Selintas Cerita Peneliti

Mengangkat penelitian ini merupakan suatu tantangan tersendiri bagi kami selaku para peneliti untuk dapat melakukan observasi dan wawancara mendalam kepada para responden guna mendapatkan kenyataan cerita, dibutuhkan waktu kira-kira satu bulan untuk melakukan pendekatan. Awalnya kami sempat takut untuk melakukan pendekatan ini, kami teringat akan tindakan brutal dan nekat bajing loncat ini saat menjalankan aksinya, kami sempat was-was membayangkan sulitnya melakukan pendekatan. Dalam benak kami, para bajing loncat cilik ini merupakan anak-anak liar yang sulit untuk dihadapi. Ternyata anggapan kami salah. Di luar dugaan sikap para bajing loncat cilik ini tidak brutal seperti yang kami bayangkan. Mereka hanyalah sekelompok anak-anak polos yang ceria dan ramah. Mereka bahkan mau berbagi cerita tentang pengalaman hidupnya kepada kami.
Kebetulan salah seorang dari kami yaitu Natalia Melake sudah lebih dahulu mengenal dan bersahabat dengan para bajing loncat cilik ini. Natali yang biasa membantu ibunya menjual makanan di lokasi tempat bajing loncat cilik ini beraksi, telah cukup lama bersahabat dengan pencoleng kecil yang juga merupakan konsumen ibunya. Tentunya hal ini semakin memudahkan kami selaku peneliti untuk melakukan penyebaran angket dan pengambilan gambar. Hampir setiap sore kami berkumpul bersama para bajing loncat cilik ini. Terkadang, kami bersenda gurau dan bernyanyi diiringi pengamen kecil sambil para bajing loncat menunggu truk-truk bermuatan besi yang melewati kawasan ini.
Selepas maghrib, kami melakukan pengambilan gambar aksi-aksi bajing loncat cilik ini saat menjarah besi. Rasa was-was kembali meliputi kami saat melakukan pengambilan gambar hal ini bukan hanya disebabkan oleh kengerian kami saat menyaksikan aksi berbahaya anak-anak penjarah ini yang membuat kami lebih was-was dikarenakan ada sekelompok orang-orang mencurigakan yang seolah mengintai kami, tadinya kami tidak merasa sesuatu yang aneh namun salah satu bajing loncat cilik memberitahu agar kami berhati-hati sebab orang-orang di sekeliling kami adalah para pencopet yang berjumlah kurang lebih tujuh orang, kami merasa ketakutan, takut tidak dapat mempertahankan handphone kamera, rasanya dewi keberuntungan memihak kami Natalia yang merasa mengenal salah satu pencopet malah mengajak ngobrol mereka, yang akhirnya mungkin para pencopet itu mengurunkan niatnya untuk tidak menggangu kami.
Selama satu bulan kami melakukan penelitian, banyak cerita-cerita menyayat hati yang mengalir dari mulut bocah-bocah polos ini. Kisah tentang suka duka selama melakukan kegiatan menjadi bajing loncat cilik. Sampai rasa senang saat menjual hasil penjarahan mereka dan ketidak beruntungan mereka saat tertangkap oleh Tim Buru Sergap atau Trantib yang tengah melakukan penertiban. Saat mereka tertangkap mereka mengaku disiksa Penyiksaan berupa pemukulan sampai pembenturan kepala ke dinding telah menjadi makanan sehari-hari bagi anak-anak ini. Penyiksaan ini berlangsung selama 2 jam setelah anak-anak ini ditangkap dan diinterograsi.
Kami tidak habis pikir, apa sebenarnya tujuan tim buru sergap menyiksa para bajilo cilik ini? Jika alasan ingin memberi pelajaran untuk bajilo-bajilo cilik ini,mengapa tidak memberi hukuman yang mendidik atau berupa penyuluhan saja? Bukan dengan kekerasan ini malah akan membuat mereka menjadi lebih kasar. Para bajing loncat cilik ini seakan hanya dijadikan “boneka” penyiksaan oleh para aparat tidak bertanggung jawab. Ini merupakan salah satu kesulitan yang kami hadapi dalam mengambil gambar, pasalnya para bajing loncat cilik merasa takut akan di adukan kepada pihak-pihak berwenang, mereka mengaku bahwa sebelumnya ada beberapa orang yang pernah mewawancarai mereka dan keesokan harinya mereka harus kejar-kejaran dengan anggota buru sergap. Inilah yang membuat para bajing loncat cilik sangat berhari-hati terhadap orang yang ingin mendekati mereka. Namun rasa keakraban dan kekeluargaan yang kita tanamkan sewaktu melakukan pendekatan membuat sebagian para bajing loncat cilik tergerak dan membantu kami, memang ada sebagian kecil dari mereka merasa terusik dengan keberadaan kami sehingga kami sedikit kesulitan untuk mengambil gambar dan sebagian foto mereka.
Dari penelitian ini peneliti sangat berharap agar pemerintah dapat tergerak untuk menangani kasus sosial seperti bajing loncat ini dengan sikap ramah sehingga mereka dapat tertolong, saat ini bukan hanya faktor ekonomi saja yang mendorong bocah-bocah malang ini melakukan hal tersebut sehingga akan sedikit memudah untuk memberikan pengarahan, sebelum semuanya terlambat dan mereka akan semakin sulit untuk ditolong.

Iklan

4 pemikiran pada “Selintas Cerita Peneliti

  1. wah pengalaman dimasa lalu, takan pernah dilupakan ya kak 🙂

    #kak main dong ke sekolah, para peserta kir kelas satu ingin berbagi pengalaman sama kakak selintas cerita peneliti kakak 🙂

    salam kir 14 ” jenius gak harus serius ” 😀

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s