PRAKTEK PROSTITUSI PELA – PELA DI KAWASAN STASIUN TUA TANJUNG PRIUK (Selintas Cerita)

Para pengemudi  itu begitu serampangan memberhentikan bus – bus tua nya yang berasap tebal serta hitam pekat tepat di dipan para pedagang asongan dan para pejalan. Para pedagang lainnya menjajakan barang dagangan yang lebih sering mejual kebohongan dibandingkan ke halal-an barang dagangannya? Tukang gorengan masih saja sibuk merendam cireng – cireng ke dalam minyak panas, bekas menggoreng pisang, ubi, bakwan, tahu dari minyak yang telah di pakai berulang – kali. Sedangkan kenek – kenek masih saja ribut berebut penumpang. Pejalan kaki sama tak beresnya, berjalan gerasak gerusuk mencari mobil yang dapat melemparkan langkahnya pada tujuan.  Tiba – tiba segerombolan laki – laki bertato, bertampang sangar, bertubuh gempal, berdandan serampangan ala preman jalanan berdiri di tengah – tengah jalan dan menghentak keras tak jelas! mereka berhasil mencuri perhatian sebagian orang disini, dengan mata membelalak seolah siap melemparkan peluru – peluru panas ke siapa saja yang tak paham atau belaga gak ngerti tarohannya mati! Hanya dalam hitungan detik, beberapa orang menghampiri mereka dengan wajah pucat dan tubuh gemetar précis seperti ayam – ayam ketakutan sambil menyodorkan beberapa seribuan lecek. Lalu mereka yang hanya berani menjajah tertawa terbahak – bahak. Puas.

Keberanian ini, menancap dalam di hati! Menuruni metromini 24. Menapak di tempat ini dengan kaki berbalut sepatu warior tua yang tak berbentuk. Pandangan ini berpedar mencari – cari  yang masih juga samar! Mata ini melebar, di pagar itu terdapat tulisan sinis yang tercoret – coret pilok warna hitam “Terminal Tanjung Priuk Suka muak”. Sampai lah setelah perjalanan 30 menit dari daerah galur ke sini. Pikir ini sudah hampir meladak! Tak sabar! Tujuan nya bukanlah terminal ini tapi sebuah bangunan tua Belanda yang hampir tak terlihat karena ditutupi  kawanan orang – orang nongkrong sambil makan dan minum di warung – warung pinggir jalan yang se enaknya ngambil trotoar buat dagang. Rasa ingin tahu ini, memaksa menjejak langkah yang sempat goyah.  Luar binasa gedung ini! Nampak lapuk dan terbuang dari rawatan tapi masih tetap tegak terlihat! Setidaknya  di depan mata sahabatnya yang masih setia menjadi terminal yang kini telah tua di Tanjung priok. Mengitari bangunan ini, membuat hati bertanya – tanya akan sebab musabab ia terbuang?. Pintu itu jebol. Masih ada daun jendela di sana, menguping setiap masa yang mengusik Penghuninya!.

Matahari menggagahi diri.  Benerang terang menyinari alam tanpa kasihan. Membuat mereka juga diri ini lepek berpeluh keringat dengan aroma menyengat. Jam karet di tangan bergerak menyatu diangka 12 siang. Pas. Pantas. Panas.

Memasuki bangunan ini seperti berada dalam sebuah  museum tua yang besar. Suasana menghantu menyerebak disekeliling ruangan yang luasnya sekitar 26 ha. Dua tiga orang melemparkan tatapan garang dan liar! Entahlah apa yang mereka lakukan di pojok – pojok ruangan?. Bagian dalam bangunan ini lebih buruk dari luarnya seperti hati yang menyembunyikan kemunafikan. Pengap dan gelap sedikit redup karena jendela – jendela tak memberikan kesempatan cahaya untuk masuk. Hanya berani menyelinap. Langit – langitnya masih  kekar dengan ditopang tiang – tiang kuat yang tersusun apik di tiap sisi ruangan. Walau lecek marmer di lantai masih layak untuk di ijnak hanya sedikit bercak.  Sebagaimana layaknya stasiun lainnya, di tempat ini juga masih terdapat tempat penjalan tiket, peron, ruang kepala stasiun, dan ruang PPKA (Pengaturan Perjalanan Kereta Api). Berada di dalam Stasiun ini, membuat diri ini tak berhenti berdecak kagum.

