut. Takut semuanya malah akan kacau, takut kalau ini akan membuat persahabatan ini berubah jadi benci tapi nyatanya persahabatan ini malah berubah jadi cinta. Malah mereka nekat untuk menyatukan cinta diantara mereka bertiga hingga pacaran kok bertiga?.
“PUTRRRRRRI…… !!!”
Teriak Say kencang kaya manggil maling! Putri terkejut setengah mati,
“Say, gila lo! Kaget tau!?” perotes Putri sambil masih mengatur nafas, rasa terkejutnya masih belum hilang. Seperti biasa Say hanya nyengir kuda lumping. Kaya orang yang gak punya salah.
“Lo yang gila Put, senyum – senyum sendiri ga jelas! Ngapain sich?”
“Gak ngapa – ngapain,!” tukas Putri ketus.
“Jutek amat jawab nya?biasa kali. Anggap aja yang tadi itu syok terapi biar gak kena serangan jantung mendadak.”
“Yauduhlah seterah lo Say, “ Kali ini Putri menjawabnya dengan lemas.
“Eh, Put kalo di pikir – pikir lagi ini gila yach? Pacaran bertiga?”
“Itu dia yang w gak habis pikir, karena hal itu w juga jadi kaya orang gila nie,”
“tapi gak hanya lo doang kok Put, w dan mungkin Fami juga.”
“Seru sich. Jadi penuh warna. Eh, Put, kalo kita ngejalanninnya bertiga? Yang jadi istri pertama siapa? W gak mau ah jadi istri kedua?hehe”
Sepontan Putri dan Say tertawa berbarengan. Sepertinya memang benar hal ini telah membuat mereka gila. Gila karena cinta.
Belum habis mereka tertawa, fami datang.
“Ngetawain apaan sich? Seru amat kelihatanya?”
“ngetawain lo Fam!” Say ngejeplak asal kena.
“Emang kenapa w?”
“bukan – bukan.. “ Putri cepat mengklarifikasi
“Kita lagi ngetawain kita bertiga?”
“Udah gila kali lo pade?”
“Itu,, itu dia Fam.”
“Itu apa?” fami semakin tak paham.
“Udah ah Say,!” larang Putri, padahal Say kembali ingin celetuk.
“Nagapin sich kalian di sini? Ke kantin aja yu!?” Ajak Fami…
“yaudah yukh, w juga udah laper. Mau makan somay bang Pais!” kata Say,
Putri bersiap bangkit dari duduknya dengan sebelumnya merapikan kuncir rambutnya dan dengan cepat Fami menarik tangan Putri langsung bergegas ke luar kelas.
‘Tek.’ Serasa ada yang aneh di hati Say melihat Fami menggenggam tangan Putri erat padahal yang paling bersemangat untuk ke kantin adalah dirinya. ‘Kenapa ini? Tanya Say dalam hatinya tapi dengan sesegera mungkin Say menepis segala perasaan aneh yang menyerang hatinya.

***
“Aku sahabat yang mencintaimu…..”

Bila aku menganggap cinta datang dari sebuah persahabatan, hubungan yang akrab dan kecocokan jiwa. Apakah itu salah?
Aku sebagai remaja yang wajar memiliki perasaan ini. Mencintai dan berharap untuk dicintai. Kuselami hati ku yang bergejolak tak menentu ini, perasaan yang sungguh aneh? Tapi aku berfikir keras! membedakan cinta dan rasa kasih sebagai sahabat? Sungguh bukankah itu berbeda?
‘Ade Putri Liliana Rachmah’ itu nama lengkapku, biasanya kedua sahabatku memenggilku
“Putri….!” Panggil Say,
Aku tengah memandang seraut wajah tampan yang tengah asik bergulat dengan bola basket di lapangan sekolah. Say langsung duduk di sebelahku, aku menyadari keberadaanya tapi mata ku tak ingin lepas dari dia. Dia yang selalu menabur senyum di bibirku sekalipun hati ku kini mulai rapuh oleh perasaan yang sulit untukku kendalikan.
“Lagi ngeliatin apaan sich? Serius amat?” Tanya Say kepadaku.
Aku langsung menjawabnya dengan sebuah senyuman dan kembali melemparkan pandangan ku pada dia?. Say mengikuti pandangan ku dan menyaksikannya dengan mata yang tak kalah serius. Fami mulai memasangkan kuda – kuda untuk mulai menembakan bola ke dalam ring dan…….
“Yeeeeh,,,, Fami………!” Teriak Say dengan sangat kencang, Bola basket itu terlepas dari tangan Fami, Semua orang yang ada di lapangan serentak menimpahkan mata mereka kearah kami. Fami sampai tersentak mendengar teriakan Say yang amat histeris padahal Bola belum sempat untuk dilempar?
“Say, belum masuk ?” Kata ku menghentaknya yang masih sempat bersoraak – sorak
“Biarin aja, emang kalu bolanya masuk dong yang boleh teriak-teriak, Udah mendingan kita semagatin lagi tuch si Fami biar gak loyo kaya toge!,”
“Fami…. Ayo….. kamu pasti bisa…! Haha..”
“Yang ada bubar ni latihannya?”
Say memang selalu begitu, hampir jarang aku melihatnya murung? Ia selalu ceria dan membawa bahagia bagi diriku dalam kondisi bagaimanapun juga, dia sahabat yang mampu membuat kesedihan jadi bahagia, kepedihan jadi anugrah dan benci jadi cinta.
Dialah Sayidah Anissa, gadis imut yang gayanya terkadang masih caldis bahkan kadang termat manja, Kami berteman akrab cukup lama sejak kami terlahir kedunia ini dan hampir tertukar sewaktu dirumah sakit. Karena kami lahir di waktu, tempat, dan dokter yang sama tapi pastinya dengan orang tua yang berbeda.
Di ujung sana, Fami tersenyum lebar pada kami sambil melambaikan tangannya dan menggoyangkan telunjukya yang terbalik pada say tanda bahwa Say kembali mengacaukannya,
Aku menyaksikan mata mereka bertemu dan berbinar mesra didepanku atau ini hanya halusinasiku saja? Mereka dua orang yang aku cintai. Say sahabatku dan Dia juga sahabatku. Familio Chandra Farael.

***

Sosoknya bagaikan peran utama dalam sinetron – sinetron remaja. Wajah yang tampan, Salah satu pemain inti dari club basket SMU NUSAKU, selain itu Fami juga ketua OSIS, ketua Karya Ilmiah dan Siswa yang cukup gemilang karena serentet prestasi. Cowok bertubuh tegap itu kini menghampiri meraka, Putri dan Say bangun dan menyambut kedatangannya.
“Pasti haus, nich minuum dulu.!’ Say melempar sebotol minuman kepada Fami
Fami mereguknya tandas. Kehausan yang seketika sirna dengan siraman air segar lagi menyegarkan.
“Thanks,” Ucap Fami setelah selesai
“Giat banget latihannya, emank ada perlombaan lagi?” Tanya Putri
Fami mengambil handuk kecil yang disodorkan Putri dan mengelap keringat di sebagian tubuhnya,
“Akhir semester nanti, ada tanding antar sekolah. Cuma pertandingan persahabatan aja sich tapi tetep harus berlatih biar nanti gak akan bikin malu sekolah,” Jawab Fami yang berdedikasi tinggi terhadap tempat dia bersekolah.
“Put, kebiasaan nich si Say, suka banget bikin geger!” Eluh fami atas kejadian tadi,
“Kacau tuh tadi latihannya, “ lanjutnya
“W udah bilangin dia kok Fam, jangan suka bikin onar tapi ya mau diapain lagi emak udah begitu dari sananya?”
Fami dan Putri berbarengan mentapnya
Say tersenyum selebar – lebarnya merasa nyadar diri atas tindakannya itu,
“Kan biar tambah seru..” belanya
Say kembali menyembunyikan tawanya. Fami seakan tengah diledek oleh Say yang tak berhenti memandangannya dengan kelopak bibir yang merekah senyum.
“Oya, Fam. Nie ada titipaan surat” Putri menyerahkan sebuah amplop berwarna merah muda.
Fami hanya membolak – balikan kertas itu tanpa langsung membukanya,
“Surat apa nich?” Tanya Fami polos
“Lo gak liat fam? Ini surat cinta. Warnanya aja nge-pink” Jawab Say dengan notasi suara yang terdengar tak enak,
“ Kaya tukang pos aja lo Put, mau– maunya dititipin surat begituan?”
“Ya namanya di mintai tolong, apalagi Cuma sampein gituan duang, apasalahnya sich Say.”
“Surat itu dari Susi” Ucap Putri agar ragu. Fami tak merespon
“Ih, apa – apaan tu pake surat – suratan segala?”
“Kok nyolot sich? Kalau cemburu bilang?” Fami mendelik kearah Say,
Say tersenyum kecut membalas tatapan fami yang seakan – akan meledeknya,
“Apa ? PD dasyat dikau?”
“Biarin, daripada terbakar cemburu?haha…”
Say sudah mulai terlihat kesal. Fami langsung membujuk Say
“ Gitu aja ngambek, Nich kalau mau baca suratnya. Udah bisa ditebak apa isi nya kokk.” Kata Fami
“Ih, males banget.”
Fami rasanya puas jika sudah berhasil membuat Say ngambek.
Sudah lama aku melihat cinta yang tersirat dari sinar mata Say,
Aku…. Dan meraka bersahabat…

Siang itu, mereka habiskan dengan bersandau gurau seperti biasanya. Ya, hanya bertiga. Keakraban yang terjalin diantara mereka selama bertahun – tahun membuat manis yang luar biasa dan sangat sulit untuk tergantikan oleh apapun, akan mereka jaga!.

***

“Surat dari siapa lagi tuch?” Tanya Say kepada Putri.
Semua sudah pada tahu. Fami adalah artis SMU NUSAKU, banyak hal yang dapat dipuji dari nya, bahkan kekurangannya terlihat begitu indah dimata gadis – gadis. Ini surat yang kesekin kalinya untuk Fami dan yang paling sering mengiriminnya sesuatu adalah mantan pacarnya,
“Susi!” tebak Say. Ya, Susi Almania satu – satu nya mantan Fami di sekolah ini. Sampai Say dan Putri habis fikir, kok mau ya? Fami pacaran sama dia yang gayanya selangit. Mungkin waktu itu Fami lagi di pellet?pikir Say waktu itu.
“Kenapa tiba – tiba jadi jaim gitu gayanya? Maunya apa sich?” Selidik Say. Ada nada – nada kemarahan dari kata – katanya. Gadis bermata bulat tidak dapat menyembunyikan perasaannya,
Andai kau tahu Say, aku pun mempunyai perasaan yang sama seprti yang kau rasakan.
“Put, Liat aja tuch anak. Patut untuk dikasih pelajaran! Karena dia kurang belajar. Dulu mungkin dia bisa nguasai Fami habis – habisan hingga lo inget gak Put, untuk pertama kalinya Fami marah ke kita, dan sampai sekarang w gak bisa terima atas sikapnya itu. Dia yang selingkuh malah kita yang dianggap pembohong sama Fami.”
“Put, lo dengerin w gak sich? Kok lo diem aja?” hentak say
“ Iya w denger, emang lo mau kasih dia pelajaran apa? Kalu dia kurang belajar dia gak mungkin jadi juara umum selama dua tahun berturut – turut. Lagi masih di inget aja kejadian yang dulu? Mungkin dia udah berubah sekarang atau sama aja ya? Karena gayanya masih gak enak?” Pikir Putri ragu,
“Ya, lo liat aja dhe, biar yang beginian jadi urusan w! Besok mukanya akan merah kaya kepiting rebus favorite w! hehe”

