Kampusku “STAI Publistik Thawalib”

Tahu dan mendengar namanya ‘Perguruan Tinggi Islam Thawalib’ sudah membuat darah rasanya bergolak dan dada serasa terbakar ditambah lagi jika membayangkan sebuah tempat menimbah ilmu yang pendirinya merupakan orang – orang ternama yang memiliki dedikasi tinggi kepada perkembangan ummat. Seperti M. Natsir, Prof. Zainal Abidin Ahmad, M. Yunan Nasution, Datuk Palimo Karyo, Sutan Masyur, H. Omar Bakri, Buya Sidi Bukhori Ibrahim dan masih banyak lagi tokoh ternama lainnya yang sungguh sebuah peluang besar bisa ikut serta mengenyam pendidikan di tempat tersebut. Pastinya banyak pengajaran berharga dan ilmu islam murni yang sesuai dengan Al – Qur’an dan Al – Hadits yang dapat dipelajari dari sebuah sekolah tinggi yang dimana tempat berkumpulnya orang – orang dengan karya – karya besarnya. Wajar saja bila pengharapan untuk dapat mememiliki berbagai wawasan dan keilmuan itu hadir di setiap orang – orang yang haus akan ilmu untuk dapat mengenyam pendidikan di sebuah perguruan tinggi yang dipimpin oleh orang – orang yang tidak diragukan lagi kemampuannya dalam segala bidang dan mendukung penuh kemajuan islam.
Kenyataannya “Perguruan Tinggi Agama Islam Publistik Thawalib Jakarta” Merupakan perpanjang tangan dari Perguruan Islam Thawalib Parabek Padang Panjang yang telah terkenal dengan kualitasnya sebagai salah satu perguruan tinggi islam terbaik pada masanya bahkan sampai saat ini, dimana dari tempat tersebut telah lahir lulusan – lulusan berkualitas yang tersebar se-antero nusa. Pantaslah dikatakan bahwa STAI Publistik Thawalib di Jakarta dapat disandingkan dengan yang ada di Padang Panjang. Hal ini bukan sekedar nama akan tetapi orang – orang di dalamnya yang mempunyai misi dan visi bersama mewujudkan mimpi mencetak kader – kader islam yang berkualitas.
Dengan misi dan visi yang sejalan antar perguruan tinggi “Thawalib” dimanapun berada tempatnya dapat dipastikan keduanya dapat berjalan bersama membentuk pemimpin – pemimpin bangsa, akan sama – sama istiqomah memperjuangkan kejayaan islam lewat dunia pendidikan.
Dengan adanya STAI Publistik Thawalib diharapkan mampu menyongsong dunia dengan pergerakan – pergerakan anak bangsa yang telah berhasil lulus dari tempat tersebut yang kemudian kembali menebar kebaikan dengan bekal ilmu yang telah diberi kampus islam tersebut. Apa yang telah ditinggalkan oleh para pendiri STAI Publistik Thawalib merupakan modal besar yang dapat menjadikan perguruan tinggi ini seharusnya jauh lebih baik.
Menyusuri sejarah panjang dari “Perguruan Tinggi Agama Islam Publistik Thawalib Jakarta” dimana pendiri dan pengurus besarnya merupakan orang – orang besar dengan pemikiran hebatnya. Dapat dipastikan pengelolahan system managemen pendidikannya baik pula. Para pendiri memiliki visi dan misi yang sejalan sehingga semua pengurus dapat berjalan beriringan dengan alasan yang sama mereka melakukan itu yaitu karena Allah, menyebarkan islam sebagai agama rahmatan lilalamin dan berdakwa lewat dunia pendidikan.
Dalam perkembangannya “Perguruan Tinggi Agama Islam Publistik Thawalib Jakarta” berjalan sebagai salah satu kampus islam yang cukup berpengaruh akan tetapi kini mengalami kemerosotan, jika dibandingkan dengan para pemimpin atau pengurus sebelumnya ada yang perlu dikritisi bersama, namun bukan hanya semata karena pendiri atau pemimpin sebelumnya merupakan orang – orang yang sudah tidak diragukan lagi pemikiran dan tindakkannya, bukankah para pengelolah sekarang adalah putra – putra terbaik bangsa juga. Hanya saja kembali pada tujuan dari dibangunnya “Perguruan Tinggi Agama Islam Publistik Thawalib Jakarta” ini dengan visi dan misi yang telah menjadi komitmen bersama pendiri sebelumnya, apakah hal serupa telah ditanamkan juga pada para pengelolah yang sekarang, saya yakin setiap pengurus memiliki cinta yang sama besar terhadap “Perguruan Tinggi Agama Islam Publistik Thawalib Jakarta” ini akan tetapi mereka masing – masing juga memiliki pemikiran atau cara sendiri – sendiri untuk kemajuan bersama kampus ini. Dan sangat disayangkan bila cara yang masing – masing tidak akan cukup kuat untuk membangun “Perguruan Tinggi Agama Islam Publistik Thawalib Jakarta” lebih baik dari sebelumnya dengan kepemimpian jauh sebelumnya.
Kita telah memiliki cinta yang cukup dan sama besar untuk kemajuan “Perguruan Tinggi Agama Islam Publistik Thawalib Jakarta” dan para pengelolah yang sekarang seharusnya lebih All OUT dalam pengelolah kampus ini dengan baik, bukan hanya sebatas pada apa yang diberikan merupakan sisa – sisa waktu yang dapat mereka sumbangkan, sisa – sisa pemikiran yang mereka bisa berikan pada kampus tua ini, kalau demikian adanya bukan kah sesuatu yang sia – sia karena pada akhirnya hasilnya pun akan setengah – setengah, setengah isi dan setengah kosong, dan begitu lah adanya. Saya sendiri masih sangat menyakini kemajuan “Perguruan Tinggi Agama Islam Publistik Thawalib Jakarta” berada di tonggak kepemimpinan para pengurus besar sekarang bahkan mungkin jauh lebih baik, akan tetapi mari kita semua merapikan barisan, meluruskan saff bahwa berjamaah dengan tujuan karena Allah akan jauh lebih baik ketimbang sikap dan ego sendiri – sendiri sekalipun kita punya cinta sama banyaknya.

