Pendidikan dan Anak Didik dalam Ranah Pendidikan Islam

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Rasullah Saw merupakan uswah hasanah/suri tauladan yang sempurna bagi manusia, dalam QS. Al –Ahzab ayat 21 “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah dan contoh nyata dari pengamalan Al –Qur’an seutuhnya. Beliu juga seorang juru dakwah dan seorang murabbi (pendidik) yang memiliki seluruh sifat tarbiyah(menuntun kepada kebenaran Allah melalui pemahaman, memperkokoh keimanan, serta membentuk kepada manusia berkompeten dalam kehidupan). Dalam dunia pendidikan islam, Rasulullah SAW adalah pendidik pertama dan utama yang bukan hanya sekedar menanamkan nilai – nilai spritualisme tetapi jauh lebih dari itu, Rasulullah mentransformasikan ilmu pengetahuan serta membimbing sisi emosionalitas. Rasulullah sebagai pendidik ideal yang idialis dan realistis dalam mendidik dan mengajarkan umat manusia pada umumnya, Keberadaannya sebagai pendidik merupakan sumber konsep pendidik yang kebenarannya dilegitimasi Allah SWT. Bahwasannya pendidik menjadi faktor penting dalam pendidikan, sebagaimana Rasulullah menyebarkan agama islam sebagai agama rahmatan lilalamin dengan dakwahnya dan dirinya sebagai murobbi, Rasulullah mentarbiyah para sahabat dan berhasil mendakwahkan islam ke seluruh umat manusia.

Dalam konteks pendidikan Islam, pendidik sering disebut dengan murobbi, muallim, muaddib, mudarrism dan mursyid. Beberpa sebutan tersebut tersebut mempunyai penggunaan tersendiri menurut peristilahan yang dipakai dalam pendidikan dalam konteks Islam. Di samping itu, istilah pendidikan kadang kala disebut melalui gelarnya, seperti istilah Al-Ustadz dan Asy-Syaikh.
Pekerjaan sebagai pendidik adalah pekerjaan yang luhur dan mulia, baik ditinjau dari sudut Agama, Negara dan masyarakat. Pendidik merupakan pelita segala zaman bahkan pekerjaan sebagai pendidik disebutkan dalam Al – Qur’an sebagai aktivitas yang utama selain turun kemedan perang (perhatikan QS. At-Taubah:122).
“tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.”

Belajar, dalam konteks pembelajaran di sebuah lembaga formal ataupun non formal, interaksi tersebut tidak lah terlepas dari proses belajar mengajar dari prilaku guru sebagai pengajar (penyampai ilmu pengetahuan), dan siswa sebagai pelajar. Dalam keseluruhan proses tersebut, guru atau pengajar atau pendidik memegang peranan utama dan amat penting. Prilaku guru dalam proses pendidikan dan belajar juga bagian yang teramat penting , hal ini akan memberikan pengaruh yang sangat besar bagi pembinaan prilaku dan kepribadian anak didik. Oleh karena itu sebagaimana yang telah dipaparkan diatas bahwasannya sosok murabbi atau seorang guru yang patut di teladani adalah Rasulullah saw yang dapat memberikan pengaruh yang baik, tuntunan di dunia yang nilainya tak lebih dari sehelai sayap nyamuk dan Akhirat yang kekal nan abadi. Dan mendapatkan keduannya hingga menjadi manusia sempurna dibandingkan makluk lainnya.
Tidak dapat ditolerir suatu sikap ataupun anggapan yang mengasumsikan bahwa tugas seorang guru adalah hanya sekedar berilmu pengetahuan yang tinggi. Jika kita mencontoh Rasullullah apakah beliau Saw bergelar S1, S2 ataupun gelar ketinggian pendidikan lainnya. Jelas tidak. Garis besarnya adalah menjadi seorang murabbi tidaklah cukup dengan modal pengetahuan. Sebagaimana Rasulullah dengan “ mendidikan” serta menanamkan nilai – nilai yang dibarengi dengan contoh – contoh teladan dari sikap dan tingkah lakunya. Begitupun seharusnya seorang guru yang mengajar sekaligus mendidik yang tugasnya bukan sekedar menjejelakan semua ilmu pengetahuan tetapi juga menjadikan anak didik sebagai manusia seutuhnya. Dalam buku Interaksi & motivasi belajar – mengajar disebutkan bahwa, “Mendidik adalah memanusiakan manusia” .
Mendidik berarti mentransfer nilai – nilai kepada siswanya, nilai – nilai tersebut harus diwujudkan dalam tingkah laku sehari – hari.

