Cinta di Langit Jingga

Ketika jingga mulai tenggelam di langit luas tanpa batas, matahari mulai membenamkan  diri  diujung jagat barat. Burung – burung saling berlomba pulang berkicau riang karna tak sabar bercengkrama dengan sanak saudaranya. Bias jingga memantul pada lautan hingga menciptakan warna kemilauan emas yang indah dan menentramkan. Suasana sore di pantai kecil.

Jingga yang satu ini tak mudah untuk tenggelam, tak kan pudar atau menghilang, akan tegar lebih kekar dari karang yang terterpa badan – badan ombak besar. Terkadang putus asa menerpanya namun ia bertekat kuat tak seperti buih di lautan  walaupun pada akhirnya ke pantai juga.

Jingga berjalan cepat nyaris berlari, sambil menahan tangis yang tak ingin ia tumpahkan saat ini. Sangat sulit bagi dirinya untuk menerima orang yang sangat ia cintai dengan sangat tega menghianatinya padahal dia tau bahwa tak ada satu pun yang dimiliki Jingga kecuali Langit di dunia ini.  Semakin cepat Jingga berlari malah semakin bertekat kuat bagi Langit untuk mengejarnya. Langit tak pernah menyerah untuk mengejar cinta Jingga, dan gadis ayu bermata indah ini pun tak kan berhenti berlari walaupun lelah melandanya.

Awalnya Jingga selalu setia menanti langit di bibir pantai kecil yang mereka namakan Pantai cinta, Asmara melanda mereka berdua sebagai sepasang darah muda yang haus kisah cinta seindah dongeng tanpa derita. Mereka selalu berikrar setia di waktu matahari mulai tenggelam, dan langit mulai berganti malam. Langit selalu berbisik mesra di telinga Jingga bahwa hatinya hanya untuk satu Jingga karna hanya Jingga yang di miliki langit. Begitupun dengan Jingga yang merasa bernasib sama dengan Langit. Jingga adalah gadis lugu sebatang kara yang tinggal disebuah pulau kecil dekat kepulauan seribu yang beribu keindahan surga dunia ada di sana. Langit adalah warga pendatang yang terpesona oleh keindahan jingga di pantai  cinta. Maksudnya adalah warna jingga ketika matahari tenggelam di langit Barat pada sore hari yang permai.

Takdir mempertemukan mereka di tepi pantai saat sore yang dinanti Langit mulai datang, saat Jingga menanti ombak harapan yang akan mempertemukan dia dengan cinta sejatinya. Dan ketika matahari tenggelam, saat mereka mulai berdoa pada Sang Kuasa yang menguasai cinta, agar memberikan mereka cinta pada saat itu lah Langit terpikat oleh gadis kemayu yang bermain ceria di tepi pantai bersama ombak . Hati Langit langsung jatuh di hadapan Jingga dan tanpa malu memperkenalkan diri,

“Boleh kah aku berkenalan denganmu?” kata langit mantap dan menyodorkan tangannya untuk berkait, awalnya Jingga malu dan ragu dengan orang yang baru dikenalnya ini namun entah kenapa  Jingga dapat melihat  sinar mata laki – laki dihadapannya ini yang tak membawa niat buruk.

“Aku laki – laki yang sangat baik hati dan tak ada niatan untuk berbuat macam – macam pada dirimu di desa indah ini,!”

Spontan Jingga tertawa kecil melihat ke PD an laki – laki di hadapannya ini.

“ Kenapa ada yang lucu di wajahku? Aku merasa tidak sedang melawak. Aku hanya ingin berkenalan dengan mu!”  Langit mulai ragu niat baik nya di terima? tapi melihat senyum indah gadis di hadapannya ini Langit tak akan pernah menyesal sekalinya benar gadis ini tak ingin berkenalan dengannya. ‘Wajarlah’ Langit orang asing di sini siapapun pastinya bersikap waspada.

“Nama ku Jingga,” ucap Jingga saat itu,

Langit terlihat sangat senang mendengarnya,

“Jingga?Aku Langitnya!” Tukas Langit bermaksud sedikit bergurau tapi serius

“Maksudku nama ku Langit,  Aku suka Langit Jingga di pantai ini!” Melihat riak wajah Jingga yang tiba – tiba berubah,  Entah karena terlalu jujur atau keceplosan  Langit langsung merasa tak enak atas ucapannya tadi dan meralatnya cepat,

“Maksudku Jingga adalah nama yang indah, Seindah langit Jingga di Pantai ini. Eh,, mmmh…” Langit terlihat nervous, dia seakan sulit untuk berkata – kata.