Sebagian besar orang mungkin mengatakan zaman sekarang telah semakin maju dengan perkembangan tekhnologi ataupun pemikiran akan tetapi bagaimana dengan sisi – sisi keagamaan yang kini malah tengah terombang – ambing oleh gelombang besar pemikiran – pemikiran manusia yang sifatnya mudah tambal sulam dengan pemikiran yang baru karena yang lama dalam waktu singkat hilang dan tenggelam. Sesungguhnya ini merupakan masalah yang sangat besar jikalau tidak ditangani dengan baik, hal ini terjadi juga dikarenakan karena kader – kader islam yang malah terseret oleh isme – isme yang ada. Di tengah situasi – situasi inilah ada nya “Perguruan Tinggi Agama Islam Publistik Thawalib Jakarta” menjadi salah satu
penerang yang cahayanya diharapkan mampu menuntun kita kembali pada jalan kebenaran. Namun kita sekali lagi tidak bisa menampik bahwa Perguruan Islam yang ada sekarang memang dianggap tidak cukup menarik dikarenakan pemikiran banyak orang yang telah terpetakan dengan pemikiran ‘kapitalisme’ bahwa ilmu agama dinilai tidak dapat memberikan harapan untuk kebetuhan dunia, sehingga perguruan yang sekarang digandurungi adalah kampus – kampus yang menawarkan kemudahan kerja dengan keilmuan yang dianggap lebih dapat dijual dan menghasilkan uang. Situasi yang tercipta sekarang tidaklah situasi yang akan sama terus untuk kedepan, dengan usaha yang sungguh – sungguh dilakukan oleh orang – orang yang masih memiliki harapan akan kemajuan keilmuan islam pasti, tepatnya yakin bahwa setiap perguruan tinggi islam di Jakarta khususnya akan menjadi pilihan yang menjanjikan bagi setiap orang. Kita harus kembali menyamakan persepsi dan mengihidupkan kembali ilmu agama dengan lebih gencar menciptakan strategi – strategi yang tak kalah hebatnya dengan strategi pemasan yang dibuat oleh para pembisnis yang memperdagangkan dunia pendidikan.
Selain dari pihak kampus, saya sadari sebagai mahasiswi beserta mahasiswa lainnya harus lebih menujukan kecintaan terhadap STAI Publistik Thawalib dengan menjalankan tugas – tugas dan tanggung jawabnya dalam berbagai hal menyangkut proses belajar dan mengajar dalam kegiatan kampus. Walaupun rata – rata mahasiswa yang mengemban ilmu didalamnya juga memiliki kesibukan lain dengan bekerja sebagai kegiatan utamanya, akan tetapi komitment untuk tetap dapat menjalankan kegiatan belajar dibangku perkuliahan harus kembali dipertegas dengan dapat memberikan yang terbaik untuk kelancaran perkuliahan. Bukankah kita sama – sama ingin memberikan yang terbaik kepada kampus kita tercinta STAI Publistik Thawalib Jakarta, maka diperlukan kerja keras dan usaha bersama untuk kampus yang lebih baik.

Mesjid Sebagai Pusat Pemberdayaan Umat

Pada masa ini telah banyak kita jumpai mesjid sebagai rumah atau tempat ibadah, dari berbagai gaya dan arisitektur demi menunjang kenyaman dan ke-khusu-an dalam beribadah. Hampir di setiap wilayah kecematan terdapat sedikitnya 5 – 7 mesjid artinya hampir setiap 5 – 10 RW memiliki mesjid ini belum termasuk mushola. Mesjid tersebut dibangun bersama untuk kepunyaan bersama, sekalipun ia didirikan secara individual, tetapi ia adalah untuk tujuan kepunyaan kolektif :
Barang siapa yang mendirikan mesjid karena Allah, maka Allah akan membuatkannya rumah di surga (Muslim : 324)
Lanjutkan membaca

Guru

Guru adalah seseorang yang diserahi tugas dan tanggung jawab sebagai pendidik. Akan tetapi istilah ‘Guru’ pada masa sekarang ini sudah berada dalam sebuah pengartian yang luas dalam masyarakat. Setiap orang yang bisa atau memiliki kemampuan untuk memberikan suatu ilmu atau keahlian/kepandaian tertentu kepada seseorang atau pun sekelompok orang dapat disebut “guru”, contohnya; guru menjahit, guru tekwondo, guru silat atau bahkan guru mencopet. Pada dasarnya pekerjaan sebagai seorang guru adalah pekerjaan yang sangat mulia dan luhur, baik ditinjau dari sudut masyarakat dan negaraterlebih lagi dinilai dari sudut keagamaan. Guru memiliki jasa besar terhadap masyarakat dan negara karena tinggi atau rendahnya kualiatas masyarakat sebuah negara, maju atau mundurnya suatu masyarkat dan negara, sebagian besar tergantung kepada pendidikan dan pengajaran yang diberikan oleh guru – guru.
Lanjutkan membaca