***
“Liat Putri gak?” Tanya Fami pada teman sekelas Putri
“Gak sich,”
“Kemana sich tuch anak, pagi – pagi gini udah ngilang?” Fami mulai mencari Putri lagi,
Sampai beberapa lama Fami tidak berhasil menemukannya,
“Pasti tuch anak lupa lagi?” Fami mengambil inisyatif untuk mengambilnya sendiri di tas Putri karena urusannya udah Urgent. Fami ingin mengambil buku catatannya yang dipenjem Putri. Jam pertama ini ada pelajaran Fisika yang amat membutuhkan buku catatannya itu.
“Udah w ambil sendiri aja. Put, w ambil yah?” izin Fami tanpa kehadiran Putri
Fami membuka seleting tas nya, mencari buku bersampul coklat yang bertuliskan namanya, dan dengan cepat ia berhasil menemukannya. Tapi selembar kertas terselip ditumpukan buku itu dan nama Fami terukir disana dengan font yang cukup besar,
Aku punya Fami
Say dan Aku bersamanya…..
‘Aku tak akan menganggap ini sebuah kesalahan karena aku mencintai nya, hanya persahabatan ini akan tetap abadi tanpa cinta yang salah!’
Sejenak fami menyelami kalimat itu. Tidak tampak dari wajahnya yang sedih ataupun senang bahkan ekspresi terkejut, raut mukanya hambar tanpa makna?
Tiba – tiba di depan pintu kelas Putri dan Say datang dengan menebar senyum semeringah,
“Gila, si Susi lo apain?” Tanya Putri,
“Bodo amat, makanya jadi cewek jangan sok ke…pin..teran.”
“W bener ngeliat muka si Susi merah,” kata putri
Fami masih berdiri tegak, menyadari kedatangan dua sahabatnya membuatnya mengambil posisi.
“Fami..!” teriak Say dengan tawa yang tak lepas
“Fam, udah liat madding ? Tanya Say,
“Emangnya ada apa?” Fami bertanya balik
“Liat aja sendiri!” Say tersenyum kecut, menunjukan bibirnya yang kecil.
“Oya, ngapain lo kesini? Kelas lo pindah kemari?” kali ini Putri yang bertanya
“Buku w yang lo pinjem, belum dikembaliin. Bslikin donk!”
“Oya lupa, Maaf. “
“Kaaya nenek – nenek aja lo Put, pikun” celetuk Say
“Sebenernya udah w bawa dari kemaren, tapi ga inget trus mau dikasihin. Yaudah w ambil dulu di tas!”
Fami memandang Putri dengan tatapan yang tak biasa. Ada sesuatu yang terungkap, dan itu membuat Fami galau, Gadis klimis yang selalu mendampingnya sebagai sahabat. Memahaminya sedalam – dalamnya, mengerti tanpa diminta. Fami selalu memadangnya dari sisi sseorang sahabat tanpa menyadari perasaannya sebagi seorang gadis yang ternyata mencintainya?.”

***

“Hiks……Hiks…..” Say mengis tersedu – sedu dan membenamkan wajahnya pada bantal guling. Putri membuka pintu kamarnya sambil membawa segelas air untuk menenangkan Say
“Lama banget sich Fami datangnya, telepon sekali lagi dich!” Desak say masih dengan kesedihannya
“Bentar lagi, kalu ditelpon terus malah ngebuat dia tambah panik dan gak konsen naik motornya?”
“Nich, minum lagi! Gak habis pikir dhe si Dika bisa begitu. Syukurnya gak terjadi apa – apa sama lo Say,”
“Kaya nya dia cinta mati gitu ma w? sampai dia maksa w untuk nerimanya lgi sambil ngancem mau bunuh diri atau kita sama – sama mati? Ya ampun. Gak kebayang deh kalu tadi gak ada abang – abang tukang ojek, “
“Syukur dhe, “ Tak henti – hentinya mereka memanjatkan syukur
“Tuh kan, udah hampir setengah jam, tapi Fami belum datang lagi?”
“W takut Put, kalau – kalau si Dika akan lebih nekat ngelakuin itu lagi, “
“W juga khawatir lah, kita harus lebih hati – hati lagi!”
Bersamaan dengan terbukanya pintu . Say dan Putri menoleh kearah kedatangan Fami. Say berlari dan langsung memeluk Fami dengan erat seperti halnya memeluk Putri. Mata Fami menatap Putri seakan – akan bertanya pada Putri
‘Apa yang terjadi’
Putri terdiam tanpa bisa mengucap sepatah katapun
“Fam, w takut. Takut banget, “
“Memenagnya apa yang terjadi? Lo kenapa say?” Tanya Fami yang masih dalam pelukan Say.
Aku tidak dapat menutup mataku
Rasanya dadaku sesak
Perasaan apa ini yang menghujam sakit?

“Brensek si Dika, beraninya dia ngelakui hal ini?” Fami Nampak emosi menceritakan kronologis kejadian yang menimpanya. Putri melihat ada kemarahan yang sangat diwajah Fami. Fami langsung berdiri. Tak akan diam saja atas perlakuan cowok kurang ajar itu.
“Fam, apa yang bakal lo lakuin?” Tanya Putri yang seakan bisa menebak pikiran Fami
“Sebaiknya lo tenang dulu fam, jangan terbawa emosi!” Kata Putri, berusaha meredahkan kemarahan Fami.
“Anak itu, bener – bener keterlaluan. Jangan halangin w Put! Untuk hajar dia habis -habis !”
Tanpa ada lagi yang bisa Putri katakan untuk menghalangi fami. Fami pun pergi begitu saja dengan membawa amarah yang akan ditumpahkan pada matan pacar Say itu.

***

“Liat Fami gak ?”
“Tom, liat Fami gak?Biasanya dia sama loe?” Tanya Putri
“Iya Tom, Lo pasti tau dimana dia? W cariin dari setadi gak ketemu? “ Say menimpali. Yang ditanya malah diam saja.
“Tom,!!!” Hentak Putri dan Say berbarengan,
“Kalian bawel banget sich? Gak liat w lgi sibuk ngerjain PR” ketus Tom merasa sangat terusik,
“Ya ela, w Cuma Tanya! Bukan mau ganggu. Lagi Cuma jawab aja!apa susuahnya sich?”
“Lagi ngerjain apa sich?Cuma nyontek doing aja lo?’
“Mikir juga tau biar gak bego – bego amat! Lagi biasanya dia kan lebih sering jalan sama lo. Kalian itu udah kaya dibendit tau, kemana – mana bertiga, ntar kawin juga bertiga kali yach?”
“Ngaco nich anak?”
“Yaudah Say, salah Tanya kita Tanya yang lain aja?”
“Eh,,, “ tahan Tomi
“Apa?”
“Yaudah w kasih tau dhe Fami dimana, tapi loe juga kasih tau w jawaban soal yang ini yach?” tawar Tomi sambil menunjukan buku tulisnya.
“Lo kan lagi nyontek, kenapa gak liat disitu aja?” Say keheranan
“Ragu w sama jawaban si Ari. Otaknya kan pas – pas an sama kaya w!”
“Kehabisan orang yang mau dicontekin?” Putri nyengir
Pagi tadi Putri dan Say mencari Fahmi sampai pada jam istirahat ini, Say dan Putri merasa Fami seakan menghindar dari mereka berdua. Bahkan dari kemaren Meraka tidak melihat kehadiran Fami padahal Fami tetap masuk sekolah. Sejak kejadian kemaren malam Fami tak menunjukan batang hidungnya. Say sangat khawatir terjadi sesuatu pada Fami begitu juga Putri yang tak kalah cemasnya.
Beberapa detik kemudian, setelah Putri dan Say membantu kerjaan rumah si Tomi, akhirnya Putri dan Say mengetahui keberadaan Fami.
“Ini benerkan jawabanya?”
“Iya bawel. Awas lo kalau w gak nemuain Fami disana?” acam Say, Tom hanya cenagar – cengir hingga gigi nya yang ompong terlihat tidak enak dilihat.
“Fami gak akan apa – apakan Put?”
“Gak Say.”
“W yang akan berdosa banget kalu sampe Fami kenapa- napa?”
Say dan Putri berjalan cepat, menelusuri lorong – lorong sekolah berjalan kearah taman belakang.
Dan sesampainnya mereka disana, mata mereka berpedar mencari Fami. Di balik pohon besar itu Fami mengelar badan. Matanya lurus ke langit yang luas tanpa batas. Biru yang damai membuat pikirnya refres .
Aku punya Fami
Say dan Aku bersamanya…..
‘Aku tak akan menganggap ini sebuah kesalahan karena aku mencintai nya, hanya persahabatan ini akan tetap abadi tanpa cinta yang salah!’
Kata – kata itu selalu terngiang di hati dan pikiran Fami, hingga membuatnya tak tenang.
“Fami !!” teriak Say dan langsung berlari kearah Fami. Putri mengikuti dibelakangnya.
Fami bangun dari posisi nya dan menyambut mereka.
Sesampainya Say dihadapan Fami Say berucap lirih
“Fami,” dari matanya menetes air mata. Say terus memandangi Fami dengan tatapan redup. Melihat fami dengan beberapa luka diwajahnya Say seakan merasa amat bersalah. Karena sifatnya yang kekanak – kanakan mengadukan kejadian itu kepada Fami yang emosian. Fami masih diam tak berani berucap hanya ketika Say menyentuh bibirnya yang memar dan keningnya yang dipasang handsaplas Fami menyengir kesakitan.
Say semakin bercucuran air mata dan suara tangisan keluar dari mulutnya. Say memang masih cengeng malah terkadang dia bisa menangis seperti anak kecil.
“Gak apa – apa Say,!” Fami yang mengerti sifat gadis didepannya ini mulai menenangkan. Menghapus tangis Say dengan senyuman.
“Apa yang terjadi? Wajah lo aja udah kaya gini apalagi yang sakit? Dimana lagi yang sakit Far? Gara – gara w lo kaya gini,”

“Di hati w Say yang ngerasain sakit! Dan w gak mungkin diam aja nyaksiin sahabat w di kuarang ajarin sama orang! Udahlah ini mah gak ada apa – apanya, luka begini duang ma biasa, w masih terlihat ganteng kan?”
Fami berhasil membuat Say tersenyum walaupun kecil.
“Sekarang lo gak perlu takut lagi! W udah memberikan hal yang sepantasnya didepet cowok kurang ajar itu!”
“Tapi Fam, kalu w harus ngeliat muka lo penuh dengan luka seperti ini lebih baik w halangin lo mati – matian semalam,!”
“Udahlah, no problem. “
Putri hanya bisa menatap wajah Fami dengan kecemasan yang sama seperti Say. Menyembunyikan perih di hatinya,

Andai aku bukan sahabatmu
Mungkin aku akan merasakan keindahan cinta
Namun aku akan tetap bersamanya sebagai sahabat setia…