“Kamu mau apa di pantai kecil ini?” Kali ini Jingga yang bertanya

Jingga adalah gadis polos yang ramah hingga langsung menjamu Langit sebagai tamu di desa ini,

“Aku sudah cukup sering ke pantai ini! Walaupun hanya pulau kecil tapi sudut pandang tempat ini sangat indah ketika  kita melihat sunset. Tapi aku baru pertama kali melihatmu?”

Jingga tersenyum membenarkan ucapan Langit yang mengatakan sunset di pantai ini sangat indah,

“Aku selalu ke pantai ini saat sore menjelang!”

“Ooh yach?!, tapi kenapa aku baru melihatmu sekarang?” dari kata – kata Langit seakan membesitkan sebuah penyesalan tentang pertemuan yang dirasanya terlambat ini.

“Aku tahu!” Jingga menatapnya, saat Langit berkata ‘tahu’ tiba – tiba

“Mungkin Tuhan memang mentakdirkan kita bertemu saat ini dan ini adalah waktu yang tepat. Soalnya aku selalu hampir datang terlambat setiap kali  menyaksikan matahari terbenam dari sudut yang sangat indah seperti sekarang! Dan aku sangat senang karena bisa datang tepat waktu dan dapat berkenalan denganmu sambil melihat sunset ini, pertemuan yang amat berkesan”.

‘gadis yang sangat indah seperti pantai ini’ bisik langit dalam hatinya

Dan mereka menghabiskan sore di tepi pantai, saat angin berhembus riang, saat ombak – ombak akhirnya ke pantai juga menghantarkan buih yang datang lalu hilang sekedar singgah namun meninggalkan makna dan hasrat untuk selalu kembali datang..

Itulah masa indah Jingga dan Langit saat mereka pertama kali bersua dan mengucap indah pada pantai Cinta. Dan untuk hari – hari setelah itu Langit selalu datang dan datang lagi beriringkan rindunya yang akan tertumpahkan di pantai cinta untuk Jingga. Jingga pun menyambut cinta Langit dan selalu menanti Langit untuk kembali datang ke pantai kecil ini, menemuinya. Semakin lama cinta diantara mereka tumbuh subur dengan  kisah – kisah  indah yanag hampir setiap hari mereka lalui bersama dan bersambung di bibir pantai saat ombak pulang dan matahari berganti wajah menjadi rembulan. Jalan cerita yang singkat di bawah langit jingga yang ramah, namun mereka saling menaruh yakin bahwa laut di pantai ini turut memberi restu pada kisah cinta yang terjalin diantara mereka.

Namun seakan waktu mempercepat semuanya, Pada waktu malam di tepi pantai, saat Jingga mulai kembali pulang dan langit mulai menapaki bukit – bukit terjal hatinya tentang siapa sebenarnya dirinya. Saat bukan lagi matahari yang ia lihat, hanya bulan di langit gelap pada malam hari yang dingin ini. Langit mulai dilanda bimbang dan dilemma berkepanjangan, mengulas kembali tujuan awal dirinya datang ke pantai terpecil yang kecil ini bersama seseorang yang selalu menemaninya di setiap saat dalam kehidupannya 5 tahun terakhir ini dan ingin menghabiskan sisa – sisa  hidupnya dengan dia?. Sudah di katakan sebelumnya bahwa Langit memiliki nasib yang sama dengan Jingga. Langit hanya tinggal sendiri di dunia ini tanpa orang tua dan sanak saudara  tapi  di kehidupan langit sebenarnya di Jakarta,  langit memiliki seseorang yang selalu menemaninya dalam keadaan bahagia dan  nestapa. dan Langit berjanji dalam hidupnya untuk dapat selalu bersama dia yang telah berkorban banyak untuk Langit. Dan Jingga pun mengetahui hal ini bahwa Langit mengajak Linggar untuk hidup bersamanya kelak, dan Jingga pun menyetujuinya. Linggar adalah pemuda yang baik seperti langit walaupun Linggar sedikit pendiam mungkin karena keterbatasnya tidak dapat berbicara. Tepat 6 tahun yang lalu Linggar menyelamatkan Langit dari sebuah kecelakaan ber-runtun. Langit menceritakan semuanya pada Jingga, bahwa pada saat pristiwa itu terjadi Langit tidak melihat ada mobil yang berjalan kencang ke arahnya akibat dari dorongan truk di belakang mobil itu yang ternyata rem nya blong. Pada saat itu, dengan cepat Linggar mendorong Langit yang tengah menyebrang di tengah jalan. Walhasil Linggar tidak dapat menyelamatkan dirinya dan tertabrak mobil itu yang  berakibat Linggar harus di bawa ke rumah sakit, untuk beberapa hari Linggar sempat koma dan setelah sembuh ia malah dinyatakan tidak bisa berbicara karna terjadi kerusakan pada tenggorokannya dan rusaknya pita suara Linggar akibat benturan keras pada saat kecelakaan. Itu menjadi pukulan yang sangat berat bagi Linggar dan Penyesalan yang dalam buat Langit yang telah diselamatkan nyawanya. Itu lah mengapa langit tak ingin meninggalakan Linggar.