Sebagai seorang pendidik, murabbi harus memenuhi beberapa syarat khusus, diiringi fungsi dan tugas – tugasnya. Kemudian bagaimana kedudukan seorang pendidik salam pendidikan islam? Ciri dan karakter murabbi yang bagaimana yang mampu mengemban tugas mulia ini. Serta tak luput dari pembahasan mengenai anak didik sebagai tonggak sebuah pencampaian besar. Maka, dari rentetan latar belakang yang telah dipaparkan mari kita buka kembali kajian yang sangat perlu di dalami kemudaian diperaktekan secara nyata.

1.2 Identifikasi masalah

Berdasarkan latar belakang, masalah dapat identifikasikan sebagai berikut :
1. Apa definisi tentang pendidik dalam pendidikan islam
2. Bagaimana kedudukkan Pendidik dalam pendidikan islam
3. Apa tugas pendidik dalam pendidikan islam
4. Kompetensi – kompetensi apa saja yang harus ada pada pendidik dalam pendidikan islam
5. Bagaimana kode etik pendidik dalam pendidikan islam
6. Apa definisi peserta didik dalam pendidikan islam
7. Bagaimana paradigma peserta didik dalam pendidikan islam

1.3 Pembatasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah di atas masalah dibatasi sebagai berikut:
1. Pendidik dan peserta didik dalam pandangan pendidikan islam
2. Syarat – syarat menjadi seorang pendidik ataupun sifat yang harus dimiliki seorang
pendidik
3. Kedudukan pendidik dan peserta didik dalam pendidikan islam
4. Tugas dan tanggung jawab pendidik
5. Serta Kewajiban peserta didik dalam pendidikan

1.4 Perumusan Masalah

Berdasarkan pembatasan masalah di atas, masalah dapat dirumuskan sebagai berikut :

“Pendidik dan anak didik dalam ranah pendidikan islam?”

1.5 Tujuan Makalah ini

Tujuan sederhana dalam penulisan makalah ini adalah :

1. Sebagai mahasiswa kita mampu memahami sebuah perspektif pendidikan dan peserta didik dalam pendidikan islam.
2. Kita mampu menjadi contoh yang baik pada masa sekarang yang tengah mengalami krisis kepercayaan akan figure seseorang pendidik dengan mengamalkan nilai – nilai kepribadian Rasulullah sebagai murabbi.
3. Menghadirkan kembali pendidikan islam sebagaimana didikan rasulullah
4. Memahami hakekat pendidik dan peserta didik dalam pandangan pendidikan islam

1.5 Manfaat makalah ini

Manfaat dari makalah sederhana ini adalah :
1. Menambah pengetahuan dan wawasan kita sebagai mahasiswa
2. Agar kita mampu membentuk contoh – contoh yang baik bagi pendidikan islam sekarang.
3. Menjadikan bahan evaluasi bersama mengenai pendidikan islam sekarang ini, khususnya masalah seputar pendidik dan anak didik.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pendidikan dan peserta didik dalam pendidikan islam

Mendidik adalah memanusiakan manusia. Mendidik adalah mengantarkan anak didik agar menemukan dirinya, menemukan kemanusiaannya, Sebagaimanaa yang terpetik dalam sebuah kitab berjudul ilmu pendidikan islam karya Prof. Suyanto, yang menukil dari perkataan Imam besar Al – Ghazali : “Pendidikan adalah upaya mengeluarkan manusia dari sifat kebintangan (Baik binatang buas maupun binatang jinak) kepada sifat insaniyah dan ilahiyah. Andaikata dunia ini tidak ada pendidik, apa beda nya manusia dengan bintang.
Hakikatnya adalah seorang guru bukan semata berlakon sebagai “pengajar” yang transfer of knowledge tetapi juga “pendidik” yang transfer of values. Menjadi seorang murabbi bukanlah semata pengemban ilmu pengetahuan, akan tetapi juga menjadi tokoh central, suri tauladan seorang pribadi manusia.
Pendidik dalam islam adalah orang – orang yang bertangung jawab terhadap perkembangan peserta didiknya dengan upaya mengembangkan seluruh potensi peserta didik, baik potensi afektif (rasa), kognitif (Cipta), maupun psikomotorik(Karsa). Menjadi seorang guru bukanlah pekerjaan yang sepele atau bahkan pekerjaan yang enteng untuk dikerjakan, diperlukan niat yang tulus dalam diri seseorang sehingga dapat mempertanggung jawabkan apa yang di ajarkannya dengan penuh keikhlasan bukan sebuah keterpaksaan karena hal – hal lain terlebih lagi dari sisi financial semata walaupun hal ini menjadi salah satu motivasi. Hal ini mengingatkan saya pada apa yang telah dikemukakan oleh
H.T. Romly Qomaruddin, MA, dalam makalahnya “ Menghadirkan Ruh Guru; Upaya Maksimal Menyentuh Aspek Spiritual Anak” (2010:7) menjelaskan bahwa pada prinsipnya pendidikan merupakan sebuah proses dalam “memanusiakan” manusia atau kembali kepada fitrahNya sebagai makhluk yang mendapatkan tugas memakmurkan bumi dengan kreativitasnya dan menjalankan hukum-hukum Allah dengan berbagai aturanNya.

Dalam sebuah buku yang berjudul “ Ilmu Pendidikan Islam I” karya H.M Sudiyono (2009) ; Dalam pendidikan islam, pendidik memiliki arti dan peranan sangat penting. Hal ini disebabkan ia memiliki tanggung jawab dan menentukan arah pendidikan. Itulah sebabnya pula islam sangat menghargai dan menghormati orang – orang yang berilmu pengetahuan dan memuliakan mereka melebihi dari orang lainnya yang tidak berilmu pengetahuan dan bukan pendidik.
Allah Ta’ala berfirman ;
“Allah akan meninggikan (derajat) orang – orang yang berilmu diantara kamu dan orang – orang yang diberi ilmu pengetahuan, beberapa drajat. (Q.S. Mujadalah ayat 11)

Apa yang akan didapatkan seorang pendidik pada hakekatnya adalah apa yang akan Allah berikan jauh lebih baik dibandingkan balasan gaji yang diterima sebagai seorang guru, anggaplah kita memang mengajar dengan keikhlasan hingga focus kita sepenuhnya untuk anak didik kita, hal ini akan membuat kita sepenuhnya mencuruhkan hati serta pikiran untuk menciptakan genarasi yang berkualitas. Dan harus di akui memang tidak menampikan faktor ‘uang’ sebagai wujud imbalan nyata untuk memenuhi kehidupannya tapi sekali lagi bukan menjadi tolak ukur. Mendasari dari itu semua yang harus diperhatikan adalah sifat – sifat yang harus dimiliki seorang pendidik menurut H.M Sudiyono (2009) yang menyederhanakan pemikiran dari Mahmud Janus dan Al-Abrasyi ;
1. Zuhud : tidak mengutamakan materi semata, mengaajar dilakukan karena mencari keridhaan Allah
2. Bersih tubuhnya : Penampilannya lahiriahnya menyenangkan
3. Bersih jiwanya : tidak mempunyai dosa besar
4. Tidak ria, ria akan menghilangkan keikhlasanya
5. Tidak memendam rasa dengki dan iri hati serta tidak menyenangi permusuhan
6. Ikhlas dalam melaksanakan tugasnnya
7. Tidak malu mengakui ketidaktahuan dan bijaksana
8. Tegas dalam perkataan dan perbuatan, tetapi tidak kasar. Rendah hati, tidak sombong, lemah lembut, pemaaf, sabar, tidak marah hal – hal kecil, berkepribadian
9. Mengetahui karakter murid, mencangkup pembawaan, kebiasaan, perasaan, dan pemikiran

Dan apabila sifat – sifat tersebut yang telah dimiliki oleh seorang guru sebagai pengajar, pendidik serta pemberi suri tauladan yang baik demi mencetak kader – kader islam yang high Quality, maka figure guru tersebut dapat menempati posisi atau kedudukan yang derajatnya setingkat dibawah kedudukan nabi dan rasul(Lihat Dr. Ahmad Tafsir, April 2010) . Kedudukan tersebut dapat dinilai wajar dikarenakan terkait dengan ilmu pengetahuan dimana islam memposisikan ilmu menempati posisi yang teramat penting. Menurut Dr. Ahmad Tafsir mekemukakan bahwasannya, Tingginya kedudukan guru dalam islam merupakan realisasi ajaran islam itu sendiri, islam memuliakan pengetahuan; pengetahuan itu didapat dari belajar dan mengajar; yang belajar adalah calon guru, dan yang mengajar adalah guru. Maka tidak boleh tidak, islam pasti memuliakan guru.