****
Gadis bermata bening itu malah asik menyendiri, memandangi ke elokan langit nan indah dibalik jendela, suasana yang damai yang memang tengah dibutuhkan olehnya. Menata hati itu sangat sulit,
“Hhhh….” Putri menghela nafas, melepaskannya dengan harapan semua penat dipikirannya hilang. Wajahnya Nampak murung. Realita cinta Putri yang tak bersahabat.
“Putri!!!”
Putri tersentak. Kaget.
“Say apa gak ada cara lain yang bisa bikin w mati pelan – pelan?!”
“I’am so sorry,laagian lo! gak mungkin kaget kaya gitu kalo lo gak bengong,”
“Yaudahlah, ke kantin aja yukh. Jadi laper w,” kata Say
Sesampainya di kantin sekolah Say langsung memesan mie ayam dan segelas es the manis. Sedangkan Putri memilih menu siomay kesukaannya.
“Put, !!”
“Putri….!!!”
“Apa Say? Biasa aja dunk manggilnya!”
“Lo liat itu gak sich?”
“Liat apa?” Putri mengikuti pandangan mata Say,
Di seberang lapangan sana Fami beriringan jalan dengan seorang gadis yang sangat familiar dimata Putri dan Say,
“W jadi ragu sama mata w? apa min w tambah?” kata Say
“Itu Susi yah?” Tanya Say tak percaya,
“Iya Say, kok mereka keliatan mesra banget?”
“Fami gak mungkin nerima cinta – cintaan nya si Susi kan? Gila banget apa yang w liat sekarang?”
Putri terdiam dengann tidak melepaskan pandangan matanya ke Fami
“Put, ini gak benerkan ?”
“Iya Say, itu gak bener. Fami gak sebodoh itu?”
Fami terlihat riang di dekat susi yang tak berhenti menyungging senyumnya,
“Fami gak mungkin,”
“W harus Tanya langsung ke dia?” Say mulai berdiri dari duduknya. Putri menahan,
“Say, sebaiknya jangan!”
“Kenapa! W harus ngingetin dia lagi kalo dulu susi sering mainin dia. Mungkin dia lupa?”
“Tapi Say, biarin aja dulu. Fami pasti cerita ke kita tentang semua ini. Lagipula apa yang kita liat mungkin aja gak seburuk apa yang kita banyingin”
“Putri, lo inget surat yang kemarin? itu surat apa?, Fami yang udah jarang lagi bareng sama kita?kalo bukan lagi sibuk sama dia, sama siapa? udah cukup jelas.”
“Say kita gak punya hak untuk ngelarang Fami deket sama cewek manapun?!”
“Kok lo gitu sih? W….”
“w gak bisa ngeliat itu,”
Say langsung lari meninggalkan Putri, ucapan Say terakhiir semakin memperjelas perasaan Say pada Fami. Putri pun tak bisa membohongi hatinya yang sakit melihat itu, tapi Putri masih bisa menahannya, walaupun Putri sendiri tidak tahu sampai kapan,

***
Entah dimana posisiku sekarang? Darimana aku mulai ? Dari awal, perasaan ini tak ku anggap sebagai sesuatu yang salah. Wajar saja, bila aku menjatuhkan cinta padanya karena dia adalah laki – laki idamanku, akan tetapi lambat laun perasaan ini malah membuat ku sulit untuk menerima jika dia adalah sahabat ku. Oh Tuhan,
Bayak cerita, diawal persahabat yang indah dengan jalinan persaudaraan yang suci dengan mudah berakhir begitu saja oleh rasa yang bernama cinta. Cinta yang keluar dari naluri seorang laki – laki ataupun perempuan kerana jalinan akrab diantara keduanya hingga hati berpaut melebur menjadi keinginan untuk dapat menyatukan cinta diantara mereka. Hingga pada akhirnya persahabatan itu mati oleh cinta yang tumbuh tidak pada tempatnya. Hal seperti itu yang tidak diinginkan oleh siapapun termaksuk Putri. Ironis bila akhirnya berakhir tanpa sesuatu yang tersisa kecuali penyesalan atau bahkan rasa dendam? Akankah cerita persahabatanku berakhir seperti itu? Atau aku sendiri yang harus membunuh perasaan ini?

***
“Susi Almania!” Panggil seseorang dengan nada bentakan, yang merasa memilki nama itu mengengok kebelakang. Mengernyitkan kening atas sapa yang dirasa kurang enak didengar, tanpa salam ataupun basa – basi Say langsung melontarkan pertanyaan.
“Sebenernya apa mau lo ?”
Susi yang sedang berteduh dipnggir pohon sambil menikmati sebuah buku dan soft drink tidak menghiraukan malah kembali menenggelamkan keasikannya pada hobinya itu.
“Apa mau lo?” tanyanya lagi
“?” Say menunggu jawaban
Susi hanya tersenyum senis tanpa mau menjawab pertanyaan Say, Susi berdiri dari duduknya. Matanya menatap tajam pada Say dengan pandangan yang tak kalah mengerikan,
“W rasa lo cukup pinter untuk ngejawabnya!”
“…..”
Merasa ketenangannya semakin terusik Susi mencoba berbicara.
“Sayangnya, pertanyaan lo kurang menarik Say. Dan lo tau? W paling benci sama orang yang sebenernya dia udah tau jawaban atas pertanyaannya tapi masih nekat untuk ditanyain?” Ada dua kemungkinan hal itu terjadi. Pertama, orang itu sok pinter atau di bener – bener bodoh! Lo bisa nilai sendiri diri lo yang mana?”
Sayidah meradang, dari wajahnya sudah tampak luapan – luapan emosi yang siap untuk dilemparkan pada gadis yang menurutnya angkuh didepannya ini.
“Oya, terkadang memang sangat sulit mengejar cinta tapi terkadang juga cintalah yang akan mendatangi kita dengann cara yang gak bisa ditebak. Yang jelas cinta itu akan indah pada tempatnya.”
Cewek berkaca mata ini sesekali membenarkan posisi kacamatanya. Dari kata – kata yang ditangkap oleh Say, Susi seolah ingin mengungapkan sesuatu sambil sok – sok mengajariya tentang cinta.
“Kayanya lo yang harus diingetin dhe Say, atau lo yang harusnya belajar dari pengalaman. !” Sayidah seakan dikembalikan pada ingatan masa lalu tepatnya kejadian setahun yang lalu dimana Susi menjadi bagian terpenting dari Fami dan mencoba masuk dalam persahabatan mereka akan tetapi karena penghiantan. susi membuat Fami terpuruk dan hubungannya dengan kedua sahabatnya menjadi kacau. Susi adalah cinta pertama Fami, hingga posisi Susi menjadi bagian terpenting dari Fami lebih dari kedua sahabatnya, tapi dengan mudahnya Susi menduakan fami yang begitu mencintainya. Putri lebih tau, bagaimana Susi menghancurkan hati Fami. Putri yang menjadi saksi melihat adegan Susi berciuman dengan Rian, salah seorang anggota klub basket yang satu nawungan dengan Fami. Selain meluluh lantakan hati Fami, Susi juga berhasil membuat mereka bertengkar habis – habisan karena awalnya Fami lebih mempercayai Susi ketimbang Putri.
Kini, Say tidak dapat menerima keadatangan Susi kembali dalam hati Fami, dan akan menghancurkan Fami yang kedua kalinya.
“ W tuch udah males banget ngomong sama lo Say, lo itu kadang kekanak – kanakan dan terkadang sok tua dan sok tau! Kalo lo Cuma pengen ngelarang Fami deket sama w! Kenapa gak lo sendiri aja yang ngomong ke dia! Suruh dia ngejauh dari w!”
“Dan w rasa lo akan gagal. Kenapa? Karena w adalah cinta pertama dia. Dan dia gak bisa lepas dari w!”
“Eh, gila. PD banget lo!?” Potong Say, emosinya naik ke ubun – ubun
“Mungkin itu yang nyebabin lo jadi perempuan angkuh yang ngerasa diri lo paling pinter tapi lo mesti inget hal itu gak akan bertahan lama! Semuanya akan berubah jadi seperti yang w mau! W gak akan nyuruh Fami untuk ngejauh dari lo, tapi dia sendiri yang akan ngejauh dari lo!camkan itu,” Say seakan menabuh genderang perang dengan Susi. Mata mereka bertaruh sangan sengit, pertarungan akan dimulai kembali! Tentang siapa yang akan menang? Keduanya merasa optimis.

Disisi lain,

Andai aku bukan sahabatmu
Mungkin aku akan merasakan keindahan cinta
Namun aku akan tetap bersamanya sebagai sahabat setia….
Sahabat. Putri dan Sayidah adalah sahabatku. Teman dikala gundah melanda. Tawa dikala bahagia menyapa. Sahabat yang bijak mengantar jejak – jejak hidup penuh arti. Membuat dunia ku berwarna nan indah, seperti pelangi setelah hujan. Seperti Bahagia Setelah Bahagia. Seperti ribuan bintang yang setia menemani bulan. Seperti langit yang berarakan awan.
Kemudian bagaimana aku harus menanggapi cinta. Cinta mereka yang jujur! Ingin ku sambut dengan sejuta senyuman yang lebih indah dari mentari pagi.
Di pikir cowo kelahiran bulan cinta ini hanya ada dua sahabatnya terlebih lagi Putri yang begitu pandai menyembunyikan rasanya hingga Fami merasa sangat berdosa karena sering tidak bisa menjaga perasaannya.
‘Harus ku apakan perasaan mereka? Harus bagaimana perasaanku?’ besit Fami dalam hatinya. Lamunan Fami kini berkeliling, tapi raganya hanya membeku diam bersender di tembok.
“Seharusnya lo gak ngehindari kita Fam!” Fami terhentak kaget. Ditengah – tengah lamunannya, secara tiba-tiba Putri datang. Seakan bisa menebak pikiran Fami. Putri langsung melontarkan pertanyaan.
Fami belum mau menjawabnya? Atau karena memang sulit untuk dijawab. Putri masih menunggu jawab.
Fami mulai berucap dan berdiri dari duduknya, “ W gak ngehindari kalian kok!”
Tidak merasa puas dengann jawabanya, Putri membalas,
“Gak mungkin ini hanya perasaan w aja?Putri ngerasain hal yang sama. Kalo lo tuch aneh!gak seperti biasanya. Ada apa Fam? Jangan buat kita berfikiran buruk kalo lo seperti ini gara – gara Susi? Karena semenjak”
“Bisa gak sich lo gak bawa – bawa orang lain!” Potong Fami.
“Oke klo emang bukan karena dia. Trus kenapa?”
Putri hanya bisa memandang punggung yang lapang itu. Fami membelakanginya, Fami merasa tak sanggup melihat sahabatnya itu.
“Udahlah Put, saat ini w lagi kacau. Lo dan Say boleh anggap w lagi aneh atau lagi gak jelas!”
“Oya, tolong jangan ganggu hubungan w sama Susi!”

Kenapa tiba – tiba dada w terasa sesak..
Rasa nya mau nangis……
Fami…….
Saat itu Putri tak kuat lama – lama di dekat Fami, karena ia takut air matanya tak terbendung.
***
Hari ini, saat langit cerah dan matahari mengumbar senyum sumeringah. Fami, Say dan Putri berjalan santai menyusuri jalan menuju taman komplek di ujung jalan ini. Hari ini Fami ada latihan dan seperti biasa Say dan Putri tak pernah absen ikut serta dalam latihan apalagi pertandingan. Fami menggenggam dua tangan gadis ini. Say berjalan disamping kiri dan Putri kanan.

Ternyata, antara cinta dan persahabatan itu bedanya tipis. Dalam persahabatan sangat mungkin timbulnya cinta. Bahkan dari 100 kasus, 99 % atau lebih, persahabatan yang terjalin diantara cowo dan cewe dibumbuhi perasaan yang lebih dari rasa care, simpatik ataupun sayang. Sepintar apapun mereka menjaga perasahabatannya tidak ada yang bisa menjamin semuanya akan baik – baik saja, ketika masing – masing dari mereka atau salah satunya merasakan sesuatu yang membuat hati mereka begetar, berdebar, berdenyut kencang saat – saat bersama atau ketika mengingat kebersamaan yang terjalin. Yang pada akhirnya persahabatan akan berubah menjadi beberapa kemungkinan diantaranya bubar atau tetap bersatu dan saling membohongi diri sendiri.
Bagi Say, keduanya bukanlah pilihan! Dari beberapa kemungkinan. Kemungkinan untuk menyatukan cinta itu termasuk kedalamnya dan menjadi pilihan alternative, pasalnya setiap insan yang jatuh kedalam cinta maka dia dituntut untuk dapat bertanggung jawab! Membohongi diri sendiri sama saja membunuh perasaan itu pastinya akan sakit dan menyakitkan.
Dan say menuliskan cerita cinta dan persahabatnnya sendiri, membuat keduanya indah.

