Keikhlasan Cinta untuk Sang Pencinta

Cinta, adakah dirimu memahaminya? Difinisi yang tak terbatas pada kata. Cinta yang datangnya lebih sering tak terduga. Kala cinta menyapa? Sungguh, ia membuat ku salah tingkah, salah kata, serba salah jadinya? Dan apakah ini salah?….
Hal ini mengingatkanku pada ayat – ayat cinta seorang akhwat yang memberikan cintanya kepada Sang Pencipta untuk mendapatkan cinta ….
Awal cerita, Menggebu – gebu semangat yang ia tuangkan dalam segala aktivitasnya di jalan dakwah. Sepasang ADK (Aktivis Dakwah Kampus) yang saling mencinta…. Dan adakah ini salah? Tentu tidak karena hakikatnya cinta adalah sebuah fitrah, anugrah bagi hamba – hambaNya yang haus akan setetes jamuan surga.
Sungguh, dakwah merupakan jalan menuju cita – cinta tertinggi kita yaitu syahid di jalanNya. Masing – masing dari kita membawa misi dan visi membangun segala kebaikan yang menuju Tuhan. Namun, dapatkah kita sayangkan? Pabila jalan itu kita kotori dengan VMJ (Virus Merah Jambu)? Kembali pada bait – bait kisah seorang akwat di kampusnya, Sang akhwat merasa biasa saja dengan dirinya dan memusatkan hati dan pikirannya untuk berjuang dijalan dakwah sebagai manifestasi cinta kepada Nya, akan tetapi bukan secara tiba – tiba sang kumbang sama – sama Aktvis dakwah memandang akhwat tersebut sebagai sosok yang luar biasa istiqomah. Dalam dunia kampus dakwah di dalamnya begitu sarat dengan ta’awun antara akhwat dan ikhwan. Mau tidak mau, suka atau tidak suka akhwat tersebut menjalin mitra dengan ikhwan yang juga mewakafkan sedikit waktunya untuk dakwah ini. Bersama yang lainnya, bersinergi dalam usaha menebar kebaikan di dalam kampus yang butuh sinar surga. Dalam area ini, dimana mereka lebih intens bertemu, saling bersandar pada tujuan yang sama hingga singkat kata, cinta mulai datang menyapa, yang awalnya hanya benih – benih kekaguman kini berubah menjadi bunga yang bermekaran. Dengan bahasa tersirat mereka mulai menyadari satu sama lain akan benang merah yang diikat oleh rasa, tanpa sengaja mulai mengakui satu sama lain akan perasaan yang tak biasa itu. Tanpa sadar hati mereka telah bersatu dalam kerinduan. Apakah ini salah? Bimbang yang mulai menerpa, hati mulai tak tenang.
Cinta bukanlah dalil untuk menghalalkan mata melihat yang bukan hak nya. Yang awalnya sang ikhwan menundukkan pandangannya kini mulai mencuri – curi pandang, menantap seraut wajah dengan segenap perhatian dari kejauhan. Yang awalnya penuh ketegasan dan rasa malu kini berubah menjadi lebih lembut dan bergaya penuh canda dan tawa. Alhamdulillah, Allah masih menjaga sekeping hati mereka hingga jarak masih dapat mereka jaga satu sama lainnya Walau sempat tidak sempat segala isyarat yang memang tak tersurat tersingkap. Ada pertautan diantara mereka. Yah, keduanya saling berharap……
Akhwat, bagaikan telah disiram guyuran hujan ditengah terik matahari siang, menyadarkannya dari mimpi – mimpi berkepanjangan yang salama ini melenakan, Ia sadar cinta ini telah membuatnya salah? Bukan cinta yang salah, tapi dirinya. Dirinya yang menempatkan cinta diatas niatan dakwahnya yang telah menimbulkan semburan – semburan aneh dari dalam hatinya kala melakukan kerja – kerja dakwah hingga akhirnya merobohkan pondasi dakwah itu sendiri. Ia sadar bahwa ada yang salah? Adakah niatnya tercampur dosa? Ya, dosa kala niat bercampur pada harapan atau keinginan lain yang tak tepat berada. Kini akhwat berdakwah demi cinta pada selain Nya. Ia ingin menepiskan rasa ini akan tetapi teramat susah dan sengsara, nelangsa, selalu saja ada kesempatan hati ini untuk dapat bersatu pada nya, ada saja celah kecil yang membuat mereka tanpa sengaja bertemu dan bekerjasama lagi.