Allah telah memberikan kedudukan yang luar biasa mulia untuk setiap kita yang mau dan mampu untuk menjadi seorang murabbi. Dan sesungguhnya, di tangan kitalah Allah telah memberikan amanah untuk menyebarkan kebaikan dimuka bumi ini, tugas dan tanggung jawab yang harus kita pikul dengan penuh keikhlasan hingga dapat menjalakan tugas dan peranan masing – masing kita yang akan menjadi seorang guru. Adapun beberapa peranan guru serta tugasnya dalam pendidikan islam menurut sudirman A.M , Oktober 2001, yaitu sebagai berikut ;
a. Informator
b. Organisator
c. Motivator
d. Pengarah/director
e. Inisiator
f. Transmitter
g. Fasilitator
h. Mediator
i. Evaluator
Hal ini sejalan dengan pendapat, Drs. Tohir, Ms.M.Pd. dalam psikologi pembelajaran pendidikan agama islam. Lebih jauh guru berperan sebagai ; pertama, pengambil inisiatif, pengarah, dan penilaian aktivitas – aktivitas pendidikan dan pengajaran. Kedua, wakil masyarakat dalam di sekolah, artinya guru berperan sebagai pembawa suara dan kepentingan masyarakat dalam pendidikan. Ketiga, seorang pakar dalam bidangnya, yaitu ia menguasai bahan yang harus diajarkannya, keempat, penegak disiplin, yaitu guru harus menjaga agar seluruhnya siswa menegakkan disiplin dan ia pun terlebih dahulu harus memberi contoh tentang kedisiplian kepada seluruh siswanya. Kelima, pelaksana administrasi pendidikan, yaitu guru bertanggung jawab agar pendidikan dapatberlangsung secara baik.dll.
Hakikatnya adalah tugas guru dalam islam adalah mendidik muridnya, dengan cara mengajar ataupun cari lainnya, demi terciptanya perkembangan maksimum si anak didik dengan nilai – nilai islam.

2.2. Perspektif peserta didik dalam pendidikan islam

Peserta didik merupakan individu yang belum dewasa, yang karenanya memerlukan orang lain untuk menjadikan dirinya dewasa. Anak kandung adalah peserta didik dalam keluarga, murid adalah peserta didik di sekolah, anak – anak penduduk adalah peserta didik masyarakat sekitarnya, dan umat beragama menjadi peserta didik ruhaniawan dalam suatu agama.
Jadi, peserta didik disini cangkupannya luas tidak terbatas pada pendidikan formal saja. Pada dasarnya adalah setiap insan yang ingin berubah, terus mengaktualisaiskan dirinya menuju kebaikan telah menjadikan dirinya terdidik sebagai peserta didik. Yang terpenting adalah dari seorang peserta didik adalah niat dan kemauan dirinya untuk menguabah dirinya jadi lebih baik, bukan semata faktor motivasi dari luar dirinya walaupun tentu faktor eksteren terutama seorang pendidik menjadi salah satu faktor terpenting.

Anak didik adalah seorang anak manusia yang perlu dituntun dan di bina kearah kehidupan yang lebih baik dengan bantuan dari dalam maupun dari luar dirinya, peserta didik bukanlah seseorang yang tidak bisa apa – apa akan tetapi akan menjadi manusia yang luar biasa dengan arahan yang benar. Telah menjadi keawajiban bagi seorang pendidik untuk sepenuhnya memahami keinginan, potensi, kelebihan – kelebihan /potensi anak didik yang akan didik untuk diarahkan dan dikembangkan. Peserta didik harus dipandang sebagai manusia yang akan baik dengan proses pendidikan hingga membuatnya menjadi manusia yang manusiawi.
Anak didik bukan lah sebatas objek pendidikan tetapi anak didik juga bisa atau sekaligus menjadi objek dan subjek yang dimungkinkan active, kreatif, serta produktif buakan sebatas objek yang hanya bisa menerima masukan tanpa adanya out put,dan anak didik memiliki perkembangannya artinya dari sisi kemampuan anak didik dalam tingkatan pengetahuan, intelektual, emosi, bakat, minat peserta didik, baik dilihat dari sisi biologis, psikologis, maupun dedaktis.

Iklan

6 pemikiran pada “Pendidikan dan Anak Didik dalam Ranah Pendidikan Islam

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s