Akan tetapi  lautan memang mudah untuk diselami  dan samudra pun dengan mudah untuk di sebrangi tapi tak kan semudah itu menyembunyikan lagi semuanya??!

Ketika itu. Jingga yakin,  Langit malam ini tengah sendiri menyepi seperti biasanya di tepi pantai, dan  jingga ingin meluapkan rindu nya pada pria yang pujaan hati. Jingga pun pergi ke pantai. Dan….

Secara  tiba – tiba seakan ada Tsunami di pantai itu, Jingga tersungkur bisu dan lemas tanpa kata. Terbawa arus yang sangat deras menghantam karang hingga hatinya hancur berkeping – keeping. Berantakan, dengan mata kepalanya Jingga melihat pemandangan yang membuat mata nya deras oleh air mata dan Jingga seolah amat menyesal melihat semua ini hingga ingin rasanya Jingga menutup mata. Di depannya,  Langit, laki – laki yang amat di kasihi nya dengan cinta yang tulus seperti ombak pada pantai malah berciuman dengan seseorang,  yang Langit  perkenalkan sebagai adik angakatnya.

“LANGIT….!!!” Teriak Jingga

Langit dan Linggar terhentak kaget melihat Jingga menyaksikan adegan itu. Ketika dengan mesra Langit mencumbu Linggar di pinggir pantai yang sepi.

“Jingga,,,!?” ujar Langit yang langsung mengejar Jingga.

Bumi seakan runtuh menghancurkan cinta Jingga hingga ingin rasanya Jingga memudarkan cinta nya pada Langit. Pertanyaan yang sangat ingin di lemparkan Jingga kepada Langit..

“Kenapa dirimu tega menghianatiku dengan cinta terlarang yang menghinakan?”  Jingga pedih. Matanya tak henti berlinang air mata, dadanya sangat sesak bahkan untuk sekedar bernafas. Batinnya luka berdarah – darah. Cinta yang ia agungkan karang oleh badai yang menggulung – gulung jiwanya.  Langit hanya tertunduk lesu dengan penyesalan yang dalam di hatinya, berbias di wajahnya  yang terlihat tanpa dosa, Langit tak menjawabnya.

“Apa yang kamu lakukan dengan dia? Sungguh menjijikan aku melihatnya? Kenapa kamu setega itu padaku dan serendah itu melakukan hal yang tak pantas!?!”.

“Jingga, aku akan menjelaskan semuanya!” Pinta Langit dengan iba. Tapi hati Jingga benar – benar luluh lantah, untuk berdiri saja rasanya sulit. Jingga seperti tak menapak di bumi, Air mata Jingga terus mengalir deras. Dengan mata sayu Langit mencoba menyentuh Jingga untuk sedikit memberikan kekuatan pada Jingga yang terlihat sangat lemah tergeletak di pasir tapi dengan sigap Jingga menepis tangan Langit.

“Jingga, melihatmu seperti ini aku sungguh hancur dan merasa semakin berdosa! Aku sungguh mencintaimu, tapi aku pun tak mampu untuk mengendaikan sisi lain dari diriku ini.! Jingga…”

“Kau sungguh – sungguh kejam Langit! Berani – beraninya kau berkata cinta pada ku,? nyatanya kau malah menghianatiku dengan dia,!”

“Aku benci… Aku benci dengan semua ini! Aku benci pada mu lagit!” rasanya jingga tak mampu lagi membendung rasa kecewanya sehingga Jingga dengan sekuat tenaga berteriak meluapkan semuanya..