***
Putri dan Say berjalan sekencang mungkin bahkan jika memungkinkan mereka berlari menyusuri Lorong – lorong rumah sakit. Pikir mereka cemas, hati mereka berdebar – debar. Mengusir bayangan – bayangan buruk yang menghantui mereka. Bahkan dunia seakan bergoncang keras ketika mereka diberitahu fami kecelakaan. Namun mereka saling menguatkan dan menyakinkan bahwa Fami akan baik – baik saja. Tak henti – hentinya mereka memanjatkan doa pada sang khalik untuk keselamatan Fami.
Mereka berhenti di depan pintu sebuah ruangan mawar ber no. 10. Memastikan kembali bahwa benar di kamar ini Fami di rawat. Hati mereka berdua semakin dag – dig dug, Gemuruh gendang bertabuh kencang di hati meraka. Say, siap – siap membuka pintu. Dengan sangat hati –hati Say membuka nya. Say dan Putri terkaget luar biasa. Apa yang mereka liat?.
Susi berada dekat dengan Fami. Ia duduk disamping Fami. Matanya lekat memandang Fami dengann penuh perhatian. Seperti tidak terjadi apa – apa pada dirinya? Fami masih bisa tersenyum. Say dan Putri masih berada di depan pintu. Tanpa sadar Say meneteskan air mata. Dan tangannya kuat menutup mulutnya agar tangisnya tak pecah. Sedangkan Putri merasa sangat lega dengan keadaan Fami yang terlihat masih baik walaupun terlihat memar di wajahnya dan balutan perban melilit kaki kirinya. Hanya itu yang terlihat parah dan berharap tidak terjadi sesuatu yang lebih. Putri baru tersadar Say menangis. Dan Putri menarik Say keluar dan menutup pintu kembali dengan sangat pelan agar keberadaannya tidak diketahui.
Putri memeluk Say,
“Kan Faminya gak separah yang kita bayangkan say, Alhamdulillah dia baik – baik aja. Seharusnya kita bersyukur dunk!” Tenang Putri
Say diam dalam tangisnya.
“Jutru itu Put, w ngerasa lega banget dia baik – baik aja. Tapi… Apa kita bakalan bener – bener kehilangan dia? Di saat seperti ini yang ada disisi nya sekarang adalah Susi bukan kita?”
Putri melepas dekapannya menatap lekat – lekat wajah sahabat didepannya. Mengelap wajahnya yang basah oleh tangisan. Putri pun memiliki kekhawatiran yang sama, kehilangan Fami. Putri mampu untuk menutup rasa sedihnya.
“Put, apa lo gak cemburu ngeliat Fami balikan lagi sama Susi? Apa lo gak marah? Ga sakit?”
Putri terkejut dengan pertanyaan Say. Apa maksudnya? Pikir Putri apa Say tau perasaannya?
“W sakit Put, W benci setiap kali ngeliat Susi deket sama Fami!”
Putri tak berani berucap apa pun. Situasi ini tak tepat untuk mengungkapkan perasaannya, Putri pun sebenarnya menangis dalam diamnya.
Say tersedu sedu dengan tangisnya membuat Putri harus mengajaknya ke tempat lain dan mendiamkannya seperti biasa, bagaikan seorang kakak yang membelai adik kecilnya.

****

Ternyata diluar perikiraan dokter, Fami yang awalnya hanya diperkirakan cukup dirawat 1 sampai 2 hari saja malah telah melewatkan waktu lima hari di rumah sakit. Cedera di kaki Fami yang awalnya hanya perlu sedikit terapi untuk membentuk otot – otot kaki agar kuat dan dapat menopang tubuhnya tapi akibat dia selalu mangkir dari jadwal terapi menyebabkan pemulihan kakinya terganggu.
Untuk kesekian kalinya Putri memilih untuk melihat Fami dari kejauhan dan memastikan keadaanya. Ini adalah kesempatan untuk putri agar dapat menetralisir hati dan pikirannya. Putri tidak dapat dengan leluasa mendekati Fami dengan keadaan hati yang kacau bisa – bisa dia tidak dapat lagi menyembunyikan perasaannya. Putri menyaksikan Fami yang berjalan tertatih – tatih membuat Putri ingin membantunya tapi sekali lagi Putri tak berani. Keinginannya untuk dapat selalu berada didekat Fami hanya bisa dia lakukan sebagai seorang sahabat bukan yang orang yang mencintainya. Bebepa menit sudah Putri mengamati Fami berjalan – jalan santai melatih kakinya di taman rumah sakit dengan menggunakan tongkat di kedua tangan sebagai penopang tubuhnya. Putri menghela nafas kuat – kuat mengeluarkan sesak di dadanya dan ketika tubuhnya telah berbalik langkahnya terhenti?.
“Fami, jangan bersikap seolah lo gak tau semuanya!?”
Putri kembali berbalik ke posisi nya di balik pohon. ‘Itu Say. Ada apa dia datang tiba – tiba dan menodong Fami dengan pertanyaan itu?’ Tanya Putri dalam batinnya,
“W gak ngerti dan gak tau apa yang lo bicarain Say?” Fami malah balik bertanya dan semakin mendekatkan tubuhnya ke arah Say,
“Cukup Fam, w udah lelah dengan semua ini?”
Putri semakin penasaran dan tak mengerti apa maksud ucapan Say? Terlebih lagi melihat Say yang mulai menitikan air mata,
“Fami! Apa pun yang lo tau sekarang,?!”
‘Fami tau?’ besit Putri dalam hatinya
“ itu yang emank terjadi. Lo gak bisa menyangkal semua ini termaksuk perasaan Putri, w dan lo sendiri!?”
Putri terhentak mendengar ucapan Say begitu pun Fami yang tak bisa lagi menghindar.
“Lo tau betapa Putri tulus mencintai lo! Lo tau betapa w….” Kata Say menggantung, karena hati nya tak cukup kuat untuk mengungkapkan semuanya
“W…. yang gak ingin kehilangan lo..!” Ujar Say dengan nada suara tertekan. Semuanya sudah tidak bisa lagi disembunyikan.
Putri pun tak luput dari tangis itu, menedekap erat – erat dadanya dengan tangan karena sakit yang tak tertahankan. Fami diam berusaha menguasai hati dan perasaannya. Perasaan untuk kedua sahabatnya.
“ W harus bagaimana? Ketika w tau ada cinta dalam persahabatan ini, w gak bisa menyalahkan siapa – siapa? “
“Gak ada yang salah dalam persahabatan dan perasaan ini Fam!” potong Say
“W sendiri bingung ! w ngerasa bersalah dan sangat berdosa sama kalian, karena…. Hati w?”
“Kenapa Fam,?” Say dan Fami menoleh bersamaan. Dan mendapati Putri berdiri dihadapan mereka,
“ Jujur, w gak kuat sama semua ini! W berharap semuanya akan tetap baik – baik aja! Tapi ternyata persahabatan ini….”
“Put, w udah gak peduli sama persahabatan kita! “ Tegas Say,
“ Persahabatan kita, telah berubah jadi cinta? Dan hati w bermain di keduanya? Bukan hanya kalian yang sakit tapi w juga. Kenapa kita begitu ceroboh? W yang salah atas perasaan kalian.” Fami tertuduk lesu, tak berani menatap kedua gadis di depannya itu.
Seketika semuanya diam. Diam dalam rasa sakit dan kesedihan. Diam dalam kebingungan dan kepasrahan. Diam dalam rasa bersalah masing – masing.
Sejurus kemudian Putri ber ucap datar, dan berusaha menahan tangisnya agar tak pecah,
“W tau Say begitu mencintai lo Fam, begitupun …..” Putri tertahan
“Fami yang juga mencintai Say,” Mata Putri mengenang air mata tapi dengan cepat ia menghapusnya lagi dan lagi.
“Dan,,, w gak ingin ada diantara kalian jadi penghalang kalian.”
Fami mentap Putri dalam – dalam. Say tak menyangka Putri bakal mengatakan hal itu, yang pasti sangat sakit untuk di ungkapkan.
“Putri,,,!?” Kata Say dan Fami berbarengan. Putri sendiri merasakan dunia seakan berbalik. Membuatnya seolah sulit berpijak ditanah, bahkan sekedar bernafas. Sekuat tenaga Putri tetap berdiri di antara Say dan Fami.
“Itu gak bener Put, itu gak boleh terjadi,,,, Jangan buat w sejahat itu Put, w tau betapa dalamnya perasaan lo ke Fami dan juga Fami yang sangat mengagumi lo!”
“Akkhhhrhh….” Teriak Fami yang seolah tak tahan dengan keadaan yang sangat menyedihkan ini? Menyaksikan kedua sahabat nya ini berada dalam posisi yang sangat sulit? Bagaimana mungkin Fami bisa menempatkan hatinya?
“ W yang salah, w sangat – sangat bodoh! W yang gak punya perasaan yang ngebuat kalian jadi kaya gini! w.. emang cowok brengsek yang gak ngeti perasaan w sendiri, w yang sangat berdosa sama kalian”, Fami tak henti – hentinya mengujat dirinya yang ngebuat situasi ini begitu kacau seperti hati dan pikirannya yang dipenuhi kedua gadis ini.
‘Karean hati w mendua. Mencintai dua sahabat.’
Untuk kesekian kalinya semuanya kembali diam.