Sungguh semuanya teramat sulit untuk dilalui dengan rasa yang bercokol disalah satu bagian hatinya. Berkali – kali pintu hati ini ditutup malah semakin sering sang ikhwan mengetuknya. Sungguh akhwat ini telah merasakan cinta, cinta kepada sang adam yang merupakan salah satu impiannya, akan tetapi apalah artinya cinta (kini ia mulai ragu?) bila akhirnya cinta ini malah menjauhkan mereka pada Tuhannya? Malah mendekat kepada dosa, pada zina. Mereka memang tak berhubungan secara fisik tapi hati yang tak terjaga merupakan bagian dari sebuah perzinahan yang akibatnya tak kalah dasyat dengan perzinahan secara terang – terangan. Dan kala semuanya mulai tak tertahankan si akhwat mulai memasrahkan hati nya pada Al – Hak pemiliki kebenaran. Tengah malam akhwat berpeluh tangis di iringi sesegukan kesedihan yang menghantam hatinya, bertaubat dengan sebenar – benarnya taubat walaupun sungguh usaha yang ia lakukan hampir – hampir tak mampu menghancurkan rasa ini untuk ikhwan itu. Ketika ia bersua pada Sang Mahabbah,ia mengaku pilu Bahwa hatinya ini telah mengaku berdosa akan tetapi akwat ini benar – benar merasakan sakit yang tak terhingga perihnya, hingga ia membentuk anak sungai dipelipur matanya, sangat sulit bagi dirinya meminta sesuatu yang bertentangan dengan hatinya nya yaitu ‘jauhkan dari ikhwan itu, hilangkanlah segala harapanku pada ikhwan itu, segala puji bagi Mu yang Maha Mengetahui hati – hati setiap manusia yang tengah dimabuk cinta”. Cinta yang terlanjur meyeruak direlung – relung aliran darah dan desahan nafasnya, biarlah gugur demi cintanya pada Sang Khalik. Akhwat mengikhlaskan cinta ikhwan itu kepada Allah Azza wajala…Jika cinta ini harus terbunuh ia rela asalkan cintanya pada Allah bisa terus hidup, walaupun hatinya remuk redam walaupun hatinya perih dari luka yang ditamburi garam meninggalkan memori – memori indah dari kisahnya yang ternoda.
Bermalam – malam kala bulan mulai berganti bulan namun belum sempurna ikhlas ini nyata, hatinya masih terus menjerit sakit, melepaskan harapan yang ingin rasanya berada dalam pelukkannya selalu. Terjatuh dan terjatuh lagi,,, tertatih – tatih akhwat itu membina hatinya agar dijauhkan dari sesuatu yang ingin ia miliki. Tapi karena rasa khauf nya pada Allah dan terlalu cinta pada Nya, maka ia tak berhenti berharap pada Illah. Ia merasa bagaikan seorang pendosa yang tak tampak . rasa itu telah membuat sebagian besar hatinya kelam. Semoga masih ada pintu surga yang bisa dilalui oleh dirinya yang hina ini…
Disisi lain sang ikhwan masih mengucap harap pada akhwat pujaanya itu, berharap mengucapakan kalimat yang sama yaitu ‘Aku cinta..’ ikhwan itu terus merayu dalam tatapan hangat dari balik hijab. Tapi akhwat itu telah terlanjur malu pada Tuhan bahwasannya cinta nya telah ternoda oleh nafsu.
Allah adalah Tuhan yang maha adil. Seiring waktu yang tak pernah behenti mengingat keagunganNya, Allah telah memberikan keikhlasanya sepenuhnya pada akhwat itu, hingga sang akhwat dapat melegakan hati dan pikirannya. Dan akhirnya ikhwan itu dapat kembali meluruskan niatnya, tak ada lagi harapan yang dipersembahkan untuk akhwat itu. Kisah ini menceritakan bahwasannya ikhwan itu telah memilih jalannya sendiri. Ikhwan itu telah tersadar dan menjaga jalak yang jauhnya ribuan kilometer. Ikhwan itu telah kembali seperti semula menjadi seorang yang istoqomah insya’allah walaupun harus dihadapkan pada agenda dakwah yang satu ruang dengan akhwat itu. Ikhwan itu bersinar kembali dalam langit dakwah yang sesungguhnya, yang sepenuhnya khusu dalam munajat cinta pada Nya. Menjauhkan diri dari cinta dunia yang nilai nya tak sebanding dengan cinta Nya pada sang Khlaik. Ikhwan itu semakin hanyut oleh cintanya pada Allah dengan ayat – ayat al – qur’an yang menjadi teman setianya.
Begitu juga kebaikan yang diterima oleh akhwat itu,,, barakalahu…

Satu pemikiran pada “Keikhlasan Cinta untuk Sang Pencinta

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s