Stasiun Tanjung Priok ini berdiri pada tahun 1820, mulai dioprasikan pertama kali pada tahun 1923 dan mulai ada listrik tahun 1925. Stasiun di utara Jakarta ini menjadi stasiun tertua di Indonesia serta termegah di Jakarta.  Sempat  vacuum selama kurang lebih 10 tahun akibat perubahan status dari PERUMKA menjadi PT. KAI (Persero) pada Juni 1999. Perubahan besar ini terjadi akibat masalah pendanaan yang memaksa PT.KAI menghentikan operasi pada stasiun ini”.[1]

Melangkahkan kaki, semakin jauh menyusur  ke ujung semakin mata ini terperajat. Selama 10 tahun tidak beroprasi, kondisi stasiun ini benar – benar memprihatikan. Kondisi bangunan tak terawat menjadi stasiun mati.  Rel kereta api hanya terhubung pada jalur buntu. Di pinggiran  sepanjang rel telah terbentuk kotak – kotak sepetak bangunan di atas bangunan. Kembali kaki ini melangkah menyusuri sebuah kota di dalam Stasiun Tua. Sepi. Hanya satu dua orang yang lalu lalang. Pintu – pintu tertutup rapat seakan ditinggal pergi sang penghuni. Sebuah perkampungan tua yang berusia 50 tahun bernama Pela – Pela. Singkatan dari pengulangan kata pelacur – pelacur. Lokalisasi termatsur di wilayah Jakarta bagian Utara.

Beberapa orang disini tengah lelap dalam mimpi. Seorang anak laki – laki yang kira – kira berusia 6 tahun tergeletak di lantai. Tidur. Pulas! . Wajah dan tubuhnya kumal, baju nya sangat kotor. Sebagiannya lagi memilih merebahkan dirinya di atas bale – bale yang hampir reot. Semoga keingintahuan ini tak mengusik mereka. Selanjutnya, masih berjalan di tanah becek ini. Masih di dalam komplek stasiun tua Tanjung Priok. Lebih tepatnya Lokalisasi Pela – Pela. Di dalam sebuah gang sempit. Diantara 2 rel. Mata ini masih berjalan! “Kawasan Bebas Kondom”  Kata – kata liar yang menjadi maskot di lingkungan sebuah stasiun. Berjejer gubuk – gubuk yang letaknya acak – acakan. Berhempitan. Jauh ke ujung sepanjang rel kereta api, sebut saja itu rumah! Masih berpetak disana. Sampai ke ujung nanti.

Waktu terus berjalan. Langkah ini terhenti, azan berkumandang memanggil  jiwa – jiwa kesepian yang merindu surga. Waktu nya sholat! Pikir sempat berkata “Nanti saja!” Karena yakinnya tak ada mesjid atau mushola. Di sini. Di tempat prostitusi. Tapi nyatanya seseorang yang mengaku ketua RT di wilayah ini, menunjukan sebuah Mushola kecil di pinggiran gang kecil  masuk ke dalam. Paling pojok. Ada Mushola At – Taubah di situ dan ada ketua RT?!. Konon dinamakan mushola At- Taubah karena harapan dari sebagian kecil orang – orang di situ para PSK  akan segera taubat!. Selain itu juga terdapat rumah ibadah lainnya. Yaitu Gereja.

Sampai Matahari membenamkan diri. Langit perlahan meredup lalu berubah menjadi gelap. Kesunyian pun berganti jadi hingar bingar music yang saling sahut – menyahut. Lampu – lampu berwarna warni dikegelapan malam. Satu – persatu lelaki datang!. Kupu – kupu pun berkeliaran. Seketika peron stasiun disulap seperti hotel melati. Stasiun beralih fungsi jadi tempat hiburan malam bagi laki – laki berhidung belang. Para wanita tuna susila mulai menjajakan diri. Membanting harga sampai ada kumbang yang tergoda. Kamar – kamar sepetak terisi punuh. Sesak. Sisa nya di pelataran dalam stasiun. PERAKTEK PROSTITUSI BERGELIAT DISTASIUN TUA TANJUNG PRIOK.

To Be Continuation………………… Mesti Farah

Iklan

2 pemikiran pada “PRAKTEK PROSTITUSI PELA – PELA DI KAWASAN STASIUN TUA TANJUNG PRIUK (Selintas Cerita)

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s