“Fam, w tau pasti siapa lo?! W tau hati dan pikiran lo! Kalau kaya gini jadinya. W gak akan membuat persahabatan ini hancur dan… gak akan negbuat perasaan kalian ataupun w hancur!”
“ Lo gak akan menghindarkan Fam! Dari perasaan lo ataupun keadaan ini!”
Fami dan Putri masih terdiam mendengar ucapan Say yang begiru serius
“Lo gak boleh milih diantara kita! Dan gak akan menyakiti hati w atau Putri bahkan hati lo terhadap kami berdua!”
“Maksud lo Say?” Fami mendelik. Putri tak paham dengan ucapan Say,
“Semuanya udah jelas bahwa diantara kita ada cinta! Dalam persahabatan ini. W cinta sama lo Fam, begitu juga Putri! Dan hati lo gak bisa memilih antara w atau Putri, karena hati lo telah mendua, membaginya antara w dan Putri. Benerkan ucapan w Fam?”
Fami merasa terpojok dengan pertanyaan Say, tapi apa yang diucapkan Say tak bisa di jawab oleh Fami karena Say tau pasti siapa Fami! Say merasa diam nya Fami adalah sebuah jawaban yang menyatakan itu benar!
“Dan w nyatakan sekali lagi! Lo gak punya pilihan! Perasaan kita harus dapat diterima!”
“W pengen kita menjalani ini ber tiga!”
` “Maksud lo bertiga Say? Pacaran?” Tanya Putri tak percaya
Say menjawabnya dengan anggukan yang terlihat mantap. Sedangkan Fami mencoba berfikir logis bahwa ini gila! Apakah cintanya ini sampai membuat semuanya jadi tidak wajar? Apa yang Say bilang tentang hatinya memang benar adanya, tapi apakah semua ini dapat dibenarkan? Pikir Fami bergolak, sifat laki – lakinya menolak. Bukankah ini sama saja melukai mereka berdua?
“ Ini gak mungkin dan w gak mau, Lo kira w sekejam itu sama kalian? Lo kira hal ini gak akan membuat sakit kita semua?” Kata Fami menolak
“Tapi Fam. Kalo gak seperti ini, lo akan membuat kita semua hancur bersama persahabatan ini! Kalo lo memilih Putri lo akan membuat w sakit begitupun kalo lo memilih w. w gak mau Putri terluka. Tapi kalo lo gak memilih kita berdua maka persahabatan ini yang akan over dan lo akan kehilangan w ataupun Say!” Ujaran say seakan penuh ancaman membuat fami semakin gerah dengan keadaan ini. Memang di hati Fami ada dua cinta! Dan Fami tak mau kehilangn mereka berdua. Terus, ‘apakah hal ini tepat? Yang tak akan membuat mereka berdua terluka ataupun diriku yang tak akan sanggup kehilangan mereka?”
“Say, gimana bisa lo bilang gitu? Ini gak etis? Gak pernah terfikir sedikitpun kalo w akan mengambil langkah begitu, ini gila! Bagaimana mungkin kita menjalaninya bertiga?”
“Gimana gak mungkin gak mungkin sich Put? Semua ini bisa aja terjadi! Kita gak tau klo kita gak mencobanya?lagipula kita memang sudah terbiasa bertiga. Bedanya nanti mungkin kita akan lebih terbuka dan jujur pada diri dan perasaan kita masing – masing. Lo harus bisa nerima ini Put, kalo lo gak mau ngebuat semuanya jadi hancur berkeping – keeping!”
“Put, kita sama – sama perempuan jadi w tau apa rasanya jika itu terjadi. Tapi w percaya klo kita gak akan menyakiti satu sama lain! W sayang sama lo Put sama kalian.”
Fami menyimak kata – kata dua gadis di depannya ini. Dirinya masih menolak untuk ide gila ini! Tapi jujur jika ini bisa membuat mereka berdua tak terluka dan membuat diri ku tidak kehilanagan mereka maka aku berharap kita bisa bersama – ama menjalani ini semua

***
Seminggu sudah hubungan ini berlanjut.Yap, hubungan. Antara Fami, Putri dan Say. Dan ini adalah rahasia mereka. Tidak ada yang tau mereka menjalani hubungan yang tak wajar ini. Semua orang telah terbiasa melihat mereka bertiga. Kemana – mana selalu bertiga udah kaya dibendit, kalo yang satunya gak ada malah semuanya heran dan bertanya?.
Semuanya memang seperti biasa tidak ada yang berbeda. Mereka hanya telah jujur pada diri mereka masing – masing dan mengikat setia untuk selalu bersama.
Putri nyengar – nyengir sendiri di dalam kalas, sesekali menahan tawa dan kemudian ekspresinya berubah jadi kaya orang bingung. Persis orang gila. ‘ Ya, rasanyanya ini ngebuat w gila! Kok bisa?” kok bisa….. pikir Putri dari setadi, Awalnya Putri memang takut. Takut semuanya malah akan kacau, takut kalau ini akan membuat persahabatan ini berubah jadi benci tapi nyatanya persahabatan ini malah berubah jadi cinta. Malah mereka nekat untuk menyatukan cinta diantara mereka bertiga hingga pacaran kok bertiga?.
“PUTRRRRRRI…… !!!”
Teriak Say kencang kaya manggil maling! Putri terkejut setengah mati,
“Say, gila lo! Kaget tau!?” perotes Putri sambil masih mengatur nafas, rasa terkejutnya masih belum hilang. Seperti biasa Say hanya nyengir kuda lumping. Kaya orang yang gak punya salah.
“Lo yang gila Put, senyum – senyum sendiri ga jelas! Ngapain sich?”
“Gak ngapa – ngapain,!” tukas Putri ketus.
“Jutek amat jawab nya?gitu aja ngambek. Anggap aja yang tadi itu syok terapi biar gak kena serangan jantung mendadak.”
“Yaduhlah seterah lo Say, “ Kali ini Putri menjawabnya dengan lemas.
“Eh, Put kalo di pikir – pikir lagi ini gila yach? Pacaran bertiga?”
“Itu dia yang w gak habis pikir, karena hal itu w juga jadi kaya orang gila nie,”
“tapi gak hanya lo doang kok Put, w dan mungkin Fami juga.”
“Seru sich. Jadi penuh warna. Eh, Put, kalo kita ngejalanninnya bertiga? Yang jadi istri pertama siapa? W gak mau ah jadi istri kedua?hehe”
Sepontan Putri dan Say tertawa berbarengan. Sepertinya memang benar hal ini telah membuat mereka gila. Gila karena cinta.
Belum habis mereka tertawa, fami datang.
“Ngetawain apaan sich? Seru amat kelihatanya?”
“ngetawain lo Fam!” Say ngejeplak asal kena.
“Emang kenapa w?”
“bukan – bukan.. “ Putri cepat mengklarifikasi
“Kita lagi ngetawain kita bertiga?”
“Udah gila kali lo pade?”
“Itu,, itu dia Fam.”
“Itu apa?” fami semakin tak paham.
“Udah ah Say,!” larang Putri, padahal Say kembali ingin celetuk.
“Nagapin sich kalian di sini? Ke kantin aja yu!?” Ajak Fami…
“yaudah yukh, w juga udah laper. Mau makan somay bang Pais!” kata Say,
Putri bersiap bangkit dari duduknya dengan sebelumnya merapikan kuncir rambutnya dan dengan cepat Fami menarik tangan Putri langsung bergegas ke luar kelas.
‘Tek.’ Serasa ada yang aneh di hati Say melihat Fami menggenggam tangan Putri erat padahal yang paling bersemangat untuk ke kantin adalah dirinya. ‘Kenapa ini? Tanya Say dalam hatinya tapi dengan sesegera mungkin Say menepis segala perasaan aneh yang menyerang hatinya.

***
Bulan purnama penuh. Memancarkan sinarnya terang. Diantara bintang – bintang di hamparan langit malam. Bahagia tengah diteguk 3 muda itu, dalam satu jalinan cinta & komitmen bersama untuk saling memiliki dan menghargai rasa yang melanda mereka. Benarkah?….
Ketika Fami berdecak kagum,
“Lo cantik banget Put,,,,!” Matanya tak lepas memandangi Putri.
“Makasih,” Balas Putri tersapu malu…
“Trus w gak..??” Timpal Say. Sewoooooot,, matanya ampe melotot….
“Lo jugalah….”
“Ooooh,” Ujar Say datar….

***

Bertiga. Dengan bergandengan tangan. Fami diantara 2 gadis manis yang setia menggenggam tangannya. Bertiga. Mengucap indahnya masa ketika bersama. bertiga walaupun terkadang mulai merana salah satunya karena cemburu menggebu – gebu….
Putri hanya duduk manis, sambil ngemotin sedotan dalam segelas minuman kemasan yang di jajakan di jajanan ala bioskop twenty one. Dia sama sekali tak menikmati film komedi yang diputar di hadapannya sekarang. Sedangkan Fami dan Say cekakak cekik… Ya, Mereka mempunyai selera film yang sama, sedangkan Putri tinggal melongo. Setelah film nya usai si Say dan Fami baru sadar ada Putri disitu. Putri hanya tersenyum sayur asem .
Putri tambah Bbbbtttt… Dari stadi Say dan Fami habis – habis ketawa masih teteeeep ngebahas film terkocak tahun ini menurut sebuah majalah bergensi ibu kota. Mungkin Putri memiliki selera humor rendah dan memaksa. Tapi ya, bagaimana? Serasa gak nyambung atau penghalang dari mereka?. Mereka saling merapat. Ngubuat Putri makin mojok, tersisih dari kawanan insan yang sedang kasmaran. “Menyebalkan…. Sabar… sabar…” Desah Putri dalam hati.
“Put, kok lo diem aja sich? Sakit yach?” Tanya Fami. Tangannnya langsung merangkul Putri dan mendekap erat ke samping pelukannya. Putri seakan di strum. Ada aliran – aliran listrik yang seketika menjalar di tubuhnya. Dekapan Fami begitu hangat dan pelukan itu syahdu Putri seakan di ajak terbang oleh Fami. Hanya berdua. Berdua dalam irama cinta yang merdu dan indah syairnya. Sedangkan Say Seolah jatuh. Dari tebing yang sangat curam dan masuk ke lobang tanpa dasar. Hati dan pikirannya kini bernyanyi ”Aku cemburu”.
“Gimana kalau kita sekarang nyari warteg?”
“Warteg?” Sergah Say dan Putri berbarengan.
“Yang bener aja lo Fam?!” Kata Say.
“Ya gak bener lah. Masa di tengah MOI ini ada warteg. Tapi mungkin aja sich!?kalau yang punya MALL ini orang Tegal…”
Sepontan mereka bertiga tertawa walaupun agak maksa karena lawakan biasa. Basi……
“Makan apa?”
“Sushi”/”Seefood” Say dan Putri jawab berbarengan tapi gak sama.
“Tumben. Gak kompak?” Fami bingung????
“ Sushi aja Fam! Di tempat biasa. Pasti enak.” Rekoment Say. Putri seolah tak mau kalah.
“Bosenlah Say. Setiap kemari kita lebih seringnya makan sushi. Seefood aja. Taste yang berbeda. Lagi pula gak kalah enak dari sushi.”
“Tapi Put, kemaren tante w bilang ada menu baru. Kita musti coba, kata tante w itu ennaaaaak banget. Ya, Fam kita makan sushi aja….!!” Say menggelayut kearah Fami yang kian menepi dan bersandar ke tembok.
“Lain kali aja dhe Say. Menu baru nya juga paling gak jauh – jauh dari dari ikan – ikanan. Kita makan hidangan laut benerannya aja. Yuuukh Fam.!!” Fami menelan ludahnya tandas. Bingung oleh kedua gadis yang berbeda ini keinginannya? Muka nya Fami sekarang menyerupai tembok. Datar??!
Belum selesai mereka memutuskan, secara tiba – tiba ada seseorang dengan ke-PD-an selangit menghampiri mereka dan ber ujar,
“Wiich, Mantep dah… Jadi lo enak banget yah Fam!”
“Maksud lo apa Dik,,??”
“Iya, di kerubutin semut – semut manis yang sedang menjilati gula yang sebenarmya pahit. Lucu. Alahkah lucunya kalian.” Dika tertawa lebar. Menghujamkan kekesalan di wajah Say, Putri yang agak tenang dan Fami yang mulai gusar.
“Cocok banget lo bertiga. Yang ini bini pertama dan ini bini ke dua.” Dika menunjuk ke arah Putri lalu Say.
“Kalo ngomong di jaga lo yach!” Say nyolot.
“Aduh Sayang, meninggan lo sama w..! Hanya lo di hati w, gak ada yang lain. Lo pasti bahagia Say di samping w! Ngapain sich lo Say deket – deket nich banci…!!?”
Fami terasa terbakar. Putri mengahalangi Fami yang mulai bereaksi.
“Lo tu kurang ajar tau..!”
Ppakkk…. Tamparan itu pas di pipi Dika. Say merasa telah puas. Dika ngerasa kesakitan dan memegangi pipinya yang merah. Terlihat ceplakan tangan Say di wajahnya.
”W harap ini membuat lo kapok. Karena selalu bikin rese! W gak mau ngeliat lo lagi!”
“W tuch sayang banget sama lo Say!”
“W gak butuh sayang lo!”
“Udah Say, kita pergi aja dari sini!” Ajak Putri yang langsung menggandeng Say dan Fami meninggalkan Dika dengan rasa sakitnya.