Namun Langit memilih membisu, mendengarkan semua keluh derita gadis yang telah ia lukai  hatinya ini. Bahkan untuk sekedar kata  ‘maaf’ Langit merasa tak pantas untuk berucap karena Langit sadar perbuatannya tak pantas mendapatkan ampun dari Jingga. Langit pada malam itu seakan runtuh menimpa Jingga,  Pantai Jingga tak lagi indah. Kelam oleh hianat dan perbuatan hina. Langit bagai buih yang bukan lagi membasahi pantai malah hilang dan meninggalkan luka dan kepiluan pada pantai jingga yang tak lagi dilanda cinta malah nestapa yang tak kunjung reda….

 

“JINGGA…!!!”

“Ku mohon berhentilah..!!!” Dengan nafas ter engah – engah Langit terus mengejar Jingga.  Di pinggir pantai yang sunyi. Di kala laut membawa ombak ke  darat, dan pasir – pasir saling  berbisik. Saat angin timur berhembus menerpa rambut hitam Jingga yang terurai panjang. Jingga pun telah lelah tapi sudah Jingga bilang bahwa ia tak kan menyerah, bebas dari rasa sakit yang dahulu menerpa hingga hati nya rapuh menjadi debu.

“Kau yang berhenti! Berhentilah,,! Jangan lagi kau ganggu aku,! Belum cukupkah kau sakiti aku…!?” Teriak Jingga masih dengan pelariannya,

Langit pun tak kan menyerah! Langit semakin mempercepat langkahnya yang maju tanpa ragu, sampai akhirnya Langit berhasil menarik tangan Jingga, hingga Jingga tak bisa lari lagi dari Langit.

“Aku mohon!”

Jingga merontah sekuatnya, tapi  tetap kalah oleh kekuatan Langit sebagai laki – laki.

Sekali lagi Langit berkata memelas,

“Jingga. Sungguh, aku sangat – sangat berdosa kepadamu, tapi ku mohon beri aku sedikit saja kesempatan untuk berbicara kepada mu!? Hanya sebentar!?”

Bukannya Jingga tak ada tenaga lagi untuk kembali melepaskan diri dari ikatan kuat tangan Langit, tapi di hati yang terdalam, jiwanya tak bisa menampik rasa yang belum pamit untuk Langit.

Sesaat jingga dan Langit berpedar pandang, suara debur ombak menjadi latar soundtrack adegan mereka yang diam tanpa kata.

“Aku….” Ujar langit menggantung,

“Jingga, pertama kali aku melihat mu di pantai yang kita nama kan panti cinta ini, hati ku merasakan sesuatu yang luar biasa. Aku mengakui bahwa itu adalah cinta!”

“Jingga, aku yakin kau merasakan hal yang sama!”

“Jingga, aku mencintaimu…!” Ucap Langit,

“Langit! Kau benar – benar tega! Berani nya kau bilang cinta padaku tapi di sisi lain kau menghianatiku dengan seorang laki –laki!  Apa ini yang kau namakan cinta?!”Tukas  Jingga penuh amarah dan nada – nada kecewa.

“Jinggga, maafkan aku….!”

“Sekarang kau malah bilang maaf!? Sadarkah dirimu atas perbuatanmu itu!?”

“……..!”

“Yach! Itu adalah sisi lain dari diriku. Jujur ku katakan padamu bahwa Linggar adalah seseorang yang sangat berarti bagiku,“

“Itu berarti bahwa kau lebih memilihnya?”

“Langit, aku sungguh tak mempercayainya, benarkah ini adalah dirimu yang sebenarnya?”

“Inikah cinta Langit kepada Jingga!”

Langit hanya dapat berpandang penyesalan kepada Jingga.

Jingga tak ingin lagi berurai air mata, mungkin karna hatinya telah kering kerontang bagai ladang – ladang tak bertanam. Mendengar pengakuan Langit, hati Jingga sebenarnya tak kuat! Sakiiiit…!tapi Langit telah memutuskan jalan mana yang dilaluinya bukan bersama Jingga. Sedangkan gadis klimis ini hanya bisa menerima cinta nya karang oleh debur ombak dilautan.

Dan setelah peristiwa  itu, Jingga tak ingin lagi menjadi pantai, Walau ombak salalu datang dan lagi datang… Walau buih selalu singgah menitipkan pesan maaf dan penyesalan… namun Jingga tetap memilih mendekap sisa – sisa kepingan langit yang waktu itu runtuh menghacurkan harapan dan cintanya. Jingga tetaplah Jingga di peraduannya yang syahdu penuh kedamaian, menyandar pada matahari yang terbenam dan ke esokannya muncul lagi memberikan terang.

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s