***

“Jangan gitu dung Say,!” Pinta Putri. Say hanya cemberut.
“Say, w gak bermaksud?”
“Udahlah Put. W tuch lagi sebel sama kalian. Bisa – bisa nya kalian …” Say menggantung kata nya karena Say udah empet banget dhe.
“Iya, lo berdua bisa yach?Tau w gak enak badan masih bisa Seneng – seneng tanpa w. W kira kita akan selalu bertiga, eh tau nya??! Bisa yach kalian asik berdua duang. Jangan – jangan selama ini w cuma jadi pengganggu buat kalian!” Say Nampak emosi. Kejadian kemaren malam membuatnya naik darah, ketika Say mengetahui Putri dan Fami pergi berdua. Hanya berdua…. ke pantai….
“Say, gak seperti itu…..”
“Udahlah!” Potong Say menutup telinga dari penjelasan yang diberikan Putri dan lari meninggalkan Putri sendiri di ruangan kelas itu. Kalau Say udah ngambek Putri pasti yang harus sabar menghadapi amarah Say yang gak bisa di tebak sampai kapan itu.

***
“Fam, gimana dunk?? Si Say ngambek tuch…?” Putri meremas – remas tangan nya karena rasa tak enak yang menggalau hatinya akan sikap say yang masih belum mau berbicara dengan mereka berdua. Mondar – mandir gak jelas depan pintu rumahnya. Setiap kali langkah nya mau maju keluar pintu tapi terpatahkan, dibayangnya, yang akan terjadi bila Putri datang lagi kerumah Say, bisa – bisa diusir dengan tidak hormat. Fami malah asik ngotak – ngati handphone nya, mengambil sikap yang seolah tak peduli pada kedua sahabat nya itu. Sampai Putri gerah juga ngeliatnya.
“Fam, lo kok diem aja sich? Malah mainin hp.??” Fami males jawab.
Ngerasa dicuekin Putri merampas hp nya. Eh, Fami malah ngeluarin hp nya yang lain. Putri makain senewen. Diramapas lagi tuch hp dari tangan Putri. Fami ngelarin hp lagi?
“Lo tuch tukang konter hp yach? Bayak amat sich???” Putri makin sebeeeeel….
“Nich, ambil lagi. Itu hp lo kok??”
“Oh,, iya.”
Fami bangun dari duduknya dan mendekati Putri lalu berjalan pelan dan berbisik ditelinga Putri,
“Tenang donk, sayang..!”
Putri mendorong Fami, dan berkata,
“Ap sich? Disituasi genting kaya gini masih bisa begitu? Gak lucu tau…”
“Tapi suka kan?”
“Jangan merah gitu dunk mukannya?hehe” Fami berhasil mengusir sedikit kegundahan Putri, berganti dengan sedikit rasa senang yang gak ketolongan tapi bisa tertahan.
“Fami,,, !!”
“Apa cintaku?”
“Lo tuch!!!”
Ya ampun, kenapa tiba – tiba nich anak jadi sok romantic gitu sich? Ngebuat Putri salah tingkah jadinya?
“Disituasi genting kaya gini, bukan waktunya deh begitu.. gimana Say???”
“Ya, gak gimana – gimana? Lo tau kan dia itu emang begitu, bentar lagi juga sembuh..! tenang yach?”
“Gak bisa gitulah? Udah lebih dari tiga hari dia nyuekin abis kita.!”
“Terus mau gimana? Kan kita juga udah usaha deketin dia. Kan w udah bilang Put, ntar juga sembuh tuch anak..!”
“Kok lo bisa santai gitu sich? Ngadepinnya?”
“Masa ia w harus histeris sich? Atau panic kaya lo? Gak nyambung lahh. Lebih baik w cool buat dinginin hati lo.!”
“Fam, w ngerasa Say lagi benar – benar marah. Gak seperti biasanya, W ngerasa salah. Bener juga sich, seharusnya kita datang sama – sama waktu itu,”
“Putri, waktu itu Say kan lagi sakit…jangan nyalahin diri sendiri dhe,”
“Iya, atau paling tidak kita kasih tau sama dia kita jadi pergi. Izin githu.”
“Gak segitunya juga kali.? Udahlah Put, w tau lo cemas..!”
“Fam, tolong ngerti! Hubungan kita dibangun diatas persahabatan w gak mau ini goyah. Kita harus kuat dan bersatu!”
Fami menghela nafas,. Pikirannya sudah hampir buntu. Gak tau lagi harus bagaimana membuat tenang Pacarnya ini.
“Ok. Mau lo gimana?”
“Sekarang kita kerumah Say,”
“Yakin??” Putri mengangguk.
“Besok gimana?”
“GAK!!”

****

“Say pasti seneng sekarang lo masuk kerumahnya?”
Putri menyodorkannya bunga mawar putih kesukaan Say,
“Ayo…!” Fami menggenggam tangan Putri. Putri melepaskannya. Fami berhenti melangkah.
“Lo ikut kan?”
Putri menggeleng.
“Lo aja!”
“Gak lah. Kita sama – sama.”
“W mohon Fam, Say pasti akan sangat seneng kalo lo yang datang.”
“Lo juga lah,”
“Gak untuk saat ini”
Putri memasang wajah setulus malaikat, membuat Fami tak berani membantahnya.
“W tunggu disini..!”
Fami kembali melangkah, sesekali menoleh kearah Putri, mata nya berbicara.
“Diam lah disitu, tunggu aku!”

***
“Mau apa lo kemari?”
“Mau,,,,” Fami memasuki kamar Say yang serba nge – pink,
“Gak jelas!!” Say masih sewot.
“Jelas. Orang w kangen sama lo?!”q
“Jangan ngambek donk Say,”
Say masih mau diam.
“Beberapa hari tanpa lo itu, seperti hidup dialam lain.”
“Alam jin maksud lo!”
“Na’uzubillah. Jangan sampe,”
“W kira, lo udah cukup bahagia sama Putri, jadi gak perlu w kan!”
“kata siapa? Apa lo tau Say? Hati w sakit lo kaya gini begitu juga sama Putri dia sangat merasa bersalah. kita janji gak akan kaya gitu lagi. Maafin w yach? Maafin Putri.”
“Sekiranya lo terluka? Maka harus dengan apa w menyembuhkannya? Kalo perlu w loncat dari balkon rumah lo pasti w akan lakukan kalo bisa buat lo gak marah lagi? “
Say diam,
“Kaya nya bener w yang salah, udah maksa Putri untuk nemenenin w tanpa lo. W yang salah.. w yang buat lo sakit,,” Fami makin terpojok, dengan perlahan dia berjalan mundur ke arah jendela. Say masih diam. Membelakangi Fami seolah tak peduli dengan perkataan Fami, begitulah kalau Say udah marah. Diam.
“Say…. Sayang…”
Say membalik kearah Fami, dan mendapati Fami bersiap untuk melompat dan benar saja Fami terjun dari lantai 2 rumah say.
Sayidah terkaget
“FAMIII….!!!?” teriak, lalu panic. Seperti terserang aliran strum, tubuh Say seketika lemas. Linglung. Sesaat Say diam, gak ngerti dhe apa yang harus dia lakukan. Tiba – tiba dia lari, turun melalui tangga dan bersegera melihat keadaan Fami. Hati Say menggerutu dan berharap fami tidak apa – apa? beberapa menit kemudian Say sudah berada di taman depan rumahnya. Bertambah bingung Say dibuatnya, ketika Say tak mendapati Fami dimanapun??
“Fami…..!!!???”
Teriak Say sekencang – kencangnya, walaupun dia sendiri tidak tau kenapa dia berteriak?
Say langsung nagis sejadi – jadinya dengan penyesalan. Sesal bahwa Say sadar dia tidak bisa kehilangan Fami. Dan merasa dirinyalah yang salah dikarenakan terlalu ambegan!?
“Fami maaf…w yang salah! W gak mau kehilangan lo!!”
“FAMIIIII….!!!” Teriak Say Kuat lagi,
“Aduh!”
“Fami??” Kata Say yang mendengar suara dibalik pohon mangga?
“Lo? Kok gini sich cara loe?Lo gak apa – apakan?”
“Aaauuw…!” Eluh Fami. Say mengampiri Fami. Sesaat Say kembali bingung? Entah apa yang harus diperbuatnya dihadapan Fami saat ini? Hanya bulir air mata telah menetes.
“Teriak loe kenceng banget! Coba kalo tetangga denger bisa berabe!” Tandas Fami
“Kok tetangga. Biarin Aja! Tapi loe ga papa kan?”
“Gaak apalah! Lo lupa w seorang parkour” Ujarnya sedatar mungkin. Dipandanginya Say yang begitu dekat dihadapannya sekarang. Kemudian membantu Say membersihkan air mata yang mengotori pipi gadis jelita ini. Fami tau bahwa Say telah memaafkannya.! Dan Say telah menyadari sifatnya yang masih kekanak – kanakan itu. Oleh sebab itulah Fami mendiaminya beberapa hari ini.
“Aduh, mana yach tadi?”
“Apa?Kata nya gak apa – apa?”
“Yaaaach!! . W lupa?”
“Apa?”
“Nich…?walah..” Fami menyodorkan Seikat bunga yang telah rontok kedudukan waktu Fami terjatuh? Hingga Cowok berkumis tipis dan bertubuh tegap ini sedikit malu. Atau memang memalukan! Say, malah tertawa kecil hingga wajahnya terlihat segar kembali setelah sebelumnya masam. Dan itu pertanda maaf sudah ada ditangan Fami dan Putri yang tengah mengintip dibalik pepohonan.
Melihat Say begitu bahagia dengan Fami terkadang Putri merasa dirinya sebagai penghalang. Putri hanya ingin cerita cinta dan persahabatannya bahagia.

***

Gerimis ini telah mereda, walau mendung masih tetap ada. Hujan menyisakan tetesan – tetesan embun pada dedaunan. Membuat jalan – jalan becek dengan genangan air. Susi masih berpayung, kemudian memastikan bahwa sudah tidak turun hujan dan Susi pun menutup payungnya. Berdiri di perempatan jalan. Menoleh ke kanan dan ke kiri, bermaksud ingin menyebrang jalan, nampak beberapa kali Susi ragu untuk melangkah karena kondisi jalan yang ramai dan tidak tertib.. Menunggu ada yang menyebrang pun tak juga ada. Susi masih sabar dan tetap berhati – hati. Sudah beberapa menit Susi masih tetap di posisinya tidak ada kesempatan dirasa untuk berjalan melewati jalan raya yang cukup ramai sedangkan Zebra cross atau tangga penyebrangan jauh beberapa kilometer di depan.
“Ada yang bisa dibantu?”
Susi tak langsung menoleh karena pendengarannya merasa sangat kenal dengan suara itu?
“Dari tadi w liatin lo, ayo nyebrang bareng!?”
‘Fani.’ Susi tak langsung menjawab.
Fami mengambil ancang – ancang, menoleh ke kanan dan ke kiri jalan, mencari sela yang sepi untuk dapat menyebrang.
Fami berujar, “Dulu, kalo mau nyebrang lo selalu aja nungguin orang yang mau nyebrang jalan juga karena gak pernah berani. Ternyata gak berubah, sekarang atau dulu.”
Sungguh, Tak sedikitpun Susi berucap, hanya pikirnya gerah oleh lelaki dihadapannya ini, karena selalu ada ruang di hati dan pikiran Susi untuk Fami.
Fami siap, berjalan dengan sigap. Langsung menyebrang ketika ada kesempatan tapi Fami segera tersadar ketika Susi tak mengikutinya. Fami pun menarik Susi untuk ikut menyebrang bersamanya. Susi tersentak ? terkaget ketika Fami menggenggam lengannya. Posisi nya Susi tak bisa menolak.
Dan sesampainya di seberang jalan itu, Susi masih tak ingin berbicara,
“dah, w tinggal yach?”
Kali ini Susi yang menarik tangan Fami. Dan berkata,
“Jangan pernah tinggalin w lagi Fam!?”
“W kira kita bisa memperbaiki semuanya!”
“Kita akan tetep jadi temen karena w udah punya cinta yang lain,” kata Fami memajang senyum termanis dihadapan Susi yang terlihat jelas diwajahnya gurat kekecewaan,
:Apa orang itu Putri? Sahabat lo? Atau Say?”
“Sahabat – sahabat w, !” Tukas Fami
Fami langsung berjalan membelakang Susi. Untuk pertama kalinya Susi merasa kehilangan Fami selama – lamanya, sadar cinta nya tak terbalas. Dan menyakitakan!. Susi seolah kelu dengan keadaan ini. Tapi Susi tak mampu menguasai dirinya yang tengah menelan kecewa, semuanya amat berat untuk diterima, terlebih lagi hanya karena sahabatnya.
Dan Susi hanya bisa memandang punggung itu, berharap Fami berbalik kearahnya.

****

Pagi. Matahari tersenyum simpul. Senyum yang juga terukir di wajah 3 darah muda ini. Say, Putri dan Fami. Melangkah pasti menuju pintu gerbang sekolah. Bahagia begitu lekat di hati – hati mereka. Bahkan dunia terasa hanya milik mereka, yang lain?Ngontrak!. Mereka begitu nyaman dengan keadaan yang tercipta sekarang. Walaupun acap kali diantara mereka ada yang memendam rasa yang mereka sendiri sanggah itu rasa bernama cemburu. Hufft…!!
Dari awal telah disepakati bahwa persahabatan yang tercipta selamanya akan tetap abadi apapun yang terjadi. Nikmatilah, Yach begitulah mereka. Rasanya tidak ada yang berubah dari mereka. Semua tahu mereka sahabat, kemana – mana pasti bertiga! Sudah seperti di bendit. Hanya saja mereka tak mampu memproklamirkan hubungan mereka ini? Lagi pula untuk apa? Toh, semuanya mereka yang menjalani. Mereka hanya ingin jujur satu sama lain. Mereka saling mencinta sebagaimana kawanan muda – mudi lain yang darahnya menggebu – gebu bagai bara diperapian. Walaupun tanpa sadar mereka terkadang membakar diri mereka sendiri dengan perasaan satu sama lain. Ya, dasarnya manusia hanya memiliki satu hati!
Sesampainya di dalam sekolah, Say dan Putri merasa sangat aneh? Setiap mata tertuju pada mereka bertiga. Fami belum menyadarinya! Dari ujung kaki sampai ujung rambut semuanya di pandangi dengan tatapan sinis? Say dan Putri beradu pandang! Mereka mencoba menerka apa yang terjadi?
“Hai Rin, !?” Sapa Say pada salah satu teman sekelasnya. Yang dipanggil tak menyahut, malah melengos pergi tanpa ekspresi. Membuat Say dan Putri makin terpojok.
“Kenape tuch anak?” Tanya Say bingung?
Mereka masih terus berjalan di sepanjang lorong ini, tak lepas pandangan orang – orang melihat mereka dengan mata seribu maksud? Sesekali Putri mencoba menyadarkan Fami! Dasar cowo! Terkadang emang gak peka! Cuek Ayam!. Fami masih asik – asik aja jalan santai! Tak peduli pandangan orang! Sampai, si Tomo dengan sengaja menghalangi jalan kami dan berbicara berbisik pada Fami,
“Enak yach, jadi lloe! W mau? Yang akur yach! ?”
Say dan Putri melongo. Ngeliat Tomo nyelonong kaya bebek. Menghalangi mereka jalan. Nyosor kaya soang.
“???Maksud loe?? Apa sich?”
“…hehe” Tomo malah nyengir kaya nying-nying.
Fami hanya mampu terdiam. Terperanga dengan perkataan Tomo ompong.

***
Sekolah Nusaku geger! Berita yang tersabar sekarang ibarat BOM yang mengguncang semua warga sekolah tanpa terkecuali, bahkan mas Gino tukang sapu sekolah. Semuanya tak habis pikir dengan pemberita yang tersebar sekarang! Say, Putri dan Fami pacaran??!.
Mading utama sekolah kini dikerumuni beberapa siswa yang penasaran dengan apa yang terjadi. Terlihat seseorang membulatkan bibir “O….,” dan berujung pada “ Iiih, aneh – aneh aja mereka”
Ada yang hampir tak mempercayainya..? tapi foto dan artikel di madding itu memperjelas semuanya, dimana mereka menujukan kemersaan diantara mereka, berkedok persahabatan untuk menutupi kelakuan mereka.Semuanya mencerca, menyayangkan dengan apa yang mereka lakukan, hujatan terbanyak dilontarkan ke Fami sebagai actor utama, awalnya sebelum kejadian ini Fami dieluh – eluhkan oleh gadis – gadis sekolah tapi kini ia dinyatakan sebagai penjajah karena memacari dua sahabatnya sendiri! Sedangkan Say dan Putri dituding perempuan bodoh yang mau – mau nya diduain. Semuanya berspekulasi apa yang terjadi? Yang jelas rata – rata dari mereka mengaggap semua ini salah.
Say dan Putri mencoba memasuki kerumunan siswa – siswi, sebagian mereka mengalah mundur lalu memanahkan pandangan nya pada Putri dan Say dengan tatapan sinis, Say berhasil menjejal diri tampil di depan madding. Melihat gambar diri dan sahabat – sahabatnya di madding. Dan kemudian membaca seksama kata demi kata, seketika wajahnya yang putih bersih merah nian bagai terbakar api.begitu pula Putri walaupun dia lebih mampu diam dalam kebingungan hanya bertanya dalam hati ‘siapa yang melakukan hal ini?’
“Siapa sich yang kurang kerjaan bikin gossip gak jelas kaya gini? rese banget tuch orang!!!” Teriak Say meluapkan separuh kekesalannya
“Gak jelas tau!!” Tanpa banyak kata lagi Say mencabut poster itu dan merobek – robek di depan teman – temannya.
“Jadi itu gak bener Say?” Tanya salah satu diantara mereka
“Menurut loe??” Tanya balik Say
“mmmh…. Bisa – bisa aja sich? Lagi gak usah marah – marah kaya gitu kali?”
“Gimana gak marah San, coba kalo lo diginiin?” Putri menimpal.
“Ooh, w tau siapa pelakunya! Kurang ajar tuch orang!!”
“Siapa Say?? Jadi ada yang fitnah loe? Jadi lo berdua gak pacaran sama Fami?” yang lainnya ikut berujur,
“Rese banget sich omongan lo? Gak usah asal jeplak ya! Kalo ngomong!” Say semakin tak terkontrol, panasnya sudah samapai ke ubun – ubun, amarahnya tak terbendung ibarat gunung yang statusnya awas! tinggal meletus.Say engap, gerah ditengah – tengah mereka. Gadis berperawakan semampai ini pun keluar kerumunan diikuti Putri yang juga berlari mengejarnya.

***
“LO TUH LICIK!”
“Sus, gak ada cara lain yang bisa lo lakuain untuk ngerebut Fami dari w? Udah gila kali lo y? “ Labrak Say. Satu – satu nya tersangka yang ada dikepala Say adalah perempuan klimis yang ada dihadapannya sekarang ini, Susi hanya mampu memasang wajah kaget sambil megernyitkan kening dan bertanya,
“Ada apa lo? W rasa lo yang gila?! Datang – datang marah – marah gak jelas.!”
“Gak usah sok bego! W yakin lo yang nyebarin gossip tentang w dan sahabat – sahabat w kan!? Masang pengumuman di madding lengkap dengan foto kami bertiga! Jadi gini cara loe balas dendam sama w atas apa yang w pernah lakuin sama loe? Ok, w akuin w salah! W udah masang surat cinta lo buat Fami sampai loe diledekin semua orang! Tapi apa yang lo lakuin sekarang bukan hanya bikin w malu Sus! Tapi Putri dan Fami!Itu lebih sakit, kejam tau!!!”
Say sungguh tak mampu menahan air matanya bahkan tubuhnya untuk sekedar berdiri. Tiba – Tiba Putri dan Fami datang beriringan, melihat Putri yang menangis dan terjatuh dihadapan Susi Fami langsung bereaksi dan menghujamkan matanya pada Susi. Susi tak mampu bereaksi apapun, wajahnya datar malah bergurat Tanya apa yang terjadi? Putri mendirikan Say dan langsung memeluk sahabatanya itu untuk meredakan tangisnya.
“Apa dengan cara begini loe bisa dapetin cinta w? apa lo pikir w bakalan balikan sama loe Sus? Itu gak akan mungkin bahkan cinta yang pernah w rasain buat lo udah berubah jadi benci dan penyesalan kenapa dulu w bisa tergila – gila sama perempuan licik kaya lo?”
Kata – kata itu menusuk sungguh menusuk merasuk! ke dalam hati Susi. Tanpa Susi sadari air mata jatuh bergulir dari bola matanya yang bening! Sungguh bibir nya kelu untuk sekedar berkata dan membela. Langit seakan runtuh dan menimpa dirinya atau kemudian seakan jatuh ke dalam jurang tak berdasar, membuat hati, pikiran dan jiwanya tak berdaya.
Fami masih belum selesai.
“Yang perlu lo tau dan lo cam kan adalah, perempuan yang w cinta bukan lo! w cinta sama Putri… W cinta sama Say,,,, !!!”
Hening untuk beberapa saat. Setelah Fami meluapkan emosi jiwanya. Say melepaskan pelukan Putri kemudian berlari. Fami pun tak tahan berada di depan Susi, lalu berlari pergi mengejar Say, Mungkin hanya Putri yang sadar ada yang aneh dengan Susi? Dia bukan seperti Susi yang sebelumnya yang begitu angkuh, akan tetapi kini perempuan yang berdiri dihadapannya sekarang hanyalah gadis lemah yang tengah tersisih dari sebuah kisah. Putri merasa ada yang aneh? Kenapa ekspresi Susi dan sikapnya begitu lain? Seharusnya dia marah atau setidaknya mengatakan sesuatu untuk meluruskan apa yang terjadi atau melawan!? Tapi Susi malah seperti orang yang tak tahu apa – apa? Toh apa yang dituduhkan padanya memang belum terbukti? ‘Ada yang ganjil’ Pikir Putri????

***
Waktu seakan berhenti berputar. Semuanya diam. Fami hanya mampu membelakangi kedua sahabatnya…pacarnya. Say sibuk membersihkan air matanya sedangkan Putri bingung mau berkata apa ? Apa yang harus mereka bicarakan??
“Apa yang harus kita lakukan sekarang? Seluruh sek….”
“Kita hanya perlu diam!!” Fami memotong,
Menit kemudiam semua masih terdiam…Entah apa yang mereka pikirkan? Kali ini Say yang membuka omongan?
“ Diam itu gak menyelesaikan masalah Fami!”
“W sedih ngeliat keadaan kita sekarang? Semua orang memojokan kita! W emang gila! W yang udah bujuk kalian semua untuk….. agar kita pacaran bertiga!” Air mata say menghujan kembali,, kali ini Say tak menghapusnya cepat!
“W Cuma ingin jujur! W pengen kita satu sama lain jujur! Tapi w nyangka kalau kejadiannya kaya gini……….?”
Putri dan Fami masih terpatri diam diposisinya!
“Kenapa lo semua malah diam! Put, lo cinta kan sama Fami… begitupun w! dan w yakin Fami mencintai kita! Kalian kira w seneng ngomong kaya gini? W sedih ngomong kaya gini!……. w muak dengan semua ini!!”
“Say,,,,!” Putri mendekatinya Walau Say sedikit menjauh.
“Semua ini bukan salah lo Say!”
“Ini adalah pilihan kita!” Timpal Putri…
“Trus gimana?” kata Say nyaris putus asa..

***

Gemetar segetar – getarnya. Kelu, ketika bibirnya ingin berucap. Semuanya gamang ketika pikirnya nyaris menjejak. Dari A sampai Z bahwa dirinya yang tersisi dari kawanan kawan tak mampu bergerak di pojok ruangan kelas untuk sekedar berucap. “ …mmmhh.?!” suara itu hampir keluar setelah sempat mengendam cukup lama di ujung tenggorokan yang sangat haus, kering dari air atau sekedar ludah yang hampir tak tersisa. Cewe – cewe itu hanya memandang sinis ke arah Say dan kemudian menariknya ke dalam kehinaan dan rasa malu gak ketolongan karena di cuekin abis. Gak jadi dhe mau Say menyapa? Tapi tiba – tiba salah satu diantara mereka bertanya
“Say, ngomong – ngomong gimana rasanya pacaran…bertiga – tigaan?”
Ngenekin banget dhe pertanyaan itu dirasa Say.
“Maksud lo apa?”
“ya, w kan Cuma Tanya?”
“Pertanyaan loe gak penting tau gak?” Say sewot. Semenjak kejadian madding itu Say merasa gak betah di sekolah, bahkan salah satu guru meminta klarifikasi gossip itu langsung kepadanya. Aaaahkh… rasanya Say ingin teriak!! Beberapa menit kemudian Putri datang!
“Nah nie dia! Madu nya..”
“HHaaahaha…!!”
Sambutan itu dirasa amat menjengkelkan bagi Putri, sedetik Putri meoleh kearah grombolan cewe – cewe centil itu, melemparkan tatapan tajam dengan pandangan senis – sesinis – sinis nya. Mereka hanya bisa terdiam dan menutup mulut serapat – rapatnya. Matanya bagaikan mata singa yang melihat mangsanya. Tak ada yang berani bereaksi.
“Ada yang w mau omongin ke elo say, ayo ikut!” Kata Putri, tangannya langsung menarik tangan Say. Pasrah sudah Say diajak kemanapun oleh sahabatnya ini. Say tidak mau menebak apa yang akan dibicakan oleh Putri karena tampang nih anak serius banget! Dan sesampainya di belakang sekolah. Tidak ada satu orang pun disini hanya mereka berdua. Sedangkan Putri mencoba mencerna pikirannya untuk menghasilakan kata – kata yang akan diucapkannya. Putri sempat terbata – bata meberikan mukodima dan menggantung kata – katanya…..?
Putri sungguh tidak tahu harus memulainya darimana? Bahkan yang ia ingkan saat ini adalah menangis! Dan benar saja Putri menangis, ternyata hatinya tidak cukup kuat untuk menerima semua ini. Selama ini Putri berusaha menutupi semuanya, tapi inilah saat – saat dimana perasaannya telah meletus! Putri memeluk Say dengan kuat sambil menumpahkan tangis dan meluapkan kesedihan yang selama ini terpendam hingga menimbulkan sakit yang gak ketolongan.
“W gak kuat!….. “ ucap bibir nya yang gemetar karena tangis…
Say pun tidak dapat menutup hatinya dari rasa sedih yang dirasakan oleh sahabat terbaiknya, Say juga menangis! Mereka berdua pun larut dalam rasah sedih, saling menguatkan dengan pelukan.

***

Hujan. Cukup lebat ia turun. Menguyur Jakarta yang beberapa hari ini panas. Jam di dinding bersatu diangka 12 pas! Masih di sekolah, tiba – tiba berberapa siswa berteriak! Suasana bisik itu di dengar Say dan Putri yang tengah menghabiskan waktu istirahatnya memandang hujan di tepian ruang kelas!
“Ada apa sich?” Tanya Say pada bebarapa orang yang melaluinya bergerak kearah lapangan basket sekolah! Tak ada yang mau menjawab. Say malah jadi ikutan panic! Kenapa perasaannya jadi gak enak? Putri langsung menarik tangan Say dan mengikuti kemana anak – anak itu berlari. Hujan semakin mempersuram semuanya! Di tengah lapangan sana!? Membuat Say dan Putri terkaget – kaget? Fami? Dika? Ada apa dengan mereka? Fami begitu garang! Mata nya seakan memancarkan kemarahan yang berbuah pada pukulan kearah Dika! Beberapa kali, pukulan ke wajah Dika! Ke bagian tubuh lainnya, sampai akhirnya Dika tergeletak tak berdaya! Beberapa orang berusaha menghalangi Fami tapi Fami ibarat Singa yang tengah mengamuk! Melaihat Kejadian itu Say dan Putri bereaksi yang sama dengan apa yang dirasakan anak – anak yang juga hanya bisa jadi penonton! Tapi Say tak mampu menahan dirinya dan berlari kea rah Fami! Mencoba menghentikan Fami!
“Fam!!! Jangan begini!? Kenapa si lo??” Teriak Say yang kini telah masuk ke tengah lapangan dan terguyur hujan! Fami sempat diam! Dan menatap wajah Say! Begitu dalam tatapannya! Tapi tak itu tak cukup meredam emosi Fami! Fami masih saja mencoba memukuli Dika, Say pun tak kalah nekat menghalangi Fami mati – matian untuk tidak lagi memukul membabi buta seperti itu!
“Say, Fami dah gila! Sakit! Suruh dia pergi!!” pinta Dika dengan iba kepada Say! Melihat Dika yang semakin payah sungguh tak kuat dirasa Say.
“Fami! W mohon jangan seperti ini!!?” Kalau saja tak turun hujan mungkin semuanya dapat melihat dengan jelas air mata yang turun tak kalah deras dari mata Say! Dan melihat Say memohon seperti itu membuat Fami diam! Tapi tak beberapa lama beberapa guru laki – laki datang! Dan menghentikan semuanya? Tanpa bertanya banyak Fami langsung di geret keruang BK. Say tak mampu bergerak ! diam dalam dingin nya air hujan! Putri langsung mengajak Say untuk kembali ke kelas! Membersihkan dirinya dan menenangkannya!

***
Tomo bertutur bahwasaanya Fami telah tahu siapa yang sebenarnya memasang gossip nya dengan dua sahabatnya itu.di mading Dia adalah Dika, begiitu Fami tahu yang dia lakukan pertama kali bukanlah bertanya dimana Dika? Tapi dimana Susi? Dan ketika Fami tak dapat menemukan keberadaan Susi?tahu – tahu Fami nyeret Dika ketengah lapangan dan menghajarnya dengan tidak ada ampun! Tomo sendiri tidak menyangka dan tidak paham kenapa Fami bisa bersikap sekeras itu? Dan kini pihak sekolah menjatuhkan hukuman cukup tegas kepada Fami, itupun dengan pertimbangan pihak sekolah dengan melihat segala prestasi yang pernah di raih Fami. Dan Fami dijatuhkan Skors selama seminggu dan surat peringatan! Dengan catatan jika Fami berbuat kesalahan dengan melanggar peraturan – pertauran sekolah maka dengan tidak ada ampun lagi Fami dapat dikeluarkan.
***
Kekacawan beberapa waktu ini membuat semuanya lelah. Say merasa sangat bersalah dengan diri dan kedua sahabatnya juga Susi yang pernah ia tuduh dengan kejam!. Syukurlah Susi telah memaafkan mereka bertiga sekarang. Huft, karena berpacaran bertiga, semuanya berawal dari itu? Liahtalah sekang Fami yang kini tak diketahui keberadaannya? Hampir setiap hari Say dan Putri berusaha mencari Fami dan datang ke rumahnya tapi orang tuanya sendiri malah bilang, Fami tidak mau ada yang tahu dimana dia sekarang! Katanya dia ingin menenangkan diri? Tapi itu malah membuat Say dan Putri tak tenang. Sedangkan Putri, say melihat gadis itu begitu tegar dan memilih untuk memendam rasa sedihnya sendiri! Beberapa kali, Say sering memergoki Putri menahan tangisnya dengan terisak – isak! Semua ini adalah salah Say? Salahnya.?
Di hari ke 5 Fami menghilang. Putri telah mengetahui keberadaan Fami ada dimana? Fami ada di Depok! Rumah pamannya! Dengan cepat Say dan Putri bergegas ke Depok! Dan sesampainya disana, benar saja! Fami ada! Tapi Fami sama sekali tak mau menemui Say dan Putri! Dengan tegas Say bilang, “Kita harus ketemu sama Fami!!!!!”
Setelah menunggu berjam- jam dengan sisa – sisa lelah dan penat pkirin dua gadis itu, Fami datang dalam diam. Melihat Fami dihadapannya sekarang Say dan Putri malah kelu untuk sekedar berucap? Bebrapa lamanya mereka hanya diam! Sampai akhirnya Fami berujar,
“Maaf, ini semua salah w!”
“Ini bukan salah lo, Fam! Ini salah w” Say menimpal.
“Gak ini salah kita!” Putri menyergah
Semuanya kembali diam! Dengan parau Putri berusaha berani berkata,
“Anggep aja w yang ngalah! W mau kita akhiri semua ini!”
“Kita udah buat satu kesalahan besar sampai akhirnya semua orang terluka! Jujur w sakiiit! Sedih dengan keadaan kita sekarang! Tapi itu semua membuat w sadar bahwa cinta itu tak lebih berarti dari sebuah persahabatan! W kira gak ada pilihan! Sahabat atau cinta. Tapi ternyata w salah, kita emang harus milih! Betapapun sakitnya pilihan itu. Dan sekarang dari pilihan itu semua! W milih sahabat w! w harap sekali nya ada cinta diantara kita itu hanyalah cinta dari seorang sahabat! Walaupun pastinya sangat menyakitkan!’
“Say, Putri. Sekalinya ada yang paling bersalah diantara kita. Itu adalah w! w yang gak tegas sebagai laki – laki sekalipun w beneran sayang sama kalian! Lebih dari diri w sendiri! Yang pada akhirnya malah membuat orang – orang yang w sayang merasakan sakit! W gak mau ketemu kalian karena sebenarnya w sangat malu sama kalian!”
Fami bertutur begitu membuat Say tak mampu menahan tangisnya.
“Fam, dan lo Put. W sayang kalian! Sebenarnya w yang udah maksa kalian agar kita menjalani ini semua bertiga! Tapi persahabatan kita jadi kacau kaya gini! bayak hal yang dengan status kita kemaren bahkan ngebuat w gak nyaman! W ngerasa cemburulah sama lo Put! Itu malah ngebuat w Sakit! Bila hampir semua kisah memenangkan cinta maka w berharap persahabtan kita yang akan menang sekarang.Yang w mau sekarang adalah persahabatan.! Persahabatan…!”

‘Aku tak akan menganggap ini sebuah kesalahan karena aku mencintai nya, hanya persahabatan ini akan tetap abadi tanpa cinta yang salah